Pengelolaan Lingkungan

Kawasan Lindung

Kegiatan Pengelolaan Lingkungan Hidup dilakukan di Kawasan Lindung, Kawasan Produksi dan Kawasan Penggunaan Lain, yaitu  :

  • Melakukan pengayaan restorasi  dengan jenis rimba lokal (termasuk MPTS / Multiple Purpose Tree Species / buah-buahan) pada kawasan Perlindungan Hutan Lindung, Hutan Alam Sekunder (HAS), Kawsan Perlindungan Setempat (KPS).
  • Bekerja sama lebih intensif dengan pihak BKSDA dalam koordinasi pengelolaan kawasan konservasi (Cagar Alam dan Suaka Alam).
  • Mengadakan perlindungan terhadap situs-situs budaya dan ekologi yang ada.
  • Melakukan kegiatan pengelolaan di kawasan produksi dengan memperhatikan aspek perlindungan fisik kimia (tanah dan air) dan biologi (vegetasi dan satwa liar).
  • Melakukan pemantauan parameter lingkungan yang terdiri dari kualitas dan kuantitas air, kesuburan tanah, erosi, keragaman dan penyebaran vegetasi, dan habitat satwa liar (terutama jenis satwa RTE).

Rehabilitasi (Tanaman Pembangunan)

Rencana dan Realisasi Rehabilitasi Tanaman Tahun 2012

              Kebonharjo-tabel31-png

 

 

 

 

 

 

 

 

Rencana dan Realisasi Pemeliharaan Tahun ke-2 dan ke-3 Tahun 2012

Kebonharjo-tabel32-png

 

                   

 

 

 

 

 

 

 

Rencana dan Realisasi Rehabilitasi Hutan Lindung  tahun 2012

Kebonharjo-tabel33-png

 

 

 

 

 

 

Pemantauan Lingkungan

Pemantauan Lingkungan dibagi 2 lokasi yaitu di Kawasan Lindung dan Kawasan Produksi dengan kegiatan sebagai berikut:

a. Fisik Kimia

Meliputi pemantauan curah hujan, hidrologi-debit dan sendimentasi, tanah-erosi, kesuburan tanah, kimia air, bahan berbahaya dan beracun (B3) dan limbah, serta pengelolaan sampah. Di seluruh kawasan hutan KPH Kebonharjo terdapat 15 unit alat penakar curah hujan (ombrometer), yaitu PCH (Penakar Curah Hujan), bertujuan mengetahui iklim mikro di suatu tempat serta deteksi dini untuk pengelolaan sumber daya hutan terkait dengan perubahan musim, bahaya banjir, longsor, dan kebakaran.

Tujuan pemantauan debit dan sedimentasi adalah untuk mengetahui nilai Koefisien Resim Sungai (KRS) kualitas kuantitas air, fungsi tata air, daya tampung beban pencemaran air yang sangat penting bagi kehidupan disekitar kawasan hutan. Kegiatan pemantauan erosi tanah melalui  Stasiun Pemantaun Lingkungan (SPL) Erosi merupakan keterwakilan pada lahan terbuka dan tertutup serta kawasan hutan lindung dan produksi untuk mengetahui tingkat erosi di masing–masing kegiatan pengelolaan hutan.

Pemantauan kesuburan tanah sudah pernah dilakukan dengan parameter yang dipantau adalah bahan-bahan organik, nitrogen, posphor, ph, Koefisisen Tukar Kation (KTK), kadar air, kalsium, magnesium, kalium, dan natrium.

Analisa kimia air dilakukan setiap 6 bulan sekali di lokasi mata air dan sungai, yaitu di Sumber Semen BKPH Tuder dan Kali Kretek BKPH Sale. Dari hasil analisa kimia air diketahui, semua parameter yang diuji pada Mata Air Sumber Semen memenuhi syarat baku mutu, sesuai Keputusan Menkes No 907/MENKES/SK/VII/2002 tanggal 29 Juli 2002. Sedangkan hasil analisa Kali Kretek menunjukkan, air sungai tersebut memenuhi syarat Baku Mutu Air Sungai Golongan IV.

