Pengelolaan Lingkungan

Pengelolaan Lingkungan yaitu serangkaian kegiatan untuk memperbaiki atau mempertahankan kondisi lingkungan sehingga dapat meminimalkan dampak negatif akibat kegiatan pengusahaan hutan khususnya terhadap spesies dan ekosistemnya.

Kondisi Lingkungan

a. Kawasan Perlindungan KP Jati

Kawasan Perlindungan pada KP Jati seluas 5.433,17 Ha, terdiri dari kawasan perlindungan KPPN (biodiversity) seluas 1.685,36 ha, HAS (Hutan Alam Sekunder) seluas 2.458,73 Ha, kawasan perlindungan setempat (KPS) seluas 1.274,61 Ha dan Situs budaya dan ekologi seluas 14,47 Ha.

b. Kawasan Perlindungan KP Pinus

Kawasan Perlindungan pada KP Pinus seluas 1.914,38 Ha, terdiri dari kawasan perlindungan KPPN (biodiversity) seluas 621,11 Ha, HAS (Hutan Alam Sekunder) seluas 545,14 ha, Kawasan Perlindungan Setempat (KPS) seluas 747,65 Ha dan situs budaya dan ekologi seluas 0,48 Ha.

Identifikasi dan Pencatatan Data

1. Vegetasi

a.1.       pohon       : jenis, jumlah individu, diameter setinggi dada (±130 cm), tinggi total (TT), tinggi bebas cabang (TBC), penutupan tajuk.

a.2.       Tiang        : jenis, diameter setinggi dada (±130 cm),tinggi total (TT), dan tinggi bebas cabang (TBC).

a.3.       Pancang, semai, dan tumbuhan bawah : jumlah dan jenis

2. Mamalia

Data yang dikumpulkan meliputi jenis dan jumlah individu setiap jenis yang dijumpai, jarak antar satwaliar dengan posisi pengamat dan sudut kontak antara posisi satwa yang terdeteksi dengan posisi pengamat dan garis lintasan pengamatan, waktu diketemukannya jenis satwa tersebut (jam; menit), jenis perjumpaan (tempat-tempat bersarang/tidur ataupun tanda suara/bunyi).

3. Herpetofauna

Data yang dikumpulkan meliputi jenis, jumlah individu per jenis, lokasi ditemukan, jenis perjumpaan.

4. Aves

Data yang dikumpulkan dalam pengamatan burung meliputi: jenis, jumlah individu setiap jenis, lokasi/posisi pada saat teramati (permukaan tanah, lantai hutan, tajuk bawah, tengah atau tajuk atas), serta jarak pengamat dengan obyek/satwa.  Untuk mendapatkan informasi tambahan tentang berbagai jenis burung yang terdapat di dalam kawasan studi maka dilakukan wawancara dengan kelompok masyarakat setempat.

Hasil Identifikasi Spesies Interest dan Rare, Threatened, Endangered (RTE)

Kegiatan pengelolaan kawasan biodiversity yang telah dilakukan pada jangka lalu adalah penentuan spesies interest pada kawasan hutan KPH Ciamis yang ditetapkan berdasarkan pertimbangan sebaran luas, tingkat gangguan, status perlindungan (Peraturan Pemerintah, CITES dan IUCN), dan mengacu pada pengolahan data derajat keberadaan, derajat kelangkaan, serta sensitivitas dengan hasil:

1. Elang Jawa (Spizaetus bartelsi)

Salah satu burung endemik jawa yang tergolong sebagai top predator (berada dalam taraf trofik tertinggi). Populasinya di alam mengalami ancaman. Elang Jawa ditemukan paling sering di hutan alami dibandingkan dengan habitat lainnya. Keberadaan jenis ini erat kaitannya dengan hutan alam. Dalam kategori IUCN, satwa ini termasuk dalam kriteria Endangered (Genting), dilindungi melalui PPRI no. 7 tahun 1999, sedangkan dalam kriteria perdagangan CITES masuk kategori Apendiks II.

2. Gelatik Jawa (Padda oryzifora)

Adalah sejenis burung pengicau berukuran kecil, dengan panjang lebih kurang 15 cm, dari suku Estrildidae. Burung ini endemik Indonesia dan ditemukan di hutan padang rumput, sawah dan lahan budidaya di Pulau Jawa dan Bali. Gelatik Jawa dievaluasi Rentan/Vulnerable di dalam IUCN Red List serta didaftarkan dalam CITES Appendiks II.

