Pelestarian

Selain konservasi tanaman dan pelestarian hutan, Perhutani juga peduli pada konservasi hewan. Sebab, menjaga satwa – khususnya yang tergolong langka – berarti juga menjaga ekosistem tetap seimbang. Dan hal itu sekaligus juga menunjukkan pengelolaan hutan lestari. Sebab, ketika satwa-satwa itu dapat hidup lestari di tengah hutan Perhutani, merupakan indikasi bahwa hutan itu lestari dan menjadi tempat hidup yang nyaman bagi para satwa.

Dalam proses pengelolaan hutan lestari, strategi yang diterapkan Perhutani adalah memperhatikan aspek-aspek konservasi, baik flora maupun fauna. Konservasi yang dilakukan Perhutani antara lain dilakukan terhadap hutan-hutan alam, jembatan, jalan, alur dan ketersediaan air, serta hewan-hewan yang memiliki habitat hidup di hutan.

Sistem pengelolaan hutan lestari oleh Perhutani diarahkan untuk mencapai tripple bottom line, yaitu people-planet- profit. Ketiga aspek ini saling berkaitan dan tak terpisahkan.

Penerapan HCVF (High Conservation Value Forest) secara lokal, nasional, maupun global di beberapa Kesatuan Pemangkuan Hutan, Perhutani bekerjasama dengan Tropical Forest Trust (TFT), sebuah LSM internasional, untuk melakukan proses identifikasi, klasifikasi, dan membuat rencana memelihara kawasan, sosial, budaya dan lingkungan yang memiliki nilai-nilai tinggi atau luar biasa. Selain itu, Perhutani juga mendukung pengelolaan sumber daya air di dalam kawasan hutan milik perusahaan, untuk air minum, sanitasi, pertanian dan lainnya yang dibutuhkan masyarakat.

Penangkaran Rusa

Salah satu satwa yang masuk dalam program konservasi Perhutani adalah rusa. Perhutani melakukan pengembangbiakan rusa di lahan “Penangkaran Rusa” yang terdapat di lahan Perhutani tepatnya di perbatasan Bogor-Cianjur. Penangkaran ini bernama Wana Wisata Penangkaran Rusa Cariu. Lokasi tepatnya berada di Desa Buanajaya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor. Namanya memang Penangkaran Rusa Cariu, kendati letaknya bukan di Kecamatan Cariu melainkan Kecamatan Tanjungsari. Hal itu karena dulunya kawasan ini secara administratif pemerintahan berada di wilayah Kecamatan Cariu, namun setelah terjadi pemekaran wilayah, ia masuk ke wilayah Kecamatan Tanjungsari.

Penangkaran Rusa Cariu berdiri sejak tahun 1993. Awalnya, Penangkaran Rusa ini hanya dikhususkan untuk kegiatan penelitian. Tetapi, sejak tahun 2003 wanawisata ini berada di bawah pengelolaan KBM JLPL Perum Perhutani Unit III Jawa Barat – Banten. Dan sejak itu pula wanawisata ini dibuka untuk umum.

Kendati telah dibuka untuk umum, utamanya bagi masyarakat yang ingin berrekreasi, wanawisata Penangkaran Rusa Cariu tetap melakukan fungsi utama untuk konservasi satwa, khususnya rusa. Setelah dibuka untuk umum, Wanawisata Penangkaran Rusa Cariu ini bisa menjadi salah satu tempat liburan yang tepat untuk keluarga, khususnya anak-anak, karena ia merupakan tempat yang nyaman dan sejuk.

Ada tiga jenis rusa yang ditangkarkan di Penangkaran Rusa Cariu. Ketiganya masing-masing Rusa Jawa (Cervus timorensis), Rusa Totol (Axis axis), dan Rusa Sumatera (Cervus Timorensis)..

Luas penangkaran 5 (lima) hektar dengan populasi ideal per satu hektar adalah untuk 10 sampai 15 rusa. Selain lima hektar lahan untuk tempat tinggal para rusa itu, di lokasi Wanawisata Penangkaran Rusa juga ada dua hektar lahan yang dikhususkan untuk penanaman atau pemeliharaan rumput sebagai deposit makanan utama rusa.

Penangkaran Buaya

Perhutani juga melakukan penangkaran buaya, khususnya buaya muara. Lokasinya di Wanawisata Penangkaran Buaya Blanakan. Letaknya di Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Ada kurang lebih 200 ekor buaya muara yang dikembangbiakkan di lokasi ini. Seperti juga Penangkaran Rusa, populasi buaya di sini juga dikontrol agar sesuai dengan luas wilayah penangkaran. Buaya yang ditangkarkan di Blanakan itu terdiri dari buaya jantan dan betina lengkap dengan habitatnya.

Penangkaran buaya Blanakan memiliki lahan seluas 1,5 hektar. Lokasinya di wilayah hutan Tegaltangkil yang memiliki luas total 8 hektar. Lokasi disekitar areal Penangkaran Buaya tetap sesuai ekosistemnya. Di hutan mangrove yang mengelilingi areal Penangkaran Buaya ini, terdapat satwa liar khas muara yang lain, seperti berang-berang, ular sawah, kucing hutan, dan burung kuntul.

