Pengelolaan Lingkungan

Pengelolaan lingkungan fisik kimia tanah dilakukan untuk menanggulangi dampak berupa peningkatan laju erosi dan perubahan tingkat kesuburan tanah. Kegiatan pengelolaan lingkungan yang telah dilakukan untuk menanggulangi dampak peningkatan laju erosi adalah pembuatan teras gulud pada lokasi tumpang sari , penanaman tanaman konservasi tanah dan air sebagai tanaman tepi, sela dan pengisi seperti kemlanding, nyamplung dan kesambi pada lokasi tanaman, rehabilitasi lahan kosong di lokasi Tanah Kosong (TK) dan Tanaman Jati Bertumbuhan Kurang (TJBK), pengkayaan pada kawasan HAS dan KPS dengan jenis rimba campur seperti Mengkudu, Jambu Klampok, Salam, Kepoh, Weru, Kluwih, Joho, Asem, Trembesi, Trengguli, Klumpit, Trasekan dan Asem Londo, babat tumbuhan bawah dengan sistem jalur pada lokasi tanaman dan pada lokasi pemeliharaan, dangir dengan sistem piringan pada lokasi pemeliharaan.

Selain kegiatan pengelolaan di atas juga telah dilakukan penerapan Reduced Impact Timber Harvesting (RITH) pada lokasi pemanenan/tebangan meliputi tebang A2, tebang B dan tebang E. Pembuatan talud pada badan jalan, perbaikan talud dan Jembatan batokan, pemeliharaan selokan  pada alur/jalan, penanganan penggarapan pada seluruh kawasan perlindungan, penyuluhan/sosialisasi mengenai kawasan perlindungan pada setiap BKPH serta patroli rutin diseluruh kawasan Perum Perhutani KPH Cepu.

Daftar Lokasi Station Pemantauan Lingkungan  (SPL)  Erosi

KPH-Cepu---Tabel-31-png

Daftar Lokasi Station Pemantauan Lingkungan (SPL)  Debit – Sedimentasi

KPH-Cepu---Tabel-32-png

Identifikasi Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi  (KBKT)

Penilaian keberadaan KBKT di wilayah KPH Cepu merupakan proses lanjutan dari kajian-kajian yang lainnya, diantaranya adalah kajian lingkungan (UKL dan UPL), sosial, keamanan, kelestarian hasil dan finansial, serta aspek lain-lainnya.

Penilaian keberadaan KBKT disini ditujukan untuk memenuhi standard FSC prinsip 9 kriteria 9.1, 9.2, 9.3 dan 9.4. Proses konsultasi dengan masyarakat terkait dengan identifikasi aspek sosial NKT 4, NKT 5, dan NKT 6 disajikan dalam lampiran laporan ini sebagai hasil kegiatan PCP (Participatory Conservation Planning). Sedangkan konsultasi aspek ekologi kepada TFT dan BKSDA dilakukan untuk identifikasi NKT 1, NKT 2, NKT 3 dan NKT 4. Kegiatan pengelolaan KBKT yang teridentifikasi disajikan dalam lampiran laporan ini sebagai hasil proses kegiatan SCP (Site Conservation Planning) yang sekaligus merupakan kegiatan full assessment terhadap aspek-aspek ekologi.

Penilaian keberadaan KBKT di KPH Cepu dilakukan oleh Perum Perhutani, Tropical Forest Trust, Masyarakat Desa Hutan dan BKSDA. Metoda yang digunakan adalah Proforest Toolkit,  Konsultasi dengan Masyarakat Desa Hutan menggunakan PCP (Participatory Conservation Planning); konsultasi bidang ekologi sekaligus full assessment aspek ekologi melalui proses SCP (Site Conservation Planning) untuk menyusun strategi dan monitoring pengelolaan KBKT.  Tim yang dibentuk memiliki keahlian ekologi dan sosial, dan dalam bekerja dibagi menjadi 2 kelompok tim yang akan menangani kajian NKT1–4 untuk kelompok tim ekologi dan menangani kajian NKT 4-6 untuk kelompok tim sosial. Tim mulai melakukan kegiatan analisis dokumen dan assessment lapangan sejak Agustus 2008 hingga proses SCP selesai.

Berdasarkan hasil evaluasi keberadaan KBKT di wilayah hutan KPH Cepu ditemukan hutan dengan nilai-nilai konservasi tinggi NKT 1, NKT 3, NKT 4, NKT 5 dan NKT 6.   

Ringkasan Keberadaan KBKT

KPH-Cepu---Tabel-33-png

Total kawasan yang teridentifikasi sebagai NKT 6.2. di KPH Cepu adalah 3,36 Ha.

