Pengelolaan Produksi

Kelola Produksi yaitu serangkaian kegiatan untuk mengatur dan mempertahankan fungsi produksi dalam batas-batas daya dukung (carrying capacity) sumberdaya hutan.

Sebaran kelas umur untuk kelas Perusahaan jati pada awal jangka RPKH Jangka Perusahaan 2004-2013 adalah sebagai berikut:

Kelas Umur

Banjar CA Ha

Pangandaran Ha

Cijulang Ha

Jumlah Ha

1

2

3

4

5

I

1.455,60

708,63

268,47

2.432,70

II

1.543,20

442,37

88,86

2.074,43

III

775,74

1.851,90

470,28

3.097,92

IV

688,57

628,14

440,49

1.757,20

V

26,20

0

6,86

33,06

Sedangkan untuk Kelas Perusahaan Pinus, sebaran kelas umur pinus adalah 531,57 Ha Kelas Umur I; 254,52 Ha Kelas Umur II; 272,78 Ha Kelas Umur III; 77,37 Ha Kelas Umur IV; 61,56 Ha Kelas Umur V; 233,55 Ha Kelas Umur VI, 513,60 Ha Kelas Umur VII; dan MT (48,34 Ha).

Sistem Silvikultur Untuk Jati

Persemaian adalah kegiatan untuk menghasilkan bibit yang berkualitas baik, kokoh, sehat, seragam dan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, serta tumbuh baik sewaktu ditanam dilapangan dengan cara penyemaian benih tanaman hutan yang asal benihnya dari sumber benih unggul dan berkualitas.

Penanaman sistem silvikultur yang diterapkan Perum Perhutani dilakukan dengan dua cara yaitu tumpang sari dan banjar harian. Cara tumpang sari dilakukan pada bidang tanaman yang subur dan kondisi topografi yang mudah serta memiliki kelebihan secara sosial maupun ekonomi yaitu terjaminnya penyediaan tenaga kerja secara berkesinambungan. Sistem banjar harian dipakai pada keadaan bidang tanaman yang tandus, becek, kondisi topografi yang sulit dan untuk lokasi tanaman yang memiliki fungsi perlindungan (mengendalikan erosi, menjaga hidroorologis dan lain sebagainya).

Pemeliharaan Tanaman Jati APB terdiri dari penyulaman, wiwil, prunning cabang tanaman pokok dan sela, babat jalur dan dangir, pemupukan (Tahun ke-1 s/d ke-2), pengendalian hama dan penyakit, pangkas tanaman Sela, prunning, penjarangan, dan perlindungan.

Pemeliharaan Tanaman JPP terdiri dari gebrus piringan, pemupukan, babad dan gebrus piringan, pendangiran penyulaman, wiwil, prunning cabang, pemupukan (Tahun ke-1 s/d ke-5), penjarangan, dan perlindungan.

Pemanenan Hutan Jati Teknik pemanenan kayu jati di KPH Ciamis adalah semi mekanis, dimana penebangan menggunakan gerjaji mesin (chainsaw), sedangkan pembuatan sortimen, sarad, angkut dan pikul menggunakan alat manual dan tenaga manusia. Pembuatan sortimen (bucking policy) diarahkan pada sortimen yang laku dijual dan memiliki margin keuntungan tertinggi.

Alat Pelindung Diri yang wajib dikenakan oleh operator Chain Saw adalah helm, sepatu boot, sarung tangan, celana anti gergaji,kaca mata dan pelindung telinga/ear protector. Alat Pelindung Diri yang wajib dikenakan oleh mandor, tenaga blandong dan tenaga sarad adalah helm, sepatu boot dan sarung tangan.

