CIAMIS, PERHUTANI (30/11/2022) | Jika Anda sedang melalui jalur alternatif Majalengka-Ciamis, Anda akan melewati sebuah tanjakan yang disebut masyarakat setempat dengan nama tanjakan Jahim (dari nama neraka Jahanam). Mendengar namanya, memang membuat bulu kuduk merinding, akan tetapi tidak seperti namanya, ketika kita datang kesana maka keindahan alam sudah terasa manakala mulai memasuki kawasan hutan pinus yang dikelola oleh Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ciamis baik dari arah Majalengka maupun dari Ciamis maka panorama alam yang luas akan memanjakan penglihatan anda, hal ini terungkap melalui Kepala Sub Seksi Agroforestry dan Ekowisata KPH Ciamis, Aan Herliaman dilokasi Batu Panjang, Rabu (30/11).

Ketika sampai di puncak tanjakan Jahim kita akan menemukan sebuah situs budaya yang cukup menarik. Situs itu dipercaya oleh masyarakat di Desa Cibeureum Kecamatan Sukamantri Kabupaten Ciamis sebagai situs budaya Batu Panjang. Lokasinya tepat dipinggir jalan lintas desa yang cukup ramai dilalui kendaraan bermotor. Ciri kabuyutannya dapat dilihat dari rimbunan pepohonan hutan alam yang masih terjaga diantara dominasi pohon-pohon pinus, sehingga mudah untuk mengenalinya.

Secara fisik, apa yang dapat dilihat di kabuyutan ini berupa kumpulan batu andesit berukuran besar dengan bentuk dominan  panjang. Posisinya ada yang berdiri memancang dan rebah melintang, nyaris tak beraturan. Batu-batu panjang inilah yang melatar belakangi penamaan kabuyutan.

Gugusan bebatuan utama dari situs ini ini berada di cekungan lereng  bukit dengan arah memanjang timur laut– barat daya.  Lebar cekungan itu sekitar 8 meter dan panjangnya menanjak sekitar 30 meter. Ujung bukit yang mengarah ketimur  merupakan bagian  yang menurun, sekaligus sebagai gerbangnya, berhadapan tepat dengan jalan aspal. Sedangkan bagian baratnya merupakan lereng menuju puncak bukit.  Di jalan masuk situs terdapat sekelompok batu panjang yang bertumpangan. Batu ini disebut masyarakat sebagai Batu Kendang, karena mirip alat musik kendang. Sesungguhnya sebaran batu berukuran panjang dan besar  terlihat cukup banyak di wilayah sekitarnya.  Sepertinya, jika lereng bukit itu dikupas akan tersusun dari bebatuan seperti itu.

Menurut keterangan Pak idi Shahidin, juru kunci yang sudah bertugas selama 20 tahun, situs ini cukup mistis. Ada yang menyebutkan, bahwa batu-batu panjang yang banyak tergeletak di sana merupakan bentuk lain dari ular jadi-jadian.

“Ada juga yang mengatakan, bahwa di bawah tumpukan batu-batu itu terkubur ular jadi-jadian tersebut. Selain cerita menyeramkan tentang Situs Budaya Batu Panjang itu, masyarakat setempat juga mempercayai mitos lain. Katanya, jika kita mampu ngadeupaan (mengukur dengan kedua tangan) salah satu batu panjang yang ada di situs, maka rezeki akan mudah datang. Dan, akan lebih mujarab jika ngadeupaan batu itu dilakukan pada bulan Mulud,” ujarnya.

Di balik mitos tersebut, bagi pemuda setempat situs ini telah mendatangkan rejeki secara nyata. Mereka mendapatkan rejeki dari memungut biaya parkir kendaraan bermotor kepada pengunjung yang ingin melihat situs secara langsung. Tarif parkir sendiri tidak dipatok harganya, tergantung keikhlasan pengunjung. Sebagian dari pemungutan hasil parkir itu mereka maksudkan untuk upah menjaga kebersihan lokasi.

Situs Budaya Batu Panjang itu sendiri faktanya merupakan kumpulan batu. Batu-batu yang berserak di sekitar lokasi didominasi oleh batu yang berbentuk panjang sehingga situs ini dinamakan Situs Budaya Batu Panjang. Sebagian masyarakat setempat ada juga yang menamakan dengan Situs Batu Kendang. Hal ini dikarenakan ada sebongkah batu panjang yang disangga dua batu kecil lainnya sehingga menyerupai satu set gendang.

Melihat bentuk fisiknya, beberapa batu di sana kemungkinan berfungsi sebagai dolmen, walaupun permukaannya tidak rata. Dolmen adalah meja batu tebal yang disangga oleh beberapa batu di bawahnya, biasanya digunakan untuk menyimpan hidangan atau sesajen pada saat upacara tertentu, terutama upacara pemujaan atau tugu peringatan.

Selain batu yang menyerupai dolmen ada juga batu tegak atau menhir yang dibuat untuk tujuan khusus. Seperti untuk upacara pemujaan pada roh nenek moyang atau ketua suku. Menhir juga menjadi lambang tempat-tempat keramat yang digunakan untuk berhubungan dengan dunia roh.

Batu menhir ini juga mungkin didirikan oleh penduduk untuk mengingat pemimpin mereka yang banyak berjasa atau yang sangat dihormati karena jasanya kepada masyarakat. Apabila pemimpin mereka meninggal, maka sebuah menhir didirikan, kemudian secara tidak langsung dijadikan sebagai tugu pemujaan.

Sementara Aan menyampaikan bahwa kunjungan wisatawan masih terbatas, kebanyakan masih yang bertujuan ziarah dan ada juga yang menyempatkan diri istirahat ditengah perjalanan.

“Suasananya memang cukup nyaman untuk beristirahat, selain cuacanya yang sejuk rindangnya pohon pinus juga melengkapi indahnya suasana alam,” pungkasnya. (KOM-PHT/CMS/2022/WH)

 

Editor : AGS
Copyright©2022