3. Macan Tutul (Panthera pardus)

Termasuk jenis mamalia top predator yang hidupnya secara arboreal (hidup di atas permukaan tanah), soliter dan endemik Jawa. Dapat beradaptasi dengan baik di berbagai tipe vegetasi, tetapi di Pulau Jawa hanya hidup di hutan alam maupun tanaman, namun umumnya menyukai hutan di tepi sungai. Menurut IUCN satwa ini tergolong Near Threatened (Mendekati terancam), namun dalam kategori CITES termasuk Appendiks I (dilarang diperdagangkan secara komersial) serta dilindungi dengan PPRI no.7 tahun 1999.

4. Lutung (Trachypithecus auratus)

Merupakan salah satu mamalia endemik jawa, termasuk jenis satwa arboreal (hampir sepanjang hidupnya tidak pernah turun ke permukaan tanah) sehingga habitatnya berupa hutan primer atau sekunder dengan tajuk yang menyambung/kontinyu, sehingga bisa menjadi indikator keberadaan hutan.

Satwa ini dilindungi melalui SK Menhutbun No. 733/Kpts-II/1999, sedangkan dalam kriteria CITES masuk Apendiks II dan menurut IUCN tergolong dalam Endangered.

5. Biawak (Varanus salvator)

Merupakan salah satu kadal raksasa yang termasuk famili Varanidae. Umumnya menghuni tepi-tepi sungai atau saluran air, tepian danau, pantai, dan rawa-rawa termasuk rawa bakau. Mempunyai daerah sebaran yang cukup luas, sedangkan dalam konvensi perdagangan CITES masuk dalam Appendix II. Merupakan top predator untuk kelompok herpetofauna, sehingga dengan melindungi satwa ini, keberadaan satwa lain akan terjaga.

Upaya pengelolaan yang sudah dilakukan antara lain pelaksanaan survey Biodiversity untuk menentukan indeks keragaman, kesamaan komunitas, species interest, dan lain-lain. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi satwa dilaksanakan pada plot lokasi survey biodiversity setiap tahun sejak Tahun 2008. Jumlah plot survey biodiversity di KPH Ciamis adalah sebanyak 91 plot. Tujuan dari monitoring dan evaluasi flora adalah untuk memperoleh data dan informasi tentang vegetasi yang ada di kawasan hutan KPH. Hasil analisa data akan digunakan untuk menilai efektifitas atau derajat keberhasilan pelaksanaan tujuan pengelolaan yang telah dilakukan dan untuk memperbaiki strategi pengelolaan keanekaragaman yang akan datang.

Perum Perhutani KPH Ciamis juga senantiasa berusaha melestarikan situs budaya dan ekologi masyarakat di wilayah kerjanya, serta telah melakukan berbagai upaya, di antaranya inventarisasi, penentuan titik koordinat, dan pemetaan situs. Hasilnya, telah ditetapkan 126 situs baik situs budaya maupun ekologi, luas 14,95 Ha, terletak di 5 BKPH.

 

Situs  Budaya  dan Ekologi

Aspek Hidrologi

Aspek hidrologi yang meliputi hal-hal yang terkait dengan tata air merupakan salah satu aspek penting dalam pengelolaan hutan. Hal-hal hidrologis yang menjadi sumber pemantauan di wilayah KPH Ciamis meliputi debit air, sedimentasi dan padatan tersuspensi pada lokasi-lokasi yang telah ditentukan.

Curah Hujan

KPH Ciamis  mempunyai 4 titik stasiun pemantauan curah hujan. Yaitu di BKPH Ciamis, kantor KPH Ciamis, BKPH Banjar Selatan dan BKPH Pangandaran. Lokasinya dipilih berdasarkan pengamatan curah hujan secara sederhana oleh masing-masing BKPH. Tujuan dilakukannya pengukuran curah hujan adalah untuk mendapatkan data curah hujan harian, bulanan dan tahunan di wilayah kerja KPH Ciamis. Adapun data curah tahun 2012 dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Debit

Debit adalah laju aliran air (dalam bentuk volume air) yang melewati suatu penampang melintang sungai per satuan waktu. Pengukuran debit dilakukan untuk mengetahui perilaku debit sebagai respon adanya perubahan karakteristik biogeofisik yang berlangsung dalam suatu DAS (oleh adanya kegiatan pengelolaan DAS) dan/atau adanya perubahan iklim lokal (fluktuasi musiman atau tahunan).

