Pengelolaan Produksi

 

Hutan produksi di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kendal bercirikan  utama vegetasi jenis jati dengan pengayaan jenis lain yaitu mahoni, kesambi, mangium, johar, sono, salam, tepus, secang, aren, duwet, ploso, lamtoro. Selain itu, dikenal juga jenis tanaman palawija dan semak belukar. Vegetasi pada Cagar Alam/Suaka Alam tercatat lebih kurang 50 jenis tumbuhan kayu dan 20 jenis semak. Di Cagar Alam Ulo Lanang dan SA Peson II terdapat jenis Dipterocarpaceae yaitu plalar (Dipterocarpus gracilis). Pada Cagar Alam Pager Wunung terdapat hutan jati alam.

Pengelolaan SDH

Pengelolaan sumber daya hutan bertujuan memproduksi kayu jati secara lestari dan menjamin fungsi dan jasa hutan secara  ekonomi, ekologi, serta sosial. Secara ekonomi, tujuan pengelolaan sumber daya hutan adalah mengelola sumber daya hutan untuk memproduksi hasil hutan secara lestari; mengelola hutan dengan memerhatikan keanekaragaman hayati, konservasi tanah, konservasi sumber air dan pemberdayaan masyarakat desa hutan; dan mengembangkan sistem panen hasil hutan berdampak minimal.

Program kerja pengelolaan SDH  meliputi:

  1. Pembagian kawasan hutan berdasarkan fungsi dan pengelolaannya sesuai fungsi.
  2. Pengaturan kelestarian dengan melakukan reboisasi dan rehabilitasi hutan, perlindungan hutan, pemeliharaan tegakan hutan, dan pemanenan.
  3. Perlindungan fungsi lingkungan, berupa reboisasi dan rehabilitasi hutan, perbaikan jenis pada KPS, pengendalian pola tanam, dan perlindungan hutan.
  4. Pemanenan ramah lingkungan, pemanenan tersebar, penyaradan tidak merusak fisik tanah, penggantian jenis bukan jati pada KPS.

Sistem Pengelolaan SDH dan Sistem Silvikultur

Pengelolaan SDH dilakukan berbasis masyarakat (PHBM/Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat) dan dengan basis sumber daya hutan dengan dimulai dari aspek perencanaan hutan (mencakup aspek produksi, lingkungan dan sosial) hingga pemanenan. Sistem silvikultur yang diterapkan adalah Tebang Pilih Permudaan Buatan (THPB) dengan jenis Jati daur 60 tahun.

Tata waktu sistem silvikultur dalam sistem THPB Jati disajikan dalam Tabel.

No.

Tahun Ke

Kegiatan

Keterangan

1.

1

Penanaman (Persemaian, persiapan lapangan dan pelaksanaan tanaman) Sistem tumpang sari (merujuk PHBM) dan banjar harian (ada tujuan tertentu). Pola tanam dengan tanaman pokok jati, tanaman sela lamtoro, tanaman pengisi kesambi, tanaman tepi mahoni & MPTS dan tanaman pagar secang.

2.

2

Pemeliharaan I (sulaman, babat dan dangir, serta pemupukan pada JPP) Perlindungan tanaman dari hama penyakit dan penggembalaan

3.

3

Pemeliharaan II (sulaman, babat dan dangir) Perlindungan tanaman dari hama penyakit, penggembalaan

4.

4

Pemeliharaan III (Babat dan wiwil) Perlindungan tanaman dari hama penyakit, penggembalaan

5.

5

Pemeliharaan IV (Babat dan wiwil) Perlindungan tanaman dari hama penyakit, penggembalaan

6.

6

Penjarangan I (Pemeliharaan / tidak menghasilkan) PHBM : Sharing produksi (penjarangan ke 1 untuk LMDH)

7.

9 – 70

Penjarangan menghasilkan yang dilakukan pada tahun ke 9, 12, 15, 20, 25, 30, 40, 45, 50, 60, 70 PHBM : LMDH terlibat dalam pengamanan hutan.  Sharing produksi penjarangan sesuai peraturan.Pengamanan hutan sesuai stratifikasi pencurian dilakukan secara persuasif  dan proses hukum.

8.

78

Teresan Masyarakat desa hutan (MDH) melakukan usaha pertanian pada lahan tegakan teresan

9.