Penangkaran buaya Blanakan sebenarnya adalah sebuah tempat penangkaran untuk mengembangbiakkan buaya muara. Penangkaran ini telah banyak menghasilkan buaya-buaya muara yang baru. Hal ini menjadi salah satu kepedulian Perhutani, sebab kini makin banyak sungai dan rawa yang beralih fungsi menjadi tempat tinggal manusia atau menjadi tempat lain yang membuat kehadiran buaya-buaya menjadi semakin tersisih dan terdesak. Ada juga sebab lain ketersisihan mereka, yaitu karena banyaknya sungai atau rawa yang mengalami polusi dan airnya tercemar mengakibatkan buaya-buaya menjadi mati dan populasinya semakin sedikit. Jika hal it uterus dibiarkan, buaya-buaya itu akan punah.

Dengan adanya sebuah penakaran buaya di Blanakan, Subang, ini diharapkan buaya-buaya yang dihasilkan dapat dikembangbiakan. Sehingga, buaya-buaya rawa tidak mengalami kepunahan. Dan jika pun buaya-buaya tersebut akan dilepasliarkan ke alam bebas, diharapkan agar buaya-buaya tersebut bisa kembali kepada habitatnya sendiri.

Di dalam lokasi Penangkaran Buaya Blanakan terdapat juga bagunan untuk melakukan pengembangbiakan bayi-bayi buaya umur 3-6 bulan, serta 1 sampai 3 tahun. Sementara untuk buaya yang berusia 3 tahun sampai 6 tahun dimasukkan ke dalam kolam penangkaran tersendiri. Ada juga kolam perkawinan untuk buaya yang telah siap di kawinkan didalam lokasi atraksi.

Owa Jawa

Perum Perhutani selalu berupaya mempertahankan kualitas kawasan hutan lindung. Salah satu yang harus dilakukan untuk menjaga mutu hutan lindung adalah dengan mengembangan spesies liar. Lewat upaya mengembangbiakkan satwa liar tersebut, diharapkan keseimbangan alam akan terjaga. Keseimbangan alam memang menjadi salah satu persoalan bagi manusia karena sebagian besar telah terkikis akibat pembangunan dan bertambahnya populasi manusia.

Perum Perhutani bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan RI, Yayasan Owa Jawa, Conservation International Indonesia, The Silver Gibbon Project, telah melakukan pelepasliaran dua ekor satwa endemik Owa Jawa serta penanaman tumbuhan bahan pakan Owa Jawa. Lokasi pelepasliaran pasangan Owa Jawa bernama Sadewa (jantan) dan Kiki (betina) tersebut berada di kawasan hutan lindung Gunung Puntang, Pangalengan, Bandung, Jawa Barat.

Langkah Perhutani melepasliarkan Owa Jawa merupakan langkah untuk menjalankan prinsip-prinsip kelestarian alam, termasuk untuk mempertahankan keanekaragaman hayati dalam ekosistem yang ada. Adanya satwa Owa Jawa di hutan lindung Perhutani ini akan menjadi salah satu indikator hutan lindung Gunung Puntang berfungsi secara baik atau tidak.

Pemilihan hutan lindung di Gunung Puntang sebagai lokasi tempat Owa Jawa dilepasliarkan, karena hutan tersebut dinilai sebagai lokasi yang ideal. Pelepasliaran Owa Jawa di hutan Gunung Puntang ini dikarenakan ekosistem yang cukup baik dan ketersediaan pakan di lokasi ini sangat mencukupi.

Owa Jawa sendiri merupakan primata bernama latin Hylobates Moloch. Pasangan Owa Jawa yang telah dilepasliarkan itu merupakan hasil tangkapan masyarakat dan telah dipulihkan serta direhabilitasi selama 5 tahun di Yayasan Owa Jawa. Owa Jawa harus dilindungi karena kerap kali diburu masyarakat, hingga populasi primata endemik Pulau Jawa tersebut kini diperkirakan tidak lebih dari empat ribu ekor.

Java Gibbon Center (JGC) adalah satu-satunya pusat rehabilitasi Owa Jawa di dunia. Kegiatan melepasliarkan sepasang Owa Jawa kembali ke habitat aslinya yang kali ini bekerjasama dengan Perum Perhutani sebagai penyedia lahan hutan lindung tempat habitat alami Owa Jawa.

Sebelumnya pada 16 Oktober 2009, menjadi salah satu pihak yang melepasliarkan Owa Jawa setelah direhabilitasi. Pelepasliaran Owa Jawa itu dilakukan ke habitat alaminya di Hutan Patiwel, TNGGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango), Jawa Barat.

Pasangan Owa Jawa yang dilepasliarkan ksaat itu bernama Echi (betina) dan Septa (jantan). Mereka adalah Owa Jawa yang diperkirakan lahir tahun 1999 dan disita dari pedagang satwa liar secara terpisah, lalu diselamatkan dan akhirnya dipertemukan di JGC pada tahun 2008. Pasangan Owa Jawa ini telah melalui proses rehabilitasi yang panjang dan juga sukses melalui proses percobaan pelepasliaran (pre-release) sesuai dengan standar panduan pelepasan satwa liar dari IUCN.