Pengelolaan Produksi

Hasil monitoring melalui risalah hutan setiap 10 tahun, kondisi sebaran luas Kelas Umur (KU) Jati tahun 1977 – 2013 terdapat kecenderungan KU muda lebih banyak dan keluasan tegakan siap tebang semakin menurun. Koreksi kebijakan pengelolaan SDH terhadap kondisi ini adalah dengan perbaikan genetis jati lewat implementasi JPP (Jati Plus Perhutani).

Tabel   1.  Sebaran Luas Kelas Umur Jati  KPH Kebonharjo tahun 1977 – 2016

Kebonharjo-tabel-1                                                        Sumber : Data RPKH jangka 2007 – 2016

Kondisi Sumber Daya Hutan

Potensi SDH terdiri dari 2.450,9 Ha (13,8 %) Hutan Lindung, 1.297,30 Ha (7,3 %) Kawasan Perlindungan, dan 13.275,90 Ha (74,8 %) Kawasan Produksi. Di dalam kawasan produksi, terdapat 10.956,50 Ha (61,8 %) Hutan Produktif dalam kawasan Kelas Perusahaan, 1.982,10 Ha (11,2 %) Hutan Tidak Produktif dalam kawasan Kelas Perusahaan, Hutan Produktif dalam kawasan bukan Kelas Produksi 336,20 Ha (1,9 %), dan Hutan Tak Produktif dalam kawasan bukan Kelas Perusahaan 1,10 Ha (0,01 %). Adapun kawasan untuk pengguna lain 714,94 Ha (4,0 %). 

Tabel 2.  Potensi SDH KPH Kebonharjo Tahun 2012

Kebonharjo-tabel2

Keterangan :

*) Kolom RPKH (Kolom 3) :

– Pada Kelas Hutan KPS seluas 647,50 Ha dan TBPTH  :  275,30 Ha dan TBPTH : 372,20 Ha

– Pada Kelas Hutan HAS seluas 124,50 Ha berasal dari kelas hutan HAKL

– Pada Kelas Hutan TK seluas 3.565,60 Ha terdiri dari TK : 3.555,10 Ha dan TKTBJ : 10,5 Ha

– Pada Kelas Hutan TJKL seluas 377,20 Ha terdiri dari TJKL : 374,90 Ha dan TKLTBJ : 2,30 Ha

 

Program Kerja Pengelolaan SDH

1. Program kerja pengelolaan SDH
  1. Pembagian kawasan hutan berdasarkan fungsi dan pengelolaannya sesuai fungsi.
  2. Pengaturan kelestarian dengan melakukan perhitungan etat secara lestari, melakukan reboisasi dan rehabilitasi hutan, perlindungan hutan, pemeliharaan tegakan hutan, dan pemanenan.
  3. Perlindungan fungsi lingkungan, berupa reboisasi dan rehabilitasi hutan, perbaikan jenis pada KPS, pengendalian pola tanam, dan perlindungan hutan.
  4. Pemanenan ramah lingkungan, pemanenan tersebar, penyaradan tidak merusak fisik tanah, penggantian jenis bukan jati pada KPS.
2. Program kerja pengelolaan lingkungan
  1. Pengalokasian dan pengelolaan kawasan lindung setempat.
  2. Penerapan sistem pengelolaan yang berdampak minimal terhadap lingkungan.
  3. Monitor dampak negatif dan perbaikan metode jika dampak di atas baku mutu.
  4. Mempertahankan fungsi hutan lindung.
  5. Memonitor keberadaan satwa (terutama satwa dilindungi).
  6. Menjaga struktur dan komposisi tegakan melalui pengaturan lokasi tebangan.
  7. Memperbaiki dan mempertahankan struktur tegakan hutan normal.
  8. Pengaturan dan penerapan pola tanam sesuai dengan sistem silvikultur.
  9. Penanaman kembali areal bekas tebangan dan tanah kosong.
    1. Identifikasi keberadaan HCVF dan pengelolaanya apabila ada.
3.  Program kerja pengelolaan sosial
  1. Penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.
  2. Peningkatan kesejahteraan pegawai / karyawan secara proporsional.
  3. Penerapan sistem PHBM secara baik dan benar sesuai prioritas dan tata waktu (tanaman, keamanan, panen, berbagai hasil pamanenan kayu / non kayu).
  4. Perlindungan situs ekologi dan budaya, menetapkan status kawasan LDTI (lahan dengan tujuan istimewa) atau HLT (hutan lindung terbatas).
  5. Memonitor dan mengelola kondisi sosial ekonomi dan budaya MDH.
  6. Pemberdayaan LMDH, bantuan permodalan lewat kegiatan PKBL.
  7. Penyelesaian masalah tenurial dengan mengedepankan cara persuasif.
  8. Penanganan keamaman atas pencurian kayu dengan sistem manajemen zonasi.

Sistem Pengelolaan SDH dan Sistem Silvikultur

Pengelolaan SDH dilakukan dengan basis masyarakat (PHBM / Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat) dan dengan basis sumber daya hutan, mulai aspek perencanaan hutan (mencakup aspek produksi, lingkungan, dan sosial) hingga pemanenan. Sistem silvikultur yang diterapkan adalah Tebang Pilih Permudaan Buatan (THPB) dengan jenis jati daur 60 tahun. Tata waktu sistem silvikultur dalam pola THPB Jati terlihat di Tabel 3.

Tabel 3.  Sistem Silvikultur Kelas Perusahaan Jati di KPH Kebonharjo 

 No

Th Ke

Kegiatan

Keterangan

1

1

Penanaman (Persemaian, persiapan lapangan dan pelaksanaan tanaman) Sistem tumpang sari (merujuk PHBM) dan banjar harian (ada tujuan tertentu). Pola tanam dengan tanaman pokok jati, tanaman sela lamtoro, tanaman pengisi kesambi, tanaman tepi mahoni & MPTS dan tanaman pagar secang.

