Perum Perhutani Dorong Produksi Biomassa

BUMNTRACK (22/8/2019) | Perum Perhutani tengah bersiap melakukan pengembangan bisnis tanaman biomassa. Gagasan ini muncul atas kesadaran bahwa kebutuhan energi dunia semakin meningkat seiring pertambahan penduduk dunia. Saat ini pemenuhan kebutuhan energi dunia masih mengandalkan bahan bakar fosil yang unrenewable dan cenderung tidak ramah lingkungan.

Sesuai dengan visi dan misi Perhutani yang menyasar aspek planet, profit dan people, pengembangan biomassa sejalan dengan semangat tersebut. Karenanya, saat ini Perhutani tengah menyiapkan penanaman pohon Kaliandra Merah dan Gamal seluas 120 ribu hektare sebagai bahan baku biomassa untuk rencana lima tahun ke depan.

Direktur Utama Perum Perhutani, Denaldy M Mauna mengungkapkan, potensi ekspor biomassa bisa menjadi pemasukan devisa negara yang sangat besar. “Pada tahun 2021 diharapkan sudah bisa menghasilkan devisa US$ 43 juta dan terus meningkat. Lalu pada tahun 2025 dapat menghasilkan devisa sebanyak 247 juta USD,” kata Denaldy di Jakarta, Selasa (9/7).

Di kawasan Asia Tenggara, Biomassa masih dipimpin oleh Vietnam. Namun begitu, beberapa negara lain seperti Korea telah berkomitmen untuk mengganti semua energi dengan biomassa karena ramah lingkungan. Sementara di Jepang, pemerintah memberikan insentif khusus kepada penjual listrik yang menggunakan biomassa.

Perhutani mengungkapkan, untuk biaya penanaman tanaman bahan baku pellet kayu yang digunakan sebagai biomassa dibutuhkan Rp. 6,5 juta untuk per hektarenya. Jadi untuk 120 hektare lahan yang ditanami bahan baku biomassa mencapai Rp7,8 miliar. Terkait pencapaian kinerja keuangan, Perum Perhutani optimist-is performance perusahaan tahun ini akan tumbuh. Pada 2018 lalu, perusahaan mencatatkan pertumbuhan signifikan dari nisi penjualan sebesar 21 persen, dari Rp3,62 triliun menjadi Rp4,38 triliun. Selain itu, laba bersih turut tumbuh sebesar 49 persen, yakni dari Rp437,67 miliar di 2017 menjadi Rp653,98 miliar pada 2018.

Sementara tahun ini, iklim politik dan cuaca memang sedikit menghambat produksi perusahaan. Namun, ditegaskan Denaldy, perusahaan akan mengejar pertumbuhan signifikan di semester II tahun ini untuk mencapai target. “Kami targetkan pertumbuhan tahun ini mencapai 8-9 persen dari tahun lalu,” ujarnya.

Hingga semester I 2019, perolehan target laba sudah mendekati 50%. Selain dari pendapatan GondorukemTerpentin, Kayu Jati, Eco Wisata, perusahaan juga mulai menjamah bisnis biomassa pada tahun ini sebagai sumber pendapatan baru.

Sebelumnya, perusahaan telah merintis biomassa dengan melakukan pilot project pada tahun 2013 silam di Semarang, Sukabumi, Kediri dan lainnya. Lahan seluas 2000 ha ditanami tanaman Gamal dan 3.800 ha ditanami Kaliandra Merah. “Bisnis proses bisa dipersingkat untuk bisa kompetitif, itu menurut saya yang mesti kami sentuh. Tahun ini bisa lebih baik, secara total ada gap antara antara supply dan demand biomassa hampir US$ 1.7 juta” ungkapnya.

Sumber :  BUMN Track

Tanggal : 22 Agustus 2019