80

Tebang habis Tebangan zero waste, menggunakan chainsaw, sarad tenaga manusia

 

Sistem Pengaturan Hasil

Pengaturan hasil, kayu bundar jati, KPH Kendal dihitung selama 60 tahun ke depan (tahun 2004- 2063) dengan memperhatikan berbagai faktor koreksi kerusakan hutan (pencurian kayu), kesuburan tanah, tanah kosong, kegagalan tanaman (serangan hama penyakit), kondisi tegakan miskin riap.  Sehingga, sesuai daur 60 tahun, didapatkan keluasan tebangan setiap tahunnya.  Produksi kayu bundar jati menyesuaikan dengan produktivitas tegakan yang ada.  Pada saat kondisi tegakan kurang memungkinkan sebagai satu-satunya sumber penghasilan, dilakukan perbaikan genetis dengan mengintroduksi jenis unggul Jati Plus Perhutani (JPP), Stek Pucuk dan menggali potensi hasil hutan lain selain kayu, seperti pemanfaatan jasa (wisata).

Hasil hutan utama berupa kayu bundar Jati. Berdasarkan potensi hutan hasil risalah hutan terkini dan dengan mempertimbangkan tingkat kerusakan hutan dan kemampuan pembuatan tanaman, diproyeksikan luas dan volume tebangan yang lestari selama 6 jangka (60 tahun) ke depan.

Pengaturan Tebangan dan Penanaman Enam Jangka KPH Kendal th 2004-2063

No

Uraian

Jangka Tahun

2004 -2013

2014 -2023

2024 -2033

2034 -2043

2044 -2053

2054 -2063

1. Luas tebangan (ha)

71,3

54,9

118,8

166,2

164,3

163,4

2. Volume teb. (m3)

11.476

5.509

18.436

27.371

26.675

27.082

3. Luas tanaman JPP

861

2.089

1.669

1.470

1.470

931

4. Luas tan. non JPP

4.759

1.969

2.232

2.633

2.846

711

Catatan: Jangka 2024 dan seterusnya mencakup hasil tebangan dari JPP (Jati Plus Perhutani)

Proyeksi kelas hutan produktif selama 6 jangka dapat dilihat di gambar dibawah ini

kendal-tabel-21-Proyeksi-pn

 

 

 

 

 

 

 

Pada gambar 1 terlihat, selain luas total kelas hutan produktif yang bertambah, struktur kelas hutan juga membaik karena proporsi kelas hutan umur tua bertambah banyak.

 

Monitoring dan Evaluasi Produksi

Hasil monitoring melalui risalah hutan tiap 10 tahun, kondisi sebaran luas Kelas Umur (KU) Jati tahun 1977 – 2013 KU muda cenderung  lebih banyak dan keluasan tegakan siap tebang semakin menurun. Koreksi kebijakan pengelolaan SDH, perbaikan genetis jati lewat implementasi JPP (Jati Plus Perhutani) dan Stek Pucuk dari PusBangHut.

Sebaran Luas Kelas Umur Jati  KPH Kendal tahun 1977 – 2013 (Ha)

Kelas Umur

Jangka77 – 86

Jangka 87-96

Jangka 98–07

 Risasalah kilat 04 –13

1

2

3

4

5

I

4.381,7

3751,3

3326,1

5620,6

II – VII

8.229,10

10.030,70

11.664,80

6.895,30

VIII – XII

2.153,00

626,30

109,60

80,10

MR

803,5

584,5

416,5

270,5

MT

484,8

833,3

373,5

33,3

Jml

16.052,1

15.826,1

15.890,5

12.899,8

        

Kondisi pengelolaan SDH di KPH Kendal tahun 2009 dan 2010 yang dijadikan perhatian terhadap pengendalian manajemen terlihat di tabel dibawah ini.

No

Kegiatan

Sat.

2009

s/d  Mei 2010

Rencana

Realisasi

Rencana

Realisasi

1. Tanaman (rutin dan pembangunan) Ha

524,4

524,4

355,9

2. Pemeliharaan
– Pemeliharaan,penjarangan Ha

727,4

727,4

2.497,6

166,5

– Penggantian tegakan tdk  produktif Ha

1.657,9

1.657,9

2.261,5

3 Pengamanan tegakan
– Tegakan teresan Ha

128,8

128,8

123,6

123,6

– Tegakan potensial (> KUII) Ha

4.324

4.324

6.082,5

6.082,5

– Kehilangan tegakan Phn

0

0

0

0

4 Panen
– Luas teresan Ha

128.8

128.8

123,6

123,6

– Luas tebangan A2 Ha

46,7

46,7

127,8

83,6

– Volume tebangan A2 M3

6.725

6.599

15.104

11.420