Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (KBKT) Perhutani Gundih

 

Penilaian keberadaan KBKT di wilayah KPH Gundih merupakan proses lanjutan dari kajian-kajian yang lainnya, diantaranya adalah Dokumen Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (DPPL), sosial, keamanan, kelestarian hasil dan finansial serta aspek lain-lainnya.

Penilaian keberadaan KBKT disini ditujukan untuk memenuhi standard FSC prinsip 9 kriteria 9.1, 9.2, 9.3 dan 9.4. Proses konsultasi masyarakat terkait dan verifikasi lapangan dengan identifikasi aspek sosial NKT 1, NKT 2, NKT 3, NKT 4, NKT 5, dan NKT 6 merupakan salah satu tahap kegiatan pengumpulan data sekunder. Selain pengumpulan data sekunder, pengumpulan data primer dilakukan dengan studi literatur dan pengumpulan data potensi sumber daya hutan. Sedangkan konsultasi dengan pakar dari The Forest Trush (TFT) dilakukan untuk memastikan ketepatan hasil identifikasi keberadaan KBKT oleh tim identifikasi dan saran penyempurnaan dokumen identifikasi dari pakar KBKT.

Berdasarkan hasil evaluasi keberadaan KBKT di wilayah hutan KPH Gundih ditemukan hutan dengan nilai-nilai konservasi tinggi NKT 1, berpotensi terdapat NKT 2, NKT 4, NKT 5 dan NKT 6. Nilai-nilai konservasi tinggi yang ditemukan di wilayah KPH GUNDIH tersebut adalah :

A. NILAI KEANEKARAGAMAN HAYATI
NKT 1. Kawasan yang Mempunyai Tingkat Keanekaragaman Hayati yang Penting

NKT 1.1 Kawasan yang mempunyai atau memberikan fungsi pendukung keanekaragaman hayati bagi kawasan lindung dan atau konservasi

Berdasarkan Surat Keputusan Mentri Kehutanan nomor 359/Menhut-II/2004 tanggal 1 Oktober 2004, Perubahan Keputusan Mentri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 435/KPTS-II/1999 Tanggal 15 Juni 1999 tentang penunjukan kawasan hutan di wilayah Propinsi Jawa Tengah, dalam lampiran peta SK dimaksud terlihat bahwa kawasanan hutan KPH Gundih seluruhnya merupakan kawasan produksi.

Berdasarkan penjelasan diatas, kawasan hutan KPH Gundih tidak mempunyai atau memberikan fungsi pendukung keanekaragaman hayati bagi kawasan lindung dan atau konservasi sehingga berdasarkan atribut NKT KPH Gundih tidak teridentifikasi NKT 1.1.

NKT 1.2. Species hampir punah

Hasil survey biodiversity yang telah dilakukan pada tahun 2010, untuk flora ditemukan sekitar 17 jenis flora yang tergolong kelompok pohon dan 9 jenis tumbuhan bawah. Sedangkan untuk fauna ditemukan 26 jenis burung/aves, 12 jenis mamalia dan 5 jenis herpetofauna. Dari jumlah tersebut tidak ditemukan species yang masuk kategori hampir punah/critically endangered (IUCN).

Berdasarkan hasil Survey Biodiversity, kawasan hutan KPH Gundih tidak memiliki species yang masuk kriteria hampir punah/Critically Endangered sehingga berdasarkan atribut NKT KPH Gundih tidak teridentifikasi NKT 1.2.

NKT 1.3. Kawasan yang merupakan habitat bagi populasi spesies yang terancam, penyebaran terbatas atau dilindungi yang mampu bertahan hidup.

• Jenis Flora : tidak diketemukan spesies endemis, langka, terancam dan hampir punah.
• Jenis Fauna :

– Ular Python (Python morolus)

Ular pyton mempunyai daerah sebaran yang lebih luas. Status perlindungannya yaitu dilindungi Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999, konvensi CITES masuk dalam Appendix II dan IUCN dengan kategori NT (Near threatened/mendekati terancam). Kawasan yang menjadi daerah habitat Ular Pyton adalah HAS Juworo.

– Merak Hijau (Pavo muticus )

Merak merupakan golongan aves yang semakin menurun populasinya dialam karena banyaknya perburuan liar mulai dari telur, anakan sampai dengan merak dewasa. Status perlindungannya yaitu dilindungi Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999, konvensi CITES masuk dalam Appendix II dan IUCN dengan kategori EN (Endangered/mendekati punah). Kawasan yang menjadi daerah habitat Merak Hijau adalah HAS Gundih dan HAS Kragilan.

– Kijang (Muntiacus muntjak)

Hasil survey biodiversity yang telah dilakukan pada bulan Oktober tahun 2010, habitat kijang di Hutan Alam Sekunder Juworo.