22

22

Pemeliharaan I (sulaman, babat dan dangir, serta pemupukan pada JPP) Perlindungan tanaman dari hama penyakit dan penggembalaan

33

33

Pemeliharaan II (sulaman, babat dan dangir) Perlindungan tanaman dari hama penyakit, penggembalaan

44

44

Pemeliharaan III (Babat dan wiwil) Perlindungan tanaman dari hama penyakit, penggembalaan

55

55

Pemeliharaan IV (Babat dan wiwil) Perlindungan tanaman dari hama penyakit, penggembalaan

66

66

Penjarangan I (Pemeliharaan / tidak menghasilkan) PHBM: Sharing produksi (penjarangan ke 1 untuk LMDH)

77

79 – 50

Penjarangan menghasilkan yang dilakukan pada tahun ke 9, 12, 15, 20, 25, 30, 40, 45, 50 PHBM: LMDH terlibat dalam pengamanan hutan.  Sharing produksi penjarangan sesuai peraturan.Pengamanan hutan sesuai stratifikasi pencurian dilakukan secara persuasif  dan proses hukum.

88

858

Teresan Masyarakat desa hutan (MDH) melakukan usaha pertanian pada lahan tegakan teresan

9

60

Tebang habis Tebangan zero waste, menggunakan chainsaw, sarad tenaga manusia  atau hewan

 

Sistem Pengaturan Hasil

KPH kebonharjo telah menghitung prediksi produksi kayu jati yang lestari hingga 50 tahun (tahun 2004 – 2053) dengan memerhatikan berbagai faktor koreksi semisal kerusakan hutan (pencurian kayu), kesuburan tanah, tanah kosong, kegagalan tanaman (serangan hama penyakit), dan kondisi tegakan miskin riap. Produksi kayu bundar jati menyesuaikan dengan produktivitas tegakan yang ada.

Pengaturan hasil kayu bundar jati KPH Kebonharjo, dihitung mengikuti petunjuk SK No 143/1974, yaitu maksimal produksi tebangan dibatasi dengan kombinasi etat luas dan etat volume/massa. Untuk mewujudkan kelestarian hutan, realisasi tebangan tahunan tidak boleh melebihi etat. Etat dihitung dengan rumus :

Etat luas (ha/th)            =          luas kelas hutan produktif

daur (60 th)

Etat Volume (m3/th)     =          Estimasi volume pd UTR

daur (60 th)

 

Kegiatan Bidang Produksi

Sistem kelola Produksi dalam pelaksanaan kegiatan tebangan selalu memerhitungkan kelestarian hutan serta Aspek Lingkungan dan Aspek Sosial. Selama kegiatan penebangan selalu memerhatikan Sistem Manajemen K3 serta setiap kegiatan telah diatur dengan Prosedur Kerja. Perhutani KPH Kebonharjo juga menjalin hubungan harmonis dengan pihak eksternal, khususnya dinas kehutanan. Hal itu tersaji di tabel 4.

Tabel 5.  Monitoring Pengelolaan Produksi KPH KebonharjoTh  2012 dan Rencana Th 2013

No

Kegiatan

Sat

2012

2013

Rencana

Realisasi

Rencana

Realisasi

1. Tanaman (rutin dan pembangunan) Ha

830,5

830,5

591,4

2. Pemeliharaan
– Pemeliharaan Ha

1.319,8

1.319,8

1.264

‘-Penjarangan Dgn Hasil Ha

3.049,6

3.049,6

523,2

– Penjarangan Tak Menghasilkan Ha

3.078,7

3.078,7

1.147,2

3 Keamanan Hutan
‘- Pencurian Pohon Phn

75

86

80

–     – Pengembalaan Liar Ha

1

1

–     – Kebakaran Hutan Ha

87

97

96,85

–     – Bencana Alam Phn

586

4 Panen
– Luas teresan Ha

50,1

50,1

50,1

– Luas tebangan A2 Ha

50,9

50,9

50,9

– Volume tebangan A2 M3

9.082

9.742

9.934

Monitoring Asal Usul Kayu (COC)

Proses lacak balak atau monitoring asal usul kayu (CoC) dimulai dari petak tebangan sampai TPK. Setiap potongan kayu diberi tanda dan dicatat. Secara rutin setiap 2 kali sebulan dilakukan pengamatan di TPK untuk memantau konsistensi pelaksanaan ketentuan lacak balak, dalam hal terpeliharanya penandaan dan pencatatan. Sehingga dari potongan kayu dapat dilihat asal usul kayu mulai TPK hingga petak tebangan.

Bidang Pengujian

Untuk memenuhi kebutuhan pasar dan BBI pengujian kayu diatur menggunakan standar SNI. Realisasi BBI Tahun 2012 dan Rencana BBI Tahun 2013 tersaji dalam tabel 5. 

Tabel  6. Realisasi BBI Tahun 2012 dan Rencana BBI Tahun 2013

No Sortimen

Tahun 2012

Tahun 2013

Target

M3

Realisasi

M3

 (%)

4 : 3

Rencana

M3

1

2

3

4

5

6

1

Vineer

29

139

479

130

2

Hara  A III

1.601

2.392

149

2.607

3

Hara  A II

41

74

4

In  AIII

369

1.838

498

1.912

5

In  AII

300

442

6

A III / KBB

8.006

8.217

103

8.689

7

A II  / KBS

4.339

2.359

54

3.687

8

A I    / KBK

5.592

6.795

122

4.484

9

KBP

506

Jumlah

17.937

17.877

99,7

16.860