Berdasarkan hasil identifikasi keberadaan KBKT dalam proses sebelumnya yang dilanjutkan dengan kegiatan full assessment untuk pengelolaannya melalui proses SCP, maka disusun strategi pengelolaan dan monitoring KBKT dengan fokus pada target-target konservasi sebagai berikut :

Target Konservasi

Tiga strategi umum yang digunakan dalam pengelolaan target-target konservasi adalah :

(1) Konservasi murni, berarti pada kawasan konservasi tersebut hanya untuk peruntukan perlindungan tanpa ada aktivitas lain selain pengelolaan kawasan konservasi. Hal ini dimaksudkan agar nilai-nilai konservasi tinggi yang ada pada kawasan tersebut tetap dapat dijaga, atau bahkan ditingkatkan kualitasnya.

(2) Modifikasi atau Pengelolaan Terbatas,  terhadap kawasan konservasi berarti dalam mengelola kawasan tersebut masih diperkenankan untuk melakukan pengelolaan hutan, hanya saja dengan methoda yang ramah terhadap lingkungan dan sangat terbatas dengan pengawasan yang sangat ketat.  Dimana tujuan utama dalam modifikasi pengelolaan ini adalah nilai-nilai konservasi tinggi tetap dapat dijaga dan bahkan ditingkatkan kualitasnya.

(3) Restorasi,  adalah aktivitas pemulihan kembali kawasan konservasi dari segala stress yang dialami oleh kawasan tersebut.  Ekologi pemulihan lingkungan (ecological restoration) dapat didefinisikan sebagai proses yang secara sengaja mengubah (keadaan lingkungan) suatu lokasi guna menetapkan suatu ekosistem yang bersifat tertentu, asli, dan bersejarah.  Tujuan dari proses ini adalah untuk mengembalikan struktur, fungsi keanekaragaman dan dinamika suatu ekosistem.

Target Konservasi Mata Air

Mata air – mata air yang berada di kawasan KPH Cepu memasok kebutuhan air bagi seluruh masyarakat yang tinggal di wilayah ini.  Terdapat 9 mata air yang digunakakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.  Kebutuhan pokok akan air baik untuk keperluan air minum, memasak, MCK, serta kebutuhan mandi dan minum ternak peliharaan mereka dipenuhi dari mata air-mata air ini.  Dari beberapa mata air dipasang pipa-pipa untuk disalurkan ke tempat-tempat penampungan air. Dari tempat-tempat penampungan air ini selanjutnya masyarakat memanfaatkan air untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.  Perlindungan secara vegetatif terhadap lokasi mata air dalam radius 100 m menjadi target konservasi wilayah ini, disamping program perlindungan dan perbaikan hutan di wilayah tangkapan DAS Bengawan Solo dan DAS Serang tempat dimana mata air ini berada.  Hutan dengan fungsi seperti ini memiliki nilai konservasi tinggi atribut NKT 4.1, dimana masyarakat tidak memiliki sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bila mata air ini rusak.

Target Konservasi Celepuk Jawa (Otus angelinae)

Berdasarkan hasil survey biodiversity bulan Maret-April 2008, celepuk jawa (Otus angelinae) ditemukan pada habitat sempadan mata air-tepi jurang dan Cagar Alam Cabak. Rentan (Collar dkk. 1994). Diketahui dari berbagai tempat di Jawa tercatat dari Gunung Salak, Gunung Pangrangau, Gunung Tangkuban Prahu, Gunung Ciremai dan dataran tinggi Ijen. Sangat sedikit catatan lapangan, akan tetapi karena menggunakan jala kabut, diperoleh kesan bahwa ini tidak terlalu jarang tetapi sering terlewat. Spesies merupakan spesies endemik Jawa, termasuk dalam atribut NKT 1.3. selain itu Celepuk Jawa juga termasuk salah satu jenis satwa yang terdaftar dalam Appendix I dokumen CITES, yaitu satwa yang tidak boleh perdagangankan secara bebas. Satwa yang teridentifikasi statusnya sebagai Appendix I dalam atribut KBKT termasuk  dalam NKT 1.3.

Target Konservasi Biawak (Varanus salvator)

Merupakan  jenis kadal terbesar di dunia dari suku biawak-biawakan (Varanidae) dengan panjang tubuhnya (moncong hingga ujung ekor) umumnya sekitar  ± 1 – 2,5 m yang biasa hidup di darat dan di air, sebelum mengawini betinanya, biawak jantan biasanya berkelahilebih dulu untuk memperlihatkan penguasaannya, pertarungan biawak dilakukan sambil “berdiri” yaitu kedua biawak saling pukul atau saling tolak sambil berdiri pada kaki belakangnya sehingga tampak seperti menari bersama dan berkembangbiak dengan bertelur.

