{"id":1071,"date":"2011-09-16T15:25:01","date_gmt":"2011-09-16T15:25:01","guid":{"rendered":"http:\/\/perhutani.co.id\/test\/?p=1071"},"modified":"2022-04-04T12:57:15","modified_gmt":"2022-04-04T12:57:15","slug":"perdagangan-satwa-liar-turun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/perdagangan-satwa-liar-turun\/","title":{"rendered":"Perdagangan Satwa Liar Turun"},"content":{"rendered":"<p>Kementerian Kehutanan mengklaim, volume perdagangan internasional produk tumbuhan dan satwa liar (TSL) 2011 turun signifikan sampai 10 persen dari tahun lalu. Penurunan itu, salah satunya karena upaya intensif pemerintah menggalang kerja sama dengan banyak pihak, termasuk dengan berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM).<br \/>\n\u201dKita bekerja sama dengan masyarakat dan LSM sehingga bisa terpantau jika ada aktivitas ilegal itu,\u201d kata Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kementerian Kehutanan Darori, seusai peresmian Pusat Rehabilitasi Satwa Primata Jawa (PRSPJ), di Patuha Resort, Bandung, Selasa (13\/9).<!--more--><br \/>\nDarori memaparkan, perdagangan TSL merugikan negara sampai lebih Rp 100 miliar. Sedangkan, nilai perdagangan TSL internasional bisa mencapai US$ 180 miliar per tahun. Nilai yang cukup tinggi itu melampaui nilai perdagangan senjata dan narkoba. Perdagangan TSL mengurangi populasi TSL dan kerugian ekologi yang sangat besar.<br \/>\nDirektur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Ditjen PHKA Bambang Novianto menambahkan, Kemhut terus memantau aktivitas perdagangan TSL termasuk perubahan modus operandi yang dilakukan pelaku kejahatan ekologi itu. Menurutnya, kerja sama seperti dengan ASEAN-WEN ikut membantu meminimalisasi perdagangan TSL.<br \/>\nUntuk itu, Kemhut juga fokus melestarikan satwa terancarn punah, khususnya satwa endemik. Salah satu satwa endemik adalah jenis primata Jawa, seperti owa jawa, lutung jawa, dan surili. \u201cBiaya untuk konservasi dan pelestarian satwa yang dialokasikan APBN minim. Partisipasi masyarakat dan swasta sangat diperlukan untuk menghindari kepunahan primata ini,\u201d tutur Darori.<br \/>\nPihaknya mengapresiasi Aspinall Foundation yang sudah berkomitmen melakukan pelestarian satwa primata endemik pulau Jawa itu dengan pembangunan PRSPJ. \u201cSemua dana disediakan Aspinall. Pemerintah dengan bantuan Perum Perhutani hanya membantu memfasilitasi,\u201d ujarnya.<br \/>\nDarori menambahkan, dengan pusat rehabilitasi ini diharapkan seluruh owa jawa, lutung, dan surili yang saat ini masih dipelihara oleh masyarakat secara berangsur-angsur dapat direhabilitasi di PRSPJ dan dilepasliarkan kembali kehabitat alaminya.<br \/>\nCountry Director The Aspinall Foundation Made Wedana mengatakan, pihaknya berkomitmen membantu penyelamatan satwa langka dan hampir punah di seluruh dunia. \u201dSebelum upaya rehabilitasi primata Jawa ini, Aspinall membantu pelestarian gorila di Afrika.<br \/>\nMengenai dana yang dikucurkan untuk PRSPJ ini, Made mengaku pihaknya tidak mematok angka. \u201dSelama rehabilitasi dilakukan, Aspinall akan menggunakan dana yang memang sudah disiapkan. Sampai saat ini karni sudah mengeluarkan dana Rp 2 miliar,\u201d ucapnya.<br \/>\nPRSPJ seluas 12 hektare ini terletak di jalur wisata Ciwidey, kawasan Bandung selatan. Peresmian PRSPJ ini menambah pusat konservasi satwa liar yang sudah ada di delapan unit di Indonesia, antara lain di Yogyakarta, Malang, Jakarta, dan Sukabumi.<br \/>\nNama Media : SUARA PEMBARUAN<br \/>\nTanggal \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Kamis, 15 September 2011, Hal. 20<br \/>\nPenulis \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :<br \/>\nTONE \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : NETRAL<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kementerian Kehutanan mengklaim, volume perdagangan internasional produk tumbuhan dan satwa liar (TSL) 2011 turun signifikan sampai 10 persen dari tahun lalu. Penurunan itu, salah satunya karena upaya intensif pemerintah menggalang kerja sama dengan banyak pihak, termasuk dengan berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM). \u201dKita bekerja sama dengan masyarakat dan LSM sehingga bisa terpantau jika ada aktivitas [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[13],"tags":[86,87],"class_list":["post-1071","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-publikasi-media","tag-biodiversity-2","tag-konservasi"],"acf":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1071","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1071"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1071\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":203581,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1071\/revisions\/203581"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1071"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1071"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1071"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}