Indah dan Menantang, Pesona Wisata Batu Lawang

MAJALENGKA,  PERHUTANI  (06/03/2018) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Majalengka memiliki destinasi wisata yang indah, eksotis dan sedang viral di dunia maya. Batu Lawang, obyek wisata yang masuk wilayah hutan Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Leuwimunding,  Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Ciwaringin, KPH Majalengka dan masuk wilayah administratif Desa Cupang, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon.

Batu Lawang adalah objek wisata yang menampilkan keindahan alam berupa tebing berbatu jenis batuan andesit yang kokoh dan tinggi menyerupai lawang (pintu). Objek wisata ini terdiri dari dua buah tebing yang disebut tebing Cupang dan tebing Lawang. Tebing Cupang memiliki ketinggian antara 23-30 meter dengan latar tebing mencapai 50 meter. Masyarakat sekitar mempercayai adanya mitos dan sering menyebutnya sebagai pintu gaib. Selain menyuguhkan pemandangan indah dan eksotis, Batu Lawang juga dijadikan destinasi wisata olah raga alam panjat tebing khususnya di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan dimana tebing ini memiliki 4 jalur pendakian.

Untuk menuju lokasi wana wisata Batu Lawang bisa ditempuh dari arah Cirebon menuju Prapatan Panjalin kemudian belok kiri ke arah Rajagaluh sejauh 1 km menuju desa Walahar dan desa Cupang sejauh 2 kilometer.

Dalam pengelolaannya, Perum Perhutani KPH Majalengka bekerjasama dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Bina Makmur dan pemerintah Desa Cupang. Kerjasama tersebut mampu meningkatkan indeks pembangunan manusia dalam memanfaatkan peluang usaha di tempat wisata dan menambahan pendapatan asli desa.

Administratur Perhutani KPH Majalengka, Beddi Taviffudin mengatakan akan berkomitmen untuk terus mengembangkan wisata khususnya Batu Lawang bersama LMDH dan Pemerintah Desa Cupang. Pengelolaan wisata Batu Lawang yang baik terbukti dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Perekonomian mereka terangkat dan kreatifitas mereka terasah. Dengan adanya obyek wisata Batu Lawang, secara tidak langsung hutan ikut terjaga. Air untuk konsumsi masyarakat dan pengairan lahan pertanian lancar mengalir, rumput untuk pakan ternak tumbuh subur, dan sistem tumpangsari di lahan Perhutani juga berjalan baik demi mendukung ketahanan pangan sesuai Nawacita. (Kom-PHT/Mjl/DTA)

Editor: Ywn

Copyright©2018