Tangkuban Parahu Waspada, Perhutani Siagakan Polhut dan Polter

SINDONEWS.COM (5/8/2019) | Kondisi Gunung Tangkuban Parahu yang masih berstatus level II (waspada) membuat Perhutani KPH Bandung Utara menyiagakan polisi hutan (polhut) dan polisi teritorial (polter). Personel polhut dan polter itu disiagakan di beberapa titik vital, seperti di beberapa tempat wisata yang berada di kaki Gunung Tangkuban Parahu serta di dalam kawasan hutan.

“Gunung Tangkuban Parahu sempat normal dan dibuka, kami cukup lega karena kunjungan wisatawan ke objek wisata yang bekerja sama dengan Perhutani kembali ramai. Namun, karena levelnya naik lagi, maka kami meningkatkan personel polhut dan polter sebanyak 30 orang,” kata Administratur (Adm) Perhutani KPH Bandung Utara, Komarudin, Senin (5/8/2019).

Pihaknya masih berpegang teguh kepada rekomendasi pihak yang berkompeten, dalam hal ini Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bahwa jarak aman berada di luar radius 1,5 km dari Kawah Ratu. Sementara empat objek wisata yang berada di lahan Perhutani KPH Bandung Utara, seperti Orchid Forest, Wisata Hutan Pinus Pal 16, Terminal Wisata Grafika Cikole (TWGC), dan Cikole Jayagiri Resort, berjarak 4 km dari Kawah Ratu.

Keempat objek wisata tersebut, lanjut Komarudin, tetap beroperasi meskipun pengunjung tidak ramai seperti biasanya. Pihaknya pun memberikan edukasi kepada pengunjung mengingat kondisi saat ini sedikit berbeda dengan naiknya status Kawah Ratu, Gunung Tangkuban Parahu. Sementara jika bicara Sapta Pesona, kata dia, maka keamanan menjadi aspek nomor satu.

“Di sana kan ada aktivitas ekonomi dan kadang pengunjung tetap ingin datang. Makanya kami berikan edukasi, jika mereka mau masuk harus waspada kalau ada kemungkinan terburuk, mau dievakuasi dan tahu jalur evakuasinya kemana,” terangnya.

Disinggung mengenai adanya monyet yang turun dari Gunung Tangkuban Parahu, menurutnya, hal itu bisa jadi karena mereka mencari makan, meskipun bisa juga dimaknai lain. Artinya, bisa saja hewan yang memiliki insting lebih kuat dari manusia mencium atau merasakan adanya fenomena alam yang berbeda, sehingga memilih turun gunung. Namun, dia menilai, hal itu tidak bisa dijadikan indikator mutlak dan lebih baik tetap berpatokan kepada lembaga terkait.

“Sampai saat ini belum ada alat yang bisa memprediksi erupsi dan berapa besar dampaknya. Hanya bisa menduga berdasarkan data historis sebelumnya, termasuk aktivitas tidak lazim binatang meski itu tidak mutlak,” pungkasnya

Sumber : sindonews.com

Tanggal : 5 Agustus 2019