Dilindungi oleh oleh pemerintah melalui UU no. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam & Ekosistem, PP RI no 7 tahun 1999, CITES Apendik II, dan mempunyai nilai index yang tinggi. Kawasan yang menjadi daerah habitat Kijang adalah HAS Gundih dan HAS Kragilan.

Kawasan yang menjadi habitat bagi populasi spesies yang terancam, penyebaran terbatas atau dilindungi yang mampu bertahan hidup seperti habitat ular python, merak hijau dan kijang. Kawasan tersebut memiliki nilai NKT 1.3.

NKT 1.4. Kawasan yang merupakan habitat bagi spesies atau sekumpulan spesies yang digunakan secara temporer.

Dari hasil overlay data primer dan data sekunder di wilayah KPH Gundih tidak ditemukan keberadaan goa yang biasanya digunakan sebagai habitat kelelawar dan atau walet. Selain goa di wilayah hutan KPH Gundih tidak ditemukan habitat danau/rawa bagi habitat burung-burung air serta habitat padang rumput sepanjang tepian sungai yang digunakan sebagai habitat buaya untuk bertelur. Disamping itu dari studi literatur dari dokumen International Bird Area (IBA) dan Endemic Bird Area (EBA), kawasan hutan KPH Gundih tidak tercantum didalam 2 dokumen tersebut.

Dapat disimpulkan dari penjelasan diatas bahwa KPH Gundih tidak memiliki kawasan yang merupakan habitat bagi spesies atau sekumpulan spesies yang digunakan secara temporer tidak masuk. Dari atribut KBKT, di KPH Gundih tidak ada NKT 1.4.

NKT 2. Kawasan Bentang Alam yang Penting bagi Dinamika Ekologi Secara Alami.

NKT 2.1. Kawasan bentang alam yang memiliki kapasitas untuk menjaga proses dan dinamika ekologi.

Mempertimbangkan (1) proporsi luas KPH Gundih terhadap luas wilayah fisiografis dataran dan kaki bukit utara sangat kecil 1,49% dan (2) kawasan hutan KPH-KPH Perum Perhutani yang berada pada wilayah fisiografis sama yang dikelola dengan tujuan pengelolaan yang sama tidak mengalami gradasi hutan dalam bentuk alih fungsi lahan. (3) Kawasan hutan KPH Gundih telah terfragmentasi dengan adanya jalan raya dan tanah enclave.
Berdasarkan atribut KBKT, NKT 2.1. Kawasan bentang alam yang memiliki kapasitas untuk menjaga proses dan dinamika ekologi tidak miliki KPH Gundih.

NKT 2.2 Kawasan bentang alam yang berisi dua atau lebih ekosistem dengan garis batas yang tidak terputus (berkesinambungan)

Sebagian besar hutan yang dikelola oleh KPH Gundih merupakan tipe hutan dataran rendah non karst dengan ketinggian tertinggi berada di petak 54 Bagian Hutan Sulur BKPH Segorogunung yaitu 280 m dari permukaan laut. Sehingga dengan ketinggian tersebut menurut klasifikasi ekosistem secara vertikal (perbedaan ketinggian), ketinggiannya masih kurang dari 1.000 m sehingga belum terdapar perbedaan ekosistem lowland forest dan ekosistem montane.

Berdasarkan hasil kajian identifikasi flora, vegetasi hutan yang dikelola hampir seluruhnya merupakan hutan tanaman dan bukan hutan alami sehingga keanekaragaman disemua kawasan hutan KPH Gundih hampir seragam, tidak terdapat perbedaan yang signifikan.

Berdasarkan atribut KBKT, kawasan hutan KPH Gundih tidak memiliki bentang alam yang berisi dua atau lebih ekosistem dengan garis batas yang tidak terputus (berkesinambungan), sehingga NKT 2.2. tidak dimiliki di KPH Gundih.

NKT 2.3. Kawasan yang mengandung populasi dari perwakilan spesies alami.

Kawasan hutan KPH Gundih berpotensi memiliki populasi dari perwakilan spesies alami. Masih harus lebih mendalam medote pengumpulan datanya. Karena spesies yang memenuhi atribut sebagai NKT 2.3. adalah spesies payung yang dipilih dari jenis-jenis satwa RTE (langka, terancam dan hampir punah) sebagai kanditatnya. Dari jenis satwa RTE tersebut yang memiliki nilai Umbrella Indeks yang tertinggi tiap golongan akan menjadi spesies alami yang memenuhi atribut NKT 2.3.