Biawak (Varanus salvator) adalah spesies inters di KPH Cepu. Spesies interes adalah spesies yang memiliki peranan ekosistem tertinggi, sehingga dengan melindungi spesise interest diharapkan spesies lain otomatis akan ikut terlindungi. Spesies interest merupakan atribut KBKT termasuk dalam NKT 2.3.

Target Konservasi Macan Tutul (Panthera pardus)

Berdasarkan hasil survey biodiversity bulan Maret-April 2008, macan tutul ditemukan pada habitat Cagar Alam Cabak. Macan Tutul merupakan satwa yang hidupnya soliter dan sebagai top predator dalam rantai makanan. Macan Tutul merupakan pengendali populasi satwa dibawahnya. Tingkat regenarsi macan tutul sangat lambat, sehingga keberadaan macan tutul sangat penting untuk dilindungi.  Dalam dokumen CITES macan tutul masuk dalam status Appendix I. Satwa yang teridentifikasi statusnya sebagai Appendix I dalam atribut KBKT termasuk  dalam NKT 1.3.

Di KPH Cepu macan tutul ditetapkan sebagai spesies interest. Spesies interes adalah spesies yang memiliki peranan ekosistem tertinggi, sehingga dengan melindungi spesise interest diharapkan spesies lain otomatis akan ikut terlindungi. Spesies interest merupakan atribut KBKT termasuk dalam NKT 2.3.

Target Konservasi Kucing Kuwuk (Prionailurus bengalensis)

Kucing kuwuk sebagai jenis mamalia carnivora yang ada di kawasan hutan alam sekunder (HAS) Trobali dan HAS Sekaran, yang menjadi salah satu Predator Species selain jenis satwa predator/pemangsa lainnya seperti burung Elang ular dan Elang hitam yang juga ada di HAS Trobali dan HAS Sekaran, dimana jenis kucing kuwuk ini tergolong kedalam Appendix I (CITES) yang berarti satwa ini dilarang keras untuk diperdagangkan dengan alasan apapun. Hal tersebut menjadikan kucing kuwuk sebagai salah satu target konservasi penting di kawasan hutan HAS Trobali dan HAS Sekaran dan merupakan NKT1.3. Meskipun termasuk jenis satwa yang umum ditemui di habitat hutan Asia dan mudah beradaptasi pada beberapa perubahan habitat, secara ekologis kucing kuwuk yang memiliki perilaku liar dan pemalu, membutuhkan habitat yang dekat dengan air. Habitat air yaitu sungai, juga menjadi salah satu tempat sumber makanannya berupa ikan, selain itu jenis makananan lainnya adalah burung, reptil, serangga besar dan mamalia kecil seperti tikus.         

Bangau Sandang Lawe (Cicoinea episcopus)

Badan berukuran besar, berkaki panjang, berleher panjang namun lebih pendek dari burung kuntul dan mempunyai paruh yang besar, kuat dan tebal. Bangau tidak memiliki organ suara syrinx sehingga tidak bersuara, paruh yang diadu dengan pasangannya merupakan cara berkomunikasi menggantikan suara panggilan.

Target Konservasi Hutan Alam Sekunder Cabak

Semi Natural forest di wilayah hutan tanaman jati di Perum Perhutani Pulau Jawa merupakan hutan yang mempunyai nilai konservasi tinggi NKT1.1. berupa konsentrasi keanekaragaman hayati (biodiversity). Hutan Alam Sekunder Cabak memiliki luas 251,1 ha.

Target Konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS)

DAS di KPH Cepu terdiri dari 2 DAS yaitu : DAS Bengawan Solo dan DAS Serang. Kawasan KPH Cepu ditutupi hutan dengan 3 strata yaitu Hutan Alam Sekunder, Hutan Tanaman (established), dan Hutan Tanaman bercampur aktifitas pertanian masyarakat.  DAS Kawasan KPH Cepu merupakan pemasok kebutuhan air bagi kehidupan mayarakat banyak. Apa bila fungsi pasokan air ini rusak, masyarakat tidak memiliki alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan air didalam hidupnya. Kondisi penutupan lahan oleh hutan secara baik sangat mempengaruhi kinerja ekosistem kawasan ini. Oleh karena itu penutupan lahan DAS Kawasan KPH Cepu oleh hutan secara baik tanpa tekanan dari masyarakat adalah merupakan target konservasi di wilayah ini.  Hutan yang demikian memiliki nilai konservasi tinggi NKT 4.2. Target konservasi daerah aliran sungai diwilayah KPH Cepu dititik beratkan pada kawasan perlindungan setempat sempadan sungai.

Penyusunan strategi pengelolaan KBKT didahului dengan penentuan target konservasi, dilanjutkan survey viabilitas, stress dan stressor setiap target konservasi.  Berdasarkan analisis data hasil survey ini disusun strategi dan monitoring pengelolaan target-target konservasi, detil proses dan data disajikan dalam dokumen SCP.