Pengelolaan Produksi

 Berdasarkan peruntukannya, hutan KPH Cepu dibagi menjadi beberapa fungsi kawasan yaitu :

  1. Kawasan untuk perlindungan seluas 4.366,75 ha atau 13.25 %
  2. Kawasan Hutan Produktif seluas 20.628,68,15 Ha atau 62,47 %
  3. Kawasan Hutan tidak produktif seluas 5.796,83 Ha atau 17,55 %
  4. Kawasan bukan u/kelas perusahaan seluas 682,95 Ha atau 2,06 %
  5. Kawasan untuk penggunaan lain 1.542,08 Ha atau 4.67 %.

Ikhtisar Kelas Hutan

 KPH-Cepu---Tabel-21-png

Bidang Persemaian. Realisasi pelaksanaan pembuatan persemaian untuk pelaksanaan kegiatan penanaman serta pengkayaan kawasan perlindungan selama lima tahun terakhir (2009-2012) rata-rata sebanyak 1.958.227 bibit / tahun terdiri dari :  Jati .207.365 Bibit / tahun  dan Rimba 750.863 bibit / tahun

Bidang Tanaman. Realisasi pelaksanaan penanaman hutan, baik yang dilaksanakan dalam upaya reboisasi  lahan-lahan bekas tebangan (rutin)  maupun upaya penyelesaian tanah-tanah kosong (pembangunan), dengan menggunakan jenis-jenis tanaman JPP SP/KBK  dan Rimba serta melakukan pengkayaan pada lokasi kawasan perlindungan (KPS/HAS) selama lima tahun terakhir rata-rata 1.314,00 Ha /tahun terdiri dari Jati 794,0 Ha/tahun dan Rimba 83,8 Ha/tahun.

Bidang Pemeliharaan Hutan. Kegiatan  pemeliharaan hutan merupakan tahapan pengelolaan hutan berupa tindakan silvikultur yang ditujukan untuk memperoleh tegakan hutan dengan sebaran, pertumbuhan (riap)  dan kualitas tegakan yang baik pada akhir daur.  Kegiatan pemeliharaan hutan dapat dipisahkan berdasarkan umur dan peruntukkannya, yaitu sulaman, babat, dangir, pemupukan dan wiwil yang dilaksanakan pada tanaman umur 1-3 tahun,  babat rayud/tumbuhan bawah dan prunning untuk tanaman umur 4 s/d 6 tahun. Sedangkan kegiatan pemeliharaan berupa penjarangan diperuntukkan bagi tegakan hutan yang telah memenuhi tata waktu frekwensi penjarangan.

Bidang Teresan. Kegiatan teresan merupakan salah satu kegiatan sebelum penebangan, yaitu mematikan pohon-pohon yang akan ditebang dengan maksud untuk memperoleh kualitas produksi batang pohon yang baik serta memudahkan saat pemungutan dan pengangkutan produksi,  karena batang pohon yang telah mati dan kering akibat diteres, kegiatan teresan dilaksanakan dua tahunsebelum pelaksanaan tebangan (T-2).

Bidang Tebangan. Kegiatan tebangan A2 (tebangan habis) dilakukan secara rutin.

Realisasi Tebangan A2 Tahun 2008 -2012

KPH-Cepu---Tabel-22-png

Sedangkan realisasi produksi tebangan B KPH Cepu lima tahun terakhir disajikan table sebagai berikut :

Realisasi Tebangan B Tahun 2008 -2012

KPH-Cepu---Tabel-23-png

Sedangkan realisasi produksi tebangan penjarangan (tebangan E) selama lima tahun terakhir disajikan dalam tabel berikut :

Realisasi Tebangan Penjarangan Tahun 2008-2012

 KPH-Cepu---Tabel-24-png

KPH Cepu mempunyai  1 (satu) objek wisata minat khusus loko tour.  Yaitu wisata perjalanan di dalam kawasan hutan wilayah KPH Cepu dengan menggunakan lokomotif tua buatan tahun 1918.  Perjalanan dengan menggunakan kereta tua ini, pengunjung dapat menikmati pemandangan hutan Jati, serta dapat melihat kegiatan-kegiatan pengelolaan hutan jati  yang berprinsip pada azas kelestarian hutan meliputi kegiatan penanaman, pemeliharaan, tebangan, saradan, dan angkutannya.  Melalui jalur Tempat Penimbunan Kayu (TPK) Batokan, Bergojo (tempat penampungan air untuk loko) dan hutan monumen jati Gubug Payung di Petak 1092 a BKPH Pasarsore.