Rowo Bayu, Telaga yang Terletak di KRPH Perhutani Banyuwangi, Sambungrejo, Bayu, Songgon, Banyuwangi

TRIBUNNEWS.COM (1/9/2019) | Telaga Rowo Bayu merupakan sebuah telaga yang terletak di Banyuwangi. Rowo Bayu terletak di KRPH Perhutani Banyuwangi Barat, Dusun Sambungrejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi.

Rowo Bayu masih sangat asri dengan banyak tumbuhan yang tumbuh disekitarnya. Di sekitar Rowo Bayu terdapat sumber air dan petilasan Prabu Tawang Alun, maka tak salah jika lokasi ini dikeramatkan. Konon pada masa Prabu Tawang Alun memerintah Kerajaan Blambangan, Rowo Bayu menjadi tempat favoritnya untuk bermeditasi. Selain sebagai destinasi wisata alam, Rowo Bayu juga menjadi destinasi wisata spiritual.

Sejarah

Lokasi Rowo bayu juga dianggap merupakan cikal bakal terbentuknya Kabupaten Banyuwangi. Hari Jadi Banyuwangi terinspirasi dari perang terakhir warga Blambangan dengan penjajah atau perang ‘Puputan Bayu’. Pada saat itu, prajurit Balmbangan yang dipimpin oleh pangeran jagapati bertempur dengan tentara Belanda yang dipimpin oleh Van Schaar pada 18 Desember 1771. Untuk mengenang peristiwa tersebut, masyarakat setempat mengadakan ritual-ritual seperti syukuran, istighosah disekitar tempat Rawa Bayu Banyuwangi. 

Selain itu, Rowo Bayu juga dikenal sebagai tempat favorit Prabu Tawang Alun untuk bermeditasi. Prabu Tawang Alun merupakan Raja yang tersohor dalam sejarah pembentukan Banyuwangi. Diceritakan jika Prabu Tawang smengalami kesedihan berkepanjangan karena sang adik yang bernama Wiro Broto meninggal setelah melawan Prabu Tawang Alun. Wiro Broto saat itu merasa iri dengan Prabu Tawang Alun kakaknya dan melakukan penyerangan namun gagal. Kesedihan yang berkepanjangan membuat prabu Tawang Alun pergi dari kerajaan dan memilih untuk menenangkan hati dan bertapa di kaki bukit gunung Raung. Tepatnya diatas batu petilasan Prabu Tawang Alun yang masih ada hingga kini di Rowo Bayu. Menurut legenda yang diceritakan turun temurun, saat prabu Tawang Alun bertapa ada seekor macan sakti yang menemaninya hingga akhir hayatnya.

Daya tarik Rowo Bayu

Rowo Bayu memiliki keindahan alam yang masih asri karena ditumbuhi banyak pohon sehingga udaranya sanagt sejuk. Hal unik lainnya adalah rute yang mengelilingi tepian telaga yang diyakini menggambarkan watak seseorang yang melaluinya. Pedestrian tersebut sengaja dibuat untuk pengunjung yang ingin berjalan mengelilingi danau. Namun tidak sedikit pengunjung yang tidak menyelesaikan rute dari awal hingga akhir. Hal itu dianggap menunjukkan yang bersangkutan tidak memiliki nyali untuk menuntaskan perjalanan hidupnya. 

Di salah satu sudut di pinggir telaga Rowo bayu terdapat petilasan Prabu Tawang Alun ketika bersemedi merenungi kematian dua adiknya, yang berperang melawan dirinya. Disekitar lokasi petilasan Prabu Tawang Alun terdapat tiga sumber mata air yang mengalir menuju Rowo Bayu, yaitu Sumber Kaputren, Sumber Wigangga, dan Sumber Kamulyan.

Terdapat juga Candi Puncak Angklung macan Putih yang konon dulunya merupakan tempat prabu Tawang Alun bertemu dengan sosok macan putih. Tempat ini dipercaya sebagai tempat bersemayamnya leluhur yang menjaga wilayah Rawa Bayu Banyuwangi.

Operasional dan Akses Menuju Rowo Bayu

Rowo Bayu terletak sekitar 35 km dari pusat Kota Banyuwangi dan bisa ditempuh menggunakan kendaraan umum maupun pribadi. Dari jalan raya Jember-Banyuwangi bisa berhenti di Rogojampi, lalu meneruskan perjalanan kearah barat sekitar 7 km ke Kecamatan Songgon. Perajalanan kemudian dilanjutkan hingga ke Desa Bayu lokasi Rowo Bayu. Pengunjung tidak dikenakan biaya untuk memasuki area Rowo Bayu, tetapi pengunjung dianjurkan untuk selalu menjaga sikapnya selama di lokasi. Hal tersebut dikarenakan lokasi Rowo Bayu yang masih disakralkan oleh masyarakat sekitar meupaun masyarakat Banyuwangi pada umumnya.

 

Sumber : tribunnews.com

Tanggal : 31 Agustus 2019