{"id":11059,"date":"2013-12-01T14:43:38","date_gmt":"2013-12-01T07:43:38","guid":{"rendered":"http:\/\/perhutani.co.id\/?p=11059"},"modified":"2013-12-01T14:43:38","modified_gmt":"2013-12-01T07:43:38","slug":"jurus-menulis-cerpen-genre-sastra-hijau","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/jurus-menulis-cerpen-genre-sastra-hijau\/","title":{"rendered":"Jurus Menulis Cerpen Genre Sastra Hijau"},"content":{"rendered":"<p><strong>Bersama NANING PRANOTO dan SOESI SASTRO<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>\n<h4><b>Salah satu cara\u00a0 untuk memenangi Lomba Menulis Cerpen Perhutani Green Pen Award<\/b><\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong><em>Apakah Sastra Hijau?<\/em>\u00a0<\/strong> Disebut pula sebagai ekokritisisme (ecocritism). Yaitu, Konsep kearifan ekologi dipadukan ke dalam karya sastra, demikian pendapat \u00a0Cheryll Glotfelty dan Harold Fromm.\u00a0 Sastrawan Indonesia, Ahmad Tohari, menyebut Sastra Hijau sebagai Sastra Imani, yaitu sastra yang mampu meningkatkan kesadaran hidup bergantung pada alam (bumi dan seluruh isinya). Kesimpulannya, Genre Sastra Hijau ditulis untuk melestarikan bumi serta isinya. Khususnya hutan tropis dan lingkungan hidup manusia. Gerakan Sastra Hijau mulai gencar ditulis pada tahun 70-an, di negara-negara yang masyarakatnya peduli lingkungan. Misalnya di Brazil, Australia dan Amerika. Walau sebetulnya, Sastra Hijau telah ditulis sejak\u00a0 puluhan tahun yang lalu di berbagai benua.<br \/>\n<em><strong>Mengapa melalui Sastra?<\/strong> <\/em>Salah satu upaya penyelamatan bumi melalui proses penyadaran bisa dilancarkan melalui gerakan budaya (cultural) terutama dengan memanfaatkan kekuatan sastra, baik dalam bentuk prosa maupun puisi. Kelebihan dan keunggulan sastra, ia memiliki potensi yang ampuh dalam menyadarkan hati nurani manusia sejagat, tanpa harus bernada menggurui atau propaganda yang terlalu bombastis.<br \/>\n<em><strong>Apa sumber utama inspirasi untuk menulis Sastra Hijau?<\/strong><\/em> Menjadikan Bumi dan isinya \u00a0sebagai inspirasi, kekaguman dan sekaligus keprihatinan. Intinya, pemulian, pemulihan, pelestarian (penyatuan antara manusia dan alam serta isinya, didukung kemahaan penciptaNya. Maka tepat pula ditegaskan bahwa Sastra Hijau mengandung unsur Sastra Profetik, Sastra Kenabian.<br \/>\n<em><strong>Bagaimana caranya Sastra Hijau untuk menulis cerita pendek (cerpen)?<\/strong><\/em> Tidak ada bedanya dengan menulis cerpen biasanya. Hanya, ruhnya yang warnanya lain, yaitu ruh Sastra Hijau, seperti yang telah dipaparkan pada Butir 1 \u2013 3.<br \/>\n<em><strong>Apa itu cerpen?<\/strong><\/em> Karya fiksi, rekaan atau dipadu dengan fakta, ditulis pendek. Cerpen yang ditulis untuk mengikuti Lomba Menulis Cerpen Perhutani Green Pen Award, standarnya sebagai berikut:<\/p>\n<ul>\n<li>Panjang Cerpen:\u00a0\u00a0\u00a0 2.000 \u2013 5.000 kata (4 \u2013 10 halaman kertas A4, jarak 1,5 spasi, huruf Times New Roman<\/li>\n<li>Gaya penyajian bebas (jika mungkin inovatif)<\/li>\n<li>Diperbolehkan disisipi puisi atau ditulis dengan bahasa liris<\/li>\n<li>Menyelesaikan masalah (tidak harus happy ending)<\/li>\n<\/ul>\n<p><em><strong>Apa standar sebuah cerpen?<\/strong><\/em> Cerpen yang idel mengandung 7 (tujuh) elemen yaitu:<b> <\/b>Plot,<b> <\/b>Sudut Pandang (gaya bercerita menggunakan orang pertama, orang kedua atau orang ketiga) , Tokoh (Pelaku), Dialogis (isinya dapat ditangkap pembacanya), Konflik (internal dan external), Setting (tempat dan waktu) dan Mood (suasana hati\/atmosfir<b>) <\/b><i>Mood<\/i> (suasana hati\/atmosfir)<br \/>\n<em><strong>Apa keunikan dari Sastra Hijau?<\/strong> <\/em>\u00a0Menulis Sastra Hijau sungguh menarik dan unik, karena pelakunya tidak harus manusia. Semua benda, unsur-unsur semesta\u00a0 atau makluk hidup yang ada di atas bumi bisa dijadikan tokoh. Misalnya, gergaji pemotong kayu, banjir, tsunami, angin, daun, sungai, burung, pohon, tanaman hias dan sebagainya. Setting juga bebas, menggunakan bumi dan lingkupnya. Dapat disimpulkan Sastra Hijau merupakan \u2018potret\u2019 lengkap yang melingkupi kehidupan manusia dan seluruh ciptaanNya. Sumber inspirasnya berada di mana-mana, bahkan dalan nafas manusia dan makluk hidup lainnya.<br \/>\n<em><strong>Bagaimana soal setting?