Berdasarkan atribut KBKT, kawasan hutan KPH Gundih berpotensi memiliki kawasan yang mengandung populasi dari perwakilan spesies alami. Dengan kata lain KPH Gundih berpotensi memiliki nilai NKT 2.3.
NKT 3. Kawasan yang mempunyai ekosistem langka atau terancam punah

Ketinggian kawasan hutan KPH Gundih berada pada sebaran ketinggian di bawah 280 m dpl. Berdasarkan RPKH jangka 2011-2020, ekosistem kawasan hutan KPH Gundih dengan luas keseluruhan 30.049,5 Ha termasuk kedalam ekosistem hutan dataran rendah.

Areal-areal ini semuanya dikelola dengan sistem silvikultur yang sama oleh Perum Perhutani. Hutan-hutan yang berada di dalamnya dikelola secara intensif oleh Perum Perhutani. Demikian juga yang terjadi di wilayah-wilayah hutan dataran rendah KPH-KPH Perum Perhutani lainnya di seluruh Jawa. Silvikultur pengelolaan tanaman diterapkan secara intensif, tanaman utamanya jenis jati dan tingkat penebangan sangat kecil ditinjau dari proporsi luasan lahan. Gradasi dalam bentuk peralihan fungsi lahan tidak terjadi di wilayah-wilayah ini, bila terjadi tanah kosong karena satu atau lebih sebab maka pihak Perum Perhutani akan segera melakukan rehabilitasi/reboisasi. Kecenderungan waktu kedepan juga sangat jelas, bahwa hutan-hutan dataran rendah tersebut status peruntukan lahannya jelas dan akan masih tetap dikelola dengan kelas perusahaan jati dengan sistem silvikultur yang sama. Hutan-hutan jati disini akan tetap membentuk mozaik tanaman jati mulai KU I hingga KU VIII atau lebih.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas maka ekosistem hutan dataran rendah dengan kelas perusahaan jati tidak termasuk ekosistem yang langka, terancam atau hampir punah atau dengan kata lain di wilayah KPH Gundih tidak memiliki kategori NKT3.

B. JASA LINGKUNGAN
NKT 4. Kawasan Yang Menyediakan Jasa-Jasa Lingkungan Alam
NKT 4.1. Kawasan atau ekosistem yang penting sebagai penyedia air dan pengendalian banjir bagi masyarakat hilir.

Di dalam kawasan hutan KPH Gundih, banyak terdapat mata air yang digunakan oleh masyarakat sebagai sumber air bersih, pengairan sawah dan untuk keperluan mandi-cuci. Luas kawasan mata air adalah 13,9 ha terdapat 11 mata air dan 10 mata air diantaranya menjadi wilayah kritis sebagai penyedia air baik musim hujan maupun kemarau untuk keperluan masyarakat sekitarnya. Ke sepuluh mata air itu adalah : Sendang Coyo, Sendang Pucung, Sendang Kliling, Sendang Dawang, Sendang Genengsari, Sendang Bloran, Sendang Kepoh, Sendang Bandulan, Sendang Sambeng dan Senang Noto.

Selain mata air untuk pengendali banjir bagi masyarakat hilir, di KPH Gundih teridentifikasi kawasan perlindungan setempat sempadan sungai seluas 760,9 ha tersebar di seluruh wilayah KPH Gundih dan kawasan perlindungan setempat sempadan waduk seluas 222,3 ha tersebar di BKPH Dalen, Juworo, Kragilan dan Kuncen.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas maka wilayah KPH Gundih memiliki wilayah kritis sebagai penyedia air dan pengendalian banjir bagi masyarakat hilir, dengan kata lain dalam wilayah KPH Gundih teridentifikasi memiliki atribut NKT 4.1.

NKT. 4.2. Kawasan yang penting bagi pengendalian erosi dan sedimentasi

Dari data RPKH Jangka Tahun 2011-2020 KPH Gundih, diketahui bahwa KPH Gundih memiliki areal dengan kelerengan > 45%, dengan konfigurasi lapangan umumnya landai, bergelombang hingga berbukit.
Seluruh wilayah KPH Gundih tertutup oleh vegetasi secara baik sesuai dengan kelas perusahaan yang ditetapkan oleh Biro Perencanaan. Berdasarkan pertimbangan luas wilayah yang memiliki kelerengen > 45 % berdasarkan perhitungan kelas lereng sebesar 0,04 % maka wilayah KPH Gundih tidak potensial menimbulkan erosi.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas maka wilayah KPH Gundih tidak memiliki kawasan yang penting bagi pengendalian erosi dan sedimentasi, dengan kata lain atribut NKT 4.2 tidak ada di KPH Gundih.