Di wilayah KPH Ciamis terdapat lebih dari 100 sungai dan anak sungai yang mengalir dalam kawasan hutan. Dengan dilakukan pengelolaan hutan oleh KPH Ciamis, kondisi sungai dan mata air juga akan terkena dampaknya.

Tabel Debit Air (Koefisien Regim Sungai)

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

Debit Mata Air (Koefisien Regim Mata Air)

 

 

 

Sedimentasi

Sedimen merupakan hasil proses erosi yang umumnya mengendap di bagian bawah bukit, di daerah genangan banjir, di saluran air, sungai dan waduk. Sedangkan sedimentasi merupakan proses pengendapan yang terjadi setelah terjadinya erosi.

 

Laju Sedimentasi SPL Sungai Tahun 2012

 

 

                 

 

Grafik  Laju Sedimentasi SPL Mata Air Tahun 2012

 

 

                

 

Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal RLPS No : P.04/V.SET/2009, standar laju sedimentasi yang tergolong kriteria baik adalah < 2 mm/tahun, berkisar 2 – 5 mm/tahun masuk kriteria sedang dan > 5 mm/tahun termasuk kriteria buruk.

 

Hasil pemantauan pada tahun 2012 menunjukkan lokasi dengan tingkat sedimentasi tertinggi terjadi di lokasi sungai Ciputrapinggan SPL 5  BKPH Cijulang sebesar 4,419 mm/thn, sedangkan terkecil di Sungai Ciawitali SPL 10 BKPH Ciamis sebesar 0,039 mm/thn. Semua lokasi SPL Hidrologi yang dipantau yang ada di wilayah hutan KPH Ciamis mempunyai skor baik, walaupun intensitas hujan wilayah KPH ciamis cukup tinggi.

Berdasarkan data yang diperoleh terdapat beberapa lokasi tanaman muda dan kegiatan pengolahan tanah intensif yang mendorong terjadinya erosi, sehingga  terbawa  masuk ke sungai. Selain itu kondisi daerah aliran sungai tersebut sebagian besar wilayahnya melalui area pemukiman dan kebun masyarakat yang digarap secara intensif.

Secara umum, untuk rata-rata laju sedimentasi selama tahun 2012 tersaji dalam tabel berikut :

 

Laju Sedimentasi SPL Mata Air Tahun 2012 KPH Ciamis

 

 

 

Hasil analisa menunjukkan bahwa dari 12 lokasi SPL Sungai dan 5 SPL Mata Air semuanya termasuk kriteria baik. Ini menjadi indikator bahwa pengelolaan hutan yang dilakukan Perum Perhutani KPH Ciamis dapat memberikan pengaruh yang baik terhadap kondisi lingkungan yang ada. Pengelolaan yang sudah dilakukan Perhutani KPH Ciamis seperti penanaman dan pemeliharaan sedikit banyak dapat mempengaruhi kualitas air.

Pemantauan erosi yang dilakukan di KPH Ciamis dilakukan untuk mengetahui laju erosi yang terjadi selama tahun 2012. Dari pemantauan tersebut bisa menjadi rekomendasi untuk bentuk pengelolaan berikutnya.

Lokasi Stasiun Pengamatan Lingkungan di KPH Ciamis tersebar di 13 petak yang mewakili kondisi kawasan hutan berupa stasiun pengamatan lingkungan permanen. Hal ini dimaksudkan untuk pemantauan pada lokasi tersebut yang nantinya bisa menjadi gambaran erosi yang terjadi dari yang semula lahan terbuka, bertegakan muda, tegakan tua sampai dengan lahan terbuka kembali.

Pada pemantauan erosi tahun 2012 diketahui erosi aktual yang terjadi masih dalam kondisi baik. Peraturan Direktur Jenderal RLPS No: P.04/V.SET/2009, Nilai indeks erosi (IE) yang masuk kategori baik adalah ? 1, dan kriteria Jelek > 1. Lokasi SPL berada dalam petak pengelolaan KPH Ciamis. Semua SPL yang ada di wilayah KPH Ciamis masuk kriteria baik meskipun masuk KU I, tetapi dukungan tumbuhan bawahnya masih baik. Selain itu di kawasan tersebut terdapat garapan (tumpang sari) sehingga ada teras-teras yang terbentuk untuk mengurangi laju erosi.