Tentang pemantauan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dan Limbah B3, telah memiliki TPS B3 (Tempat Penimbunan Sementara) yang berfungsi sebagai tempat pengumpulan sementara bekas kemasan B3 sebelum di bawa ke TPA (Tempat Pengumpulan Akhir). Tujuannya untuk meminimalkan limbah B3 sekaligus guna mengendalikan penggunaan B3 sehingga dampak negatif terhadap lingkungan bisa ditekan. TPS terletak di seluruh kantor BKPH dan RPH sedangkan TPA berada di KPH.

Juga memiliki mekanisme dan implementasi pengelolaan sampah yang dilakukan di kantor KPH serta di BKPH dengan memisahkan sampah Organik dan Un Organik, serta telah bekerjasama dengan dinas PU Kabupaten Tuban serta para pemulung yang menyebar di seluruh wilayah.

b.  Biologi

Meliputi pemantauan satwa dan vegetasi (flora). Pemantauan satwa liar di kawasan lindung dilakukan dengan mengidentifikasi jenis dan jumlah satwa liar dan penyebaran jenis-jenis Rare Treathened and Endangerous Species (RTE). Tujuannya untuk mengetahui jumlah jenis satwa, lokasi penyebaran dan jenis-jenis satwa RTE. Dari hasil pemantauan tahun 2012 ditemukan 13 jenis mamalia, 12 jenis reptil dan 85 jenis aves.

Identifikasi jenis-jenis vegetasi flora di kawasan lindung dilakukan di semua wilayah. Vegetasi flora yang tumbuh di kawasan ini adalah jenis-jenis yang umum ditemukan di hutan musim dan hutan kering dataran rendah, termasuk tanaman pengayaan/restorasi serta sumber pakan satwa yang sengaja di tanam untuk perlindungan lahan/tanah dari erosi.

c.  Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (KBKT)

Kegitan monitoring di kawasan bernilai konservasi tinggi dilakukan untuk mengetahui ukuran keberhasilan pengelolaan pada setiap target konservasi. Parameter yang dipantau adalah ukuran/size, kondisi, lanskape,dan ancaman dari tiap-tiap target konservasi. Tujuan akhir yang akan dicapai adalah kawasan bernilai konservasi tinggi berfungsi optimal dan ada peran serta masyarakat dalam kegiatan pengelolaan KBKT.

d.   Kawasan Perlindungan Setempat (KPS)

Tujuan pemantauan kawasan ini adalah mengetahui gambaran kondisi KPS dan menentukan status fungsi konservasi. Parameter yang dipantau adalah penutupan lahan oleh pohon, penutupan lahan oleh tumbuhan bawah, tingkat erosi, manajemen tata batas, dan manajemen lokasi garapan/tindakan konservasi tanah. Hasil monitoring tahun 2011, secara garis besar kondisi KPS adalah baik meski masih terdapat beberapa petak yang perlu dikayakan.

Berikut ini rencana dan realisasi pemantauan lingkungan.

 Kebonharjo-tabel34-png

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kegiatan pengelolaan dan pemantauan serta tindak lanjut yang direkomendasikan dalam setiap kegiatan aspek lingkungan, telah sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam dokumen UKL-UPL.

Pengelolaan Situs Budaya

Pengelolaan situs antara lain dengan monitoring aktifitas masyarakat di lokasi situs, membersihkan lokasi bersama dengan masyarakat, melestarikan vegetasi / lingkungan situs, serta pengayaan tanaman dengan jenis rimba lokal. Rata-rata luas situs di dalam kawasan hutan KPH Kebonharjo di bawah 1 Ha, berbentuk makam, goa, sumber air dan sendang, masing-masing:

  • Situs Ekologi: Sumur Kambang, Sumberan, Kali Wuluh, Kali Piji, Goa Emper, Goa Tembus, Sumber Dipo, Wot Duwur, Ngosoro.
  • Situs Sosial Budaya: Makam Ngandang, Sendang Putih, Mbah Dander, Mbah Tonah, Dadung Awuk, Argopuro, Makam Dowo, Guntur Geni, Goa Pinatah, Makam Klungsu (Gato), Makam Kali Jambe, Nyah Rondo, Watu Dukun, Tunggak Tiang, Sambi Kenceng, Gunung Genuk, Watu Jejer, Makam Bancang, Makam Gakyang.