NKT. 4.3. Kawasan yang berfungsi sebagai sekat alam untuk mencegah meluasnya kebakaran hutan atau lahan

Secara umum pada musim kemarau di wilayah KPH Gundih selalu terjadi kebakaran hutan dalam jumlah kecil, itupun yang terbakar adalah bagian lantai hutan dan tidak mematikan tanaman jati yang ada. Serasah di atas tanah berupa daun lebar dan cabang-cabang yang jatuh membusuk perlahan-lahan dan menghambat kehidupan tumbuhan lain, tetapi dapat membentuk serasah yang mudah sekali terbakar. Jika ada api merambat, pohon-pohon jati tetap tidak terbakar tetapi tumbuhan bawah terbakar (Whitten T. Et all 1999). Pada saat musim hujan tumbuan bawah yang terbakar akan tumbuh kembali.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas maka wilayah KPH Gundih tidak memiliki kawasan yang berfungsi sebagai sekat alam untuk mencegah meluasnya kebakaran hutan atau lahan sesuai atribut NKT 4.3

NILAI SOSIAL DAN BUDAYA
NKT 5. Kawasan yang mempunyai fungsi penting untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat lokal

Keberadaan masyarakat yang tinggal disekitar hutan KPH Gundih telah berlangsung sebelum pengelolaan hutan dilakukan. Ada ketergantungan masyarakat terhadap kawasan hutan KPH Gundih. Masyarakat medapat mafaat dari hutan dalam bentuk kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

– Pola Tanam Tumpangsari

adalah sistem pengelolaan lahan paska tebang di wilayah yang memiliki bonita di atas 3. Rentang bonita di atas 3 memiliki kesuburan yang tinggi, baik untuk tanaman jati dan tanaman pertanian. Diatur melalui kontrak lahan selama 2 tahun dan rata-rata mengolah lahan seluas 0,25 Ha/Org. Kegiatan ini penting terutama bagi pemenuhan kebutuhan pangan (karbohidrat) dan penguatan daya dukung pangan bagi kehidupan sekitar hutan.

– Hijauan Makan Ternak (HMT)

Masyarakat desa hutan bisa mendapatkan hijauan pakan ternak dari dalam kawasan hutan KPH Gundih untuk memenuhi pakan ternaknya. Jenis ternak masyarakat desa sekitar hutan KPH Gundih sebagian besar memelihara hewan ternak sapi dan kambing/domba. Jenis hijauan makan ternak yang biasanya dijadikan pakan ternak oleh masyarakat desa hutan antara lain adalah kemlanding, rumput gajah, wangon, wedusan, rumput lamuran, rumput blembem, dauan alang-alang muda dan rawatan.

– Pemenuhan Bahan Bakar/Kayu Bakar

Kayu bakar merupakan bahan bakar utama dalam kegiatan rumah tangga bagi masyarakat desa sekitar hutan. Hal tersebut dikarenakan lokasi sumber kayu bakar relatif dekat dan murah. Masyarakat desa hutan dapat memenuhi kebutuhan tersebut dari kawasan hutan kegiatan perencekan dengan syarat bukan pohon/batang yang ditebang, melainkan mengambil dahan dan atau ranting kering yang telah jatuh di tanah.
Dari program-program yang diterapkan oleh Perum Perhutani KPH Gundih, masyarakat banyak mendapatkan manfaat dari sistem pengelolaan hutan, memenuhi kebutuhan dasarnya. Berdasarkan dari kajian-kajian ini maka areal Perum Perhutani KPH Gundih teridentifikasi KBKT yang masuk dalam atribut NKT 5.

NKT 6. Kawasan yang mempunyai pungsi penting untuk identitas budaya tradisional komunitas lokal

Beberapa situs yang berada di KPH Gundih, sudah digunakan masyarakat umum dan bukan menjadi milik khusus masyarakat adat.

Situs-situs yang termasuk dalam NKT 6, dengan nilai relegi dan budaya masyarakat : Makam Mbah Gabus luas 5,80 Ha di Petak 21e RPH Cayi BKPH Panunggal, Makam Syech Jufri luas 1,00 Ha di Petak 8 G RPH Sengot BKPH Jambon dan Tapan Cindelaras luas 33,40 Ha di Petak 87 Rph Ngroto BKPH Gundih.

Bagi Masyarakat yang mempunyai saran, Masukan dan keluhan atas pengelolaan hutan yang dilakukan pihak Perum Perhutani KPH Gundih bisa langsung melalui :

  1. Surat dan dikirimkan ke alamat : PERUM PERHUTANI KPH GUNDIH, Jln. Jenderal Sudirman No 72, Gundih, 58172, Telpon (0292) 551075.
  2. Email dengan alamat email : kph.gundih@yahoo.co.id
  3. Faks dengan Nomor (0292) 551077
  4. Website : http://perhutani.co.id/kph-gundih/

Blangko Tanggapan Untuk Konsultasi Publik dapat di download DISINI :
1. Blangko Tanggapan Identifikasi HCVF : Download
2. Blangko Tanggapan Pengelolaan HCVF : Download

Atau saran dan masukan dengan memberikan komentar dibawah posting konsultasi publik ini