Nilai indek erosi (IE) yang terjadi pada masing-masing lokasi tersaji dalam tabel berikut.

 

Laju Erosi beberapa SPL KPH Ciamis  Tahun 2012

 

Dari 13 SPL Erosi yang ada di KPH Ciamis, hanya 7 SPL yang masih aktif dilaksanakan pemantauannya tahun 2012, hal tersebut disebabkan penutupan lahan dan tumbuhan bawah sudah rapat. Hasil itu menunjukkan bahwa kondisi SPL erosi yang terjadi masih menunjukkan performa yang baik. Dari sisi pengelolaan hutan menunjukkan masih memberikan pengaruh yang maksimal untuk mengurangi  tingkat laju erosi. Adapun gambaran indek erosi secara umum untuk seluruh kawasan hutan KPH Ciamis disajikan dalam grafik berikut ini.

 

Pada grafik yang berlangsung pada tahun 2012, laju erosi masuk di kriteria baik. Laju erosi tertinggi pada SPL 11 BKPH Banjar Utara di mana indeks erosinya mencapai 0,093. Hal ini dipengaruhi oleh intensitas hujan yang tinggi.

 

Aktivitas pengolahan tanah yang intensif mengakibatkan tanah menjadi gembur, dan saat hujan massa tanah ini akan mudah terbawa aliran permukaan menuju tempat yang lebih rendah, sehingga mengakibatkan kehilangan banyak lapisan atas tanahnya. Kondisi lapangan yang agak curam semakin mempercepat laju pengangkutannya. Pada tanah-tanah yang tidak dilakukan pengolahan secara intensif, agregat tanahnya kuat sehingga tak mudah lepas oleh adanya tumbukan air hujan dan  aliran permukaan.


Aspek Kimia

Pengelolaan hutan yang dilakukan KPH Ciamis tidak lepas dari penggunaan bahan kimia. Bahan kimia digunakan antara lain  stimulansia (perangsang getah), pestisida dan fungisida. Hasil pemantauan penggunaan bahan kimia di KPH Ciamis selama tahun 2012 tersaji dalam Tabel  berikut.

 

Sebagai rujukan digunakan PP RI no 74 tahun 2001 mengenai B3 yang boleh, terbatas dan dilarang digunakan. Pemantauan penggunaan Bahan Kimia. Adapun volume penggunaan bahan kimia selama tahun 2012 sebagai berikut.

 

Pada pemantauan tahun 2012 penggunaan bahan kimia yang dilarang tidak ditemukan. Sebab, kegiatan pemupukan dilakukan setahun sekali, sehingga penggunaan pupuk kimia yang dilarang tidak dilakukan. Sebagai alternatif digunakan pupuk organik yang sudah banyak  dijumpai.

 

Penggunaan  Bahan Kimia yang paling dominan pemakaiannya yaitu jenis Socepas 235 AS, digunakan Perum Perhutani BKPH Ciamis sebagai zat perangsang untuk meningkatkan produktifitas sadapan getah Pinus di BKPH Ciamis. Selain B3 jenis Socepas 235 AS, Perum Perhutani KPH Ciamis juga menggunakan stimulan organik.Etrat yang digunakan dalam kegiatansadapan sebagai pengganti Socepas untuk merangsang keluarnya getah pinus pada tahun 2012.

 

Aspek Biologi

Secara garis besar hasil survey Biodiversity KPH Ciamis tahun 2012:

Flora

1)                  Kelimpahan jenis

Kelimpahan merupakan banyaknya individu untuk setiap jenis, sedangkan kelimpahan jenis merupakan banyaknya jenis/species dalam suatu kawasan. Berikut ini kelimpahan jenis vegetasi di kawasan hutan KPH Ciamis dalam beberapa tipe habitat.

 

Secara umum hasil pemantauan keanekaragaman hayati di tahun 2012 kelimpahan jenisnya relatif stabil apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun berdasarkan tipe vegetasinya ada beberapa habitat yang mengalami penurunan.

 

2) Keanekaragaman jenis

Keanekaragaman hayati adalah keanekaragaman diantara mahluk hidup dari semua sumber, termasuk diantaranya daratan, lautan dan ekosistem akuatik lainnya serta kompleks-kompleks ekologi yang merupakan bagian dari keanekaragamannya, mencakup keanekaragaman di dalam species, antar species dan ekosistem.