Tata Waktu Sistem Silvikultur

Kegiatan

Tahun

< I

I

II

III

IV

V

VI s/d Daur

 Persemaian
 –  Pengadaan benih
 –  Pembuatan bibit
 Tanaman
 –  Persiapan Lapangan
 –  Acir
 –  Lubang tanam
 –  Pupuk Organik
 –  Penanaman
 Pemeliharaan
 –  Babad jalur/piringan
 –  Dangir
 –  Pemupukan Anorganik
 –  Penyulaman
 –  Wiwil
 –  Prunning cabang
 –  Penjarangan
 –  Perlindungan
 Pemanenan
 –  Klem pohon
 –  Penebangan
 –  Pengangkutan

Tabel 4.  Tata waktu sistem silvikultur

Sistem Silvikultur Untuk Rimba

Persemaian asal benih untuk tanaman Pinus dan Mahoni berasal dari Areal Produksi Benih. Pembuatan bibit tanaman Pinus dilaksanakan melalui pembuatan persemaian oleh KPH Ciamis mengacu pada Pedoman Pembuatan Tanaman Pinus pada buku PHT.30/Seri Produksi/99/96 tentang Membangun Tegakan Pinus merkusii. Pembuatan Bibit Rimba dilakukan secara pembuatan persemaian oleh KPH Ciamis mengacu pada Pedoman Pelaksanaan Tanaman Hutan Pinus PHT 38 Seri Produksi 107 tahun 1996.

Pembuatan Tanaman Hutan Rimba meliputi kegiatan perencanaan dan persiapan, pembersihan lahan, pengolahan tanah (Gebrus I dan Gebrus II), pembuatan larikan, pembuatan acir, pembuatan lubang tanam, dan penanaman.

Pemeliharaan Hutan Rimba meliputi kegiatan penyulaman, wiwil, prunning cabang tanaman pokok dan sela, babat jalur dan dangir, pemupukan (Tahun ke-1 sampai ke-2), pengendalian hama dan penyakit, pangkas tanaman Sela, prunning, penjarangan, dan perlindungan.

Teknik pemanenan kayu rimba adalah semi mekanis, dimana penebangan menggunakan gergaji mesin (chainsaw), sedangkan pembuatan sortimen, sarad, angkut dan pikul menggunakan alat manual dan tenaga manusia. Pembuatan sortimen (bucking policy) diarahkan pada sortimen yang laku dijual dan memiliki margin keuntungan tertinggi.

Pada tegakan pinus di Perum Perhutani dilaksanakan kegiatan penyadapan getah yang kegiatannya berpedoman pada no. 792/KPTS/DIR/2005 tentang Pedoman Penyadapan Getah Pinus.

Sistem Silvikultur Untuk Kawasan Perlindungan

Persemaian : Pembuatan bibit tanaman Rimba dilaksanakan melalui pembuatan persemaian oleh KPH Ciamis mengacu pada Pedoman Pelaksanaan Tanaman Hutan Pinus PHT 38 Seri Produksi 107 tahun 1996.

Pembuatan tanaman pada kawasan lindung dilakukan dengan jarak tanam 5 x 5 m, dengan kegiatan antara lain perencanaan dan persiapan, pembersihan lahan, pengolahan tanah (Gebrus I dan Gebrus II), pembuatan larikan, pembuatan acir, pembuatan lubang tanam, dan penanaman.

Pemeliharaan dilakukan pada lokasi-lokasi KPS yang direhabilitasi/dilakukan pengkayaan.

Sebaran PUP Jati

Rincian selengkapnya sebaran Petak Ukur Permanen (PUP) Jati per Bagian Hutan, per Kelas Bonita dan per Kelas Umur dapat dilihat pada tabel 5.

Berdasarkan tabel di atas, terlihat PUP tersebar cukup merata di 3 Bagian hutan, yang terdiri dari BH Cijulang (15 PUP), BH pangandaran (15 PUP), dan BH Banjar Ca (21 PUP). Sedangkan sebaran PUP berdasarkan Kelas Umur (KU) adalah sebagai berikut, KU I sebanyak 12 buah, KU II sebanyak 11 buah, KU III sebanyak 16 buah, KU IV sebanyak 12 buah.  Berdasarkan data tersebut sebaran PUP pada setiap KU relatif merata, meskipun jumlahnya masih terbatas, karena hanya dibuat 1x ulangan pada masing-masing kondisi tegakan.

