Perhutani Genjot Kontribusi Segmen Bisnis Wisata

INVESTOR DAILY (10/10/2019) | Perum Perhutani berupaya menggenjot kontribusi segmen bisnis wisata terhadap pendapatan perusahaan, setidaknya menjadi 10% dari posisi 2016 yang hanya 2-3%. Saat ini, kontribusi pendapatan  Perhutani masih didominasi oleh bisnis nonkayu berupa gondorukem dan terpentin sebesar 49%, bisnis  kayu 40%, dan bisnis lainnya termasuk wisata sebesar 11%. Salah satu upaya yang dilakukan adalah  dengan melakukan rebranding wisata alam melalui Canopy.

Direktur Utama Perum Perhutani Denaldy M Mauna mengatakan, guna mengembangkan segmen bisnis wisata, sejak 2018 Perhutani melakukan rebranding untuk bisnis wisata dengan nama Canopy, sebuah  standar sistem pengelolaan wisata alam milik Perhutani. Terdapat tiga aspek dalam Canopy, yakni  produk, pengelolaan, dan pelayanan (3P), siapapun yang mengunjungi lokasi wisata Perhutani akan  merasakan 3P tersebut.

“Dari total 241 objek wisata yang kita kelola, baru enam yang sudah memenuhi  standar Canopy tersebut, kita akan terus genjot. Dengan upaya tersebut, saya berharap kontribusi wisata terhadap pendapatan Perhutani akan meningkat minimal 10% dari waktu saya pertama masuk  hanya 2-3%, pada 2018 sudah 4%,” kata Denaldy, belum lama ini.

Pada 2018, pendapatan Perhutani Group mencapai Rp 4,38 triliun atau naik 21% dari tahun sebelumnya  yang sebesar Rp 3,69 triliun, sedangkan asset perusahaan mencapai Rp 16,05 triliun  naik dari tahun  sebelumnya Rp 15,62 triliun, pada 2014 aset Perhutani hanya Rp 4,34 triliun. Sedangkan laba bersih  pada 2018 mencapai Rp 653,98 miliar atau naik 49% dari tahun sebelumnya Rp 437,67 miliar, pada 2016  laba bersih Perhutani minus Rp 357,32 miliar.

Denaldy mencontohkan, perusahaan BUMN kehutanan di Finlandia dan Swedia mampu memiliki  portofolio wisata yang sangat mendukung bisnis perusahaan. Kontribusi bisnis wisata mencapai 20-30%  terhadap total pendapatan BUMN kehutanan di kedua negara tersebut.

“Memang tidak mudah,  termasuk dalam menerapkan Canopy ini. Mereka (pengelola dan karyawan) harus ada pelatihan, misalnya dari aspek keamanan dan  kenyamanan pengunjung. Maintenance juga berat, tapi kami sudah  buktikan yang sudah dapat Canopy pendapatannya meningkat,” ungkap Denaldy. Selain menerapkan  Canopy, Perhutani juga berusaha untuk terus menambah destinasi wisata, saat ini sejumlah wisata alam  rintisan mulai dijajaki oleh Perhutani.

Pendanaan untuk menggenjot kontribusi pendapatan segmen bisnis wisata tersebut, kata Denaldy, bersumber dari belanja modal (capital expenditures/capex) perusahaan yang tahun ini mencapai Rp 900 miliar atau naik dari tahun lalu sebesar Rp 600 miliar. Sebanyak Rp 200 miliar dari capex tersebut  digunakan Perhutani untuk mengembangan tanaman biomassa dan pengembangan bisnis kayu lainnya.

“Untuk wisata, tanaman biomassa saja Rp 200 miliar, juga untuk pengembangan jati, juga kayu putih.  Kami diminta DPR untuk mengembangan bisnis tanaman kayu putih karena nilai impornya itu sampai Rp 1 triliun kalau dinominalkan,” kata dia kepada Investor Daily.

Dalam kesempatan itu, Denaldy juga berpendapat, guna menggenjot kontribusi sektor kehutanan  terhadap produk domestik bruto (PDB) maka sektor kehutanan nasional harus mulai masuk lebih dalam  ke industri hiliri. Indonesia bisa mencontoh Finlandia dan Swedia yang sektor kehutanannya memiliki  porsi cukup signifikan terhadap perekonomian.

“Perusahaan kehutanan kita harus intensif masuk ke  bisnis hilir. Untuk industri hilir kehutanan kita memang masih banyak pekerjaan rumah, umumnya perusahaan kehutanan kita hanya menjadi pemasok, harus ada insentif lebih bagi perusahaan yang  masuk ke bisnis hilir karena nilai tambahnya besar sekali,” kata dia.

 

Sumber : Investor Daily Hal. 7

Tanggal : 10 Oktober 2019