Secara umum hasil pemantauan keanekaragaman hayati di tahun 2012 relatif stabil dan mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

3) Dominasi Jenis

Dominansi merupakan kondisi dimana suatu kawasan hutan banyak ditumbuhi jenis-jenis tertentu sehingga jenis yang lain relatif kecil kelimpahannya.  Untuk tingkat pohon dominansi dihitung melalui luas bidang dasar dari jenis penyusunnya.

Hasil monitoring pada tahun 2012 menunjukkan secara umum pada berbagai tipe habitat terjadi penurunan dominansi. hanya sedikit tipe habitat yang mengalami peningkatan dominansi, khususnya pada kawasan produksi yang umumnya penanamannya secara monokultur.

 

Fauna

1) Kelimpahan jenis

Secara umum apabila dibandingkan antara pemantauan fauna pada tahun 2008 sampai dengan pemantauan fauna tahun 2012 relatif stabil. Namun demikian ada juga beberapa tipe habitat yang mengalami kenaikan untuk kelompok satwa tertentu

2) Keanekaragaman jenis

Dari kelimpahan jenis kemudian dilakukan dihitung indeks keanekaragaman fauna. Semakin besar nilai indeksnya menunjukkan keanekaragaman fauna yang ada semakin tinggi. Secara umum kondisi keanekaragaman fauna yang ada di wilayah KPH Ciamis dari tahun 2008-2012 relatif stabil. Namun, masih ada beberapa habitat yang mengalami kenaikan dan penurunan.

3) Populasi species interest

Species interes adalah spesies yang memiliki peran ekosistem tertinggi, sehingga dengan melindungi spesies interest diharapkan spesies lain otomatis akan ikut terlindungi. Dari hasil survey biodiversity 2008, terdapat 5 species yang menjadi species interest di KPH Ciamis. Species tersebut antara lain elang jawa dan gelatik jawa (kelompok aves), macan tutul dan lutung (kelompok mamalia) serta biawak (kelompok herpetofauna).

Hasil pemantauan 2012 menunjukkan terjadi Kenaikan  populasi  untuk jenis elang jawa Macan tutul, lutung dan Biawak. Jenis Glatik jawa terjadi penurunan. Elang jawa pada survey 2012 diketemukan pada tipe pegetasi HAS Pangandaran, KU III up jati, MT+LTJL+TK+TJBK dan TKL+TJKL+TKLTBJ. Untuk Glatik Jawa dan Macan  Tutul terjadi pergeseran tipe habitat dalam perjumpaan species interest. Sedangkan pada spesies Lutung dan biawak relatif stabil.

Aspek HCVF (High Conservation Value Forest)

Pelaksanaan monitoring dan evaluasi didasarkan pada kondisi kawasan HCVF (meningkat/tetap/menurun), berupa peninjauan dan pengidentifikasian di petak-petak yang masuk dalam kawasan HCVF yaitu kawasan hutan alam, KPS dan target konservasi. Parameter yang dimonitoring dan evaluasi adalah viabilitas target konservasi, bentuk kerusakan, penyebab kerusakan dan penanganan penyebab kerusakan.

Hasil monitoring dan evaluasi tahun 2012 adalah bentuk kerusakan dan penyebab kerusakan meliputi:

1. Kawasan hutan alam

a.1. Kawasan hutan alam BKPH Ciamis

Bentuk kerusakan berupa tanah diolah di petak 17e RPH Madati seluas 1 Ha disebabkan oleh pertanian.

a.2. Kawasan hutan alam BKPH Banjar Utara

Bentuk kerusakan berupa tanah kosong di petak 17b RPH Rancah seluas 3 Ha dan petak 18b RPH Rancah seluas 3 Ha diakibatkan oleh adanya batu (given).

a.3. Kawasan hutan alam BKPH Banjar Selatan

Bentuk kerusakan berupa tanah kosong di petak 92f seluas 2,5 Ha, 92u seluas 3 Ha, 93e seluas 2,1 Ha, 94f seluas 1,6 Ha, 94g seluas 0,45 Ha, 95d seluas 1,5 Ha, 96b seluas 1,2 Ha, 97d seluas 1 Ha, 99a seluas 0,1 Ha, 99d seluas 2,7 Ha dan 99e seluas 3 Ha disebabkan oleh adanya perambahan.