<\/strong><\/em> Setting tempat, \u00a0gunakan hutan atau \u00a0lingkungan hidup sekitar kita. Setting waktu, bebas, yang penting logis dan runtut.<br \/>\n<em><strong>Apa saja modal yang diperlukan untuk menulis Sastra Hijau?<\/strong><\/em><b> <\/b>Ide cerita nengacu pada konsep Sastra Hijau, dipadu imajinasi, gunakan\u00a0 diksi sesuaikan dengan konsep Sastra Hijau. Jangan lupa terapkan 7 (tujuh) elemen cerpen. Langkah selanjutnya, mantapkan dalam mengolah konflik hingga menciptakan\u00a0 dramatic art. Usahakan, lakukan inovasi gaya bercerita dan penyajiannya<br \/>\n<em><strong>Langkah apa yang perlu dilakukan agar menulis cerpen bisa lancar?<\/strong><\/em> Pertama, buat konsep dulu, mengacu pada 7 (tujuh) elemen cerpen. Himpun bahan yang akan ditulis dan renungkan. Jika mengalami kebuntuan, berhenti sejenak atau membaca referensi. Baru, kemudian melanjutkan menulis. Cari waktu yang paling menyenangkan untuk menulis atau menulis pada saat waktu yang Anda anggap produktif, yang disebut jam-jam emas (the golden time).<br \/>\n<em><strong>Bagaimana dengan penciptaan judul? Berdasarkan teori creative writing, rumus judul sebagai berikut:<\/strong><\/em><\/p>\n<ul>\n<li>Harus <i>catchy (<\/i>menarik,mudah diingat)<\/li>\n<li>Terdiri 1 \u2013 5 Kata<\/li>\n<li>Pilih\u00a0 kata-kata yang tepat dan kuat<\/li>\n<li>Kalau perlu kontroversial<\/li>\n<li>Bahasa liris dan diksi yang kuat<\/li>\n<li>Contoh:<\/li>\n<li>1. Lukisan Luka Garba Bunda<\/li>\n<li>2. The Song of Spring<\/li>\n<li>3. Rainbow on Your Eyes<\/li>\n<li>4. Menembus Penjara Kabut<\/li>\n<\/ul>\n<p><em><strong>Apa bedanya judul dengan kalimat?<\/strong><\/em> \u00a0Kalimat adalah kumpulan kata yang mengandung 1 (satu) makna. Sedangkan judul, bisa terdiri dari satu kata atau lebih dari satu kata, mengandung multimakna.<br \/>\n<em><strong>Unsur apa saja yang harus dihindari agar cerpen yang kita tulis menarik?<\/strong><\/em><\/p>\n<ul>\n<li>Cerita tidak bertele-tele<\/li>\n<li>Materi cerita bukan jiplakan \u00a0atau mengekor yang sudah ada (sebaiknya original)<\/li>\n<li>Alur tidak \u00a0acak-acakan (buat mengalir atau disebut flowing)<\/li>\n<li>Isi tidak menggurui<\/li>\n<li>Tidak banyak menggunakan jargon atau istilah-istilah asing<\/li>\n<li>Tidak ditulis dengan kalimat panjang (kalimat yang ideal 8 \u2013 12 kata)<\/li>\n<li>Teliti dalam penggunaan tanda baca<\/li>\n<\/ul>\n<p><em><strong>Tips memenangi Lomba Menulis Cerpen antara lain:<\/strong><\/em><\/p>\n<ul>\n<li>Baca teliti pengumumannya dan laksanakan persyaratan yang ditetapkan<\/li>\n<li>Persiapkan materi cerita yang akan ditulis<\/li>\n<li>Ciptakan cerita karya asli, menarik, memberi pencerahan dan inovatif<\/li>\n<li>Tidak menjiplak karya orang lain<\/li>\n<li>Kirimkan naskah cerita Anda jauh waktu sebelum <i>deadline<\/i>\/penutupan lomba, dengan penuh percaya diri<\/li>\n<li>Hindari menghubungi panitia<\/li>\n<li>Tanamkan prinsip: Kalah dan menang bukan tujuan utama, melainkan: Berkarya untuk Pencerahan Pelestarian Bumi \u2013 inilah Pemenang Sejati<\/li>\n<\/ul>\n<p>Selamat berkarya dan berprestasi. Salam Sastra Hijau.<br \/>\n<em>Tips:<\/em> (Didedikasikan untuk masyarakat luas. Bagi yang mengutip, harap menyebutkan sumbernya)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bersama NANING PRANOTO dan SOESI SASTRO Salah satu cara\u00a0 untuk memenangi Lomba Menulis Cerpen Perhutani Green Pen Award Apakah Sastra Hijau?\u00a0 Disebut pula sebagai ekokritisisme (ecocritism). Yaitu, Konsep kearifan ekologi dipadukan ke dalam karya sastra, demikian pendapat \u00a0Cheryll Glotfelty dan Harold Fromm.\u00a0 Sastrawan Indonesia, Ahmad Tohari, menyebut Sastra Hijau sebagai Sastra Imani, yaitu sastra yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":11008,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[153,293],"tags":[],"class_list":["post-11059","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-info_publik","category-perhutani-green-pen-award"],"acf":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11059","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11059"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11059\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11059"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11059"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11059"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}