Selain itu sebaran PUP dapat dilihat berdasarkan Kelas Bonita yaitu sebagai berikut, kelas bonita 2 ½ – 3 sebanyak 19 buah, kelas bonita 3 ½ – 4 sebanyak 19 buah, kelas bonita 4 ½-5 sebanyak 13 buah. Sebaran PUP di atas didasarkan kondisi tapak/tempat tumbuh di lapangan.

Untuk jenis tanaman Pinus di KPH Ciamis terdapat pada 1 Bagian hutan, yaitu Bagian Hutan Ciamis, dengan daur 50 tahun, dengan kelas bonita 2, 3, 4 dan 5 sehingga jumlah PUP Pinus yang harus dibuat yaitu sebanyak 48 x 4 x 3 = 576 PUP. PUP jenis tanaman Pinus yang telah dibuat di KPH Ciamis yaitu sebanyak 17 buah, dengan demikian masih diperlukan tambahan PUP sebanyak 559 buah. Sebaran PUP Pinus di KPH Ciamis dapat dilihat pada Tabel 6.

Berdasarkan tabel di atas, terlihat sebaran PUP untuk jenis tanaman Pinus, dengan jumlah total PUP sebanyak 17 buah hanya mewakili sebagian kelas umur yaitu dari KU I sampai dengan KU V, dan terbatas pada 3 kelas bonita, sehingga data yang diperoleh terbatas pada kelas umur dan kelas bonita yang diwakili. Jumlah sampel PUP baik untuk tanaman Jati maupun Pinus terbatas, sehingga belum dapat memberikan gambaran secara keseluruhan mengenai kondisi tegakan di KPH Ciamis.

Produksi Hasil Hutan Lainnya, Usaha Wisata dan Usaha Lain

Selain produksi hasil hutan non kayu yang dapat diolah terdapat pula produksi hasil hutan lainnya yang tidak diolah seperti rumput gajah, kopal, padi, cengkeh, kopi dan lain-lain.

Penghasilan dari usaha wisata sampai dengan Desember 2012 sebesar Rp 834.986.600 atau 78% dari target RKAP Rp 1.077.786.600. Untuk lebih jelasnya hasil usaha wisata dapat disimak pada tabel berikut :

 

Usaha Lain / Usaha Konvensional merupakan bagian dari usaha lain yang dilaksanakan Perum Perhutani, namun belum memberikan kontribusi pendapatan yang signifikan. Pelaksanaannya pada umumnya dikerjasamakan dengan Pihak III antara lainberupa Pemanfaatan Sumber Air dan sewa tempat untuk kios-kios.

Pengamatan Riap/ Petak Ukur Permanen (PUP)

Jati

Perhitungan Mean Annual Increament (MAI) di KPH Ciamis dilakukan berdasarkan data hasil pengukuran lapangan yang dilakukan dari tahun 2009 sampai 2012, pada 3 Bagian Hutan untuk Jenis Jati dan 1 Bagian hutan untuk Jenis Pinus.

Nilai Mean Annual Increament (MAI) terdiri dari parameter Diameter, Tinggi dan Volume yang diperoleh melalui hasil pengukuran masing-masing parameter tersebut dengan umur tanaman pada saat pengukuran.

Pinus

Perhitungan Mean Annual Increament (MAI) untuk jenis Pinus di KPH Ciamis dilakukan berdasarkan data hasil pengukuran lapangan yang dilakukan dari tahun 2009 sampai dengan 2012, yang terdapat dalam 1 Bagian hutan yaitu BH Ciamis.

Nilai Mean Annual Increament (MAI) untuk jenis Pinus terdiri dari parameter Diameter, Tinggi dan Volume yang diperoleh melalui hasil pengukuran masing-masing parameter tersebut dengan umur tanaman pada saat pengukuran.

Nilai MAI dapat diperoleh berdasarkan pengukuran tahun 2009, 2010 dan 2011 serta 2012 untuk mendapatkan gambaran kenormalannya maka MAI hasil pengukuran PUP (MAI-PUP) dibandingkan dengan MAI berdasarkan Tabel 10 Jenis (MAI-Tabel)sesuai umur masing-masing tanaman/tegakan.