a.4.Kawasan hutan alam BKPH Pangandaran

Bentuk kerusakan berupa tanah kosong di petak 51c seluas 5,1 Ha, 51g seluas 1,8 Ha dan 51i seluas 3,5 Ha diakibatkan karena adanya perambahan hutan.

a.5.Kawasan hutan alam BKPH Cijulang

Bentuk kerusakan berupa tanah kosong di petak 1a seluas 10,24 Ha, 1c seluas 3,4 Ha, 2a seluas 1 Ha, 4a seluas 0,25 Ha, 10b seluas 1,68 Ha, 25a seluas 14,29 Ha, 25c seluas 2,98 Ha, 26a seluas 97,22 Ha, 27a seluas 5,17 Ha, 30b seluas 1,78 Ha, 39b seluas 9,38 Ha, 44b seluas 26,67 Ha, 83a seluas 0,9 Ha, 85a seluas 30,71 Ha, 88a seluas 31,84 Ha, 92b seluas 53,57 Ha, 95c seluas 3 Ha, 95c seluas 9 Ha, 96a seluas 24,51 Ha, 48e seluas 6,18 Ha, 49c seluas 3,25 Ha, 49d seluas 4,19 Ha, 49f seluas 4,3 Ha, 50c seluas 3 Ha dan 51d seluas 1,5 Ha diakibatkan adanya kegiatan pertanian, perambahan hutan dan pencurian tegakan.

2. KPS (Kawasan Perlindungan Setempat)

b.1. KPS sempadan sungai DAS Cijulang

Bentuk kerusakan berupa tanah kosong di petak 56a, 56b, 58c seluas 1,5 Ha diakibatkan adanya perambahan hutan dan berbatu (given).

b.2. KPS sempadan sungai DAS Cimedang

Tidak ditemukan kerusakan.

b.3. KPS sempadan sungai DAS Citanduy

Bentuk kerusakan berupa tanah diolah di petak 72a seluas 4,51 Ha dan 72c seluas 9,33 Ha diakibatkan kegiatan pertanian dan perambahan hutan.

b.4. Sempadan Mata Air

Tidak ditemukan kerusakan

3. Target konservasi

c.1. Elang Jawa (Spizaetus bartelsi)

Bentuk kerusakan yang dipergunakan sebagai sebaran atau jelajah Elang Jawa tidak ditemukan (no stress).

c.2. Gelatik Jawa (Padda oryzivora)

Bentuk kerusakan yang dipergunakan sebagai sebaran atau jelajah Gelatik Jawa tidak ditemukan (no stress).

c.3. Macan Tutul (Panthera pardus)

Bentuk kerusakan yang dipergunakan sebagai sebaran atau jelajah Macan Tutul tidak ditemukan (no stress).

c.4. Kucing Elek (Prionailurus viverrinus)

Bentuk kerusakan yang dipergunakan sebagai sebaran atau jelajah Kucing Elek tidak ditemukan (no stress).

c.5. Kucing Hutan (Prionailurus bengalensis)

Bentuk kerusakan yang dipergunakan sebagai sebaran atau jelajah Kucing Hutan tidak ditemukan (no stress).

c.6. Lutung (Trachypithecus auratus sundanensis)

Bentuk kerusakan pada kawasan yang dipergunakan sebagai sebaran atau jelajah lutung adalah tanah diolah di petak 63a seluas 0,01 Ha dan 64b seluas 0,01 Ha karena adanya kegiatan pertanian.

c.7. Surili (Presbytis comata)

Bentuk kerusakan yang dipergunakan sebagai sebaran atau jelajah Surili tidak ditemukan (no stress).

c.8. Biawak (Varanus salvator)

Bentuk kerusakan pada kawasan yang dipergunakan sebagai sebaran atau jelajah biawak adalah tanah diolah di petak 74a seluas 0,01 Ha karena adanya kegiatan pertanian.

Langkah penanganan kerusakan  meliputi :

  1. Penanganan untuk kegiatan pertanian yaitu dengan penghentian garapan

dan sosialisasi atau penyuluhan pada masyarakat.

  1. Penanganan untuk kegiatan perambahan yaitu dengan rehabilitasi atau pengkayaan dan sosialisasi/penyuluhan pada masyarakat.
  2. Penanganan untuk kegiatan penggembalaan yaitu dengan pemasangan papan informasi, pengamanan rutin dan sosialisasi atau penyuluhan pada masyarakat.