KOMPAS.COM (22/08/2022) | Penyu adalah salah satu hewan laut yang dilindungi oleh undang-undang. Hal ini tertuang dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumbar Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Penyu yang hidup di perairan Indonesia ada sekitar enam jenis, yakni penyu belimbing, penyu sisik, penyu hijau, penyu pipih, penyu abu-abu, dan penyu tempayan. Dari keenam jenis penyu itu, berdasarkan data Badan Konservasi Dunia (IUCN), penyu sisik masuk dalam daftar spesies yang sangat terancam punah, sedangkan penyu yang lain terancam punah.

Kawasan Khusus Konservasi Penyu di Malang

Di Kabupaten Malang terdapat kawasan khusus konservasi penyu, bernama Bajulmati Sea Turtle Conservation (BSTC) Malang. Kawasan ini dikelola secara swasta oleh salah satu warga yang peduli akan kelestarian penyu, Sutari.

Kawasan itu berdampingan dengan kawasan wisata Pantai Bajulmati yang berada di Desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Tepatnya di sisi timur Pantai Bajulmati. Meski masih dalam satu kawasan Pantai Bajulmati, namun suasana lingkungan di kawasan BSTC Malang tampak berbeda dengan kawasan Bajulmati yang dikelola sebagai kawasan wisata.

Kelestarian dan kebersihan lingkungan di kawasan BSTC Malang yang luasnya sekitar 2.000 hektar ini sangat dijaga ketat, sebagai salah satu daya dukung menjaga kelestarian ekosistem penyu.

Wisatawan dan warga dilarang keras untuk membuang sampah sembarangan, terutama sampah non-organik. Di sisi lain, kawasan tersebut juga begitu rindang dengan jejeran tumbuhan pinus yang tertanam rapi. Kemudian di bibir pantainya terlihat juga rimbunnya tanaman pandan laut dan mangrove.

Di sela-sela bentangan pinus itu terdapat dua bangungan berukuran sedang, lengkap dengan satu kolam berdiameter sekitar tiga meter, serta pekarangan yang berukuran sekitar 7×7 meter. Di dalamnya juga terdapat ember yang ditanam ke dalam pasir pantai.

“Gedung itu difungsikan sebagai tempat edukasi konservasi penyu. Sedangkan pekarangan yang terdapat ember ini adalah tempat penetasan penyu. Kemudian kolam itu adalah tempat penyu setelah menetas,” ungkap Ketua BSTC Malang.

Sutari menerangkan bahwa kawasan BSTC itu adalah kawasan khusus konservasi penyu yang ia bangun secara mandiri sejak 2009 silam.

“Tidak sembarangan wisatawan diperbolehkan masuk ke sini kecuali untuk tujuan penelitian atau edukasi tetang konservasi penyu. Demi menjaga vegetasi di kawasan ini,” jelasnya.

Alasannya, menurut Sutari, ekosistem tumbuhan juga dibutuhkan untuk menjaga inkubasi telur penyu. “Jadi proses penetasan telur butuh suhu yang teratur, agar bisa menetas dengan baik. Makanya, vegetasi alam harus benar-benar dijaga,” ujarnya.

Rutin Melakukan Patroli Demi Menyelamatkan Telur Penyu

Di dalam kawasan tersebut, Sutari bersama 12 relawan BSTC Malang rajin melakukan aktivitas konservasi penyu, dengan metode penyelamatan. Artinya, ia akan berpatroli setiap hari di sepanjang Pantai Bajulmati, untuk mencari telur penyu yang ditelurkan induknya.

Kemudian ditempatkan di tempat khusus yang telah disediakan hingga waktunya menetas. “Ditetaskannya dengan cara dimasukkan ke dalam ember berisi pasir di dalam pekarangan itu.

Kemudian setelah menetas akan kami masukkan ke dalam kolam hingga beberapa waktu, sampai anak penyu itu siap untuk dilepasliarkan kembali ke laut lepas,” bebernya.

Patroli itu ia lakukan rutin setiap hari, setiap musim bertelur penyu, yakni setiap bulan Maret hingga Oktober. Gunanya agar telur-telur penyu itu tidak hilang dimakan oleh predator atau diambil oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

“Kebanyakan kalau predatornya adalah manusia. Selebihnya kalau di pantai selatan ini karena faktor alam yang kurang lestari,” tuturnya.

Oleh karena itu, pria berusia 48 tahun itu gencar menjaga kelestarian ekosistem alam, dengan cara menjaga pembibitan pinus, pandan laut dan mangrove.

Sementara itu, secara umum, jenis-jenis penyu yang hidup di kawasan pantai selatan Kabupaten Malang ini ada empat jenis, yakni penyu abu-abu, penyu belimbing, penyu sisik, dan penyu hijau.

“Tapi yang sering adalah penyu abu-abu. Tahun ini kita sudah menyelamatkan sebanyak 339 telur, dan yang berhasil menetas sebanyak 332 ekor,” katanya.

Di kawasan BSTC itu, Sutari membuka kesempatan bagi yang ingin belajar tentang konservasi penyelamatan penyu. “Tidak ada biaya apa pun untuk belajar konservasi Penyu di sini. Mungkin hanya biaya masuk kawasan Bajulmati kepada pengelola,” katanya.

Hanya saja, kawasan BSTC Malang itu belum mendapatkan legalitas resmi sebagai kawasan konservasi dari Perhutani (Perusahaan Umum Kehutanan Negara) sebagai pemilik lahan.

Sutari berharap, Perhutani turut mendukung kawasan tersebut sebagai kawasan konservasi.

“Kawasan ini adalah kawasan inti dari Bajulmati. Sedangkan di sisi barat sebagai kawasan wisata adalah kawasan penyangga. Sehingga kami membuat batas pagar agar tidak ada aktivitas wisata di kawasan konservasi,” pungkasnya.

Akan Dibuatkan Surat Kerja Sama Non-Profit dengan Perhutani

Sementara itu, Wakil Administrator KKPH Malang, Hermawan, mengatakan kawasan pantai Bajulmati memang merupakan kawasan hutan lindung petak 88 H milik Perhutani.

Pada dasarnya, menurut Hermawan, Perhutani mendukung penuh aktivitas konservasi penyu yang dilakukan di kawasan BSTC Malang. Sebagai bentuk pemberian legalitas, Perhutani akan membuatkan perjanjian kerja sama non-profit dengan BSTC Malang untuk sub-bagian kawasan Bajulmati sebagai kawasan konservasi.

“Nanti kami akan membuat surat kerja sama non-profit di kawasan ini. Jadi khusus untuk kawasan konservasi,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Pantai Bajulmati berjarak sekitar 68 kilometer dari pusat Kota Malang, dengan jarak tempuh sekitar 2,2 jam.

Akses termudah untuk sampai ke kawasan ini bisa melalui jalur utama Malang-Blitar hingga simpang empat Kepanjen, Kabupaten Malang.

Kemudian belok kiri ke arah timur hingga simpang tiga Puskesmas Gondanglegi, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. Lalu belok kanan mengikuti jalan menuju arah kawasan Balekambang, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang.

Sumber : kompas.com

Tanggal : 22 Agustus 2022