{"id":1316,"date":"2011-06-23T22:04:45","date_gmt":"2011-06-23T15:04:45","guid":{"rendered":"http:\/\/perhutani.co.id\/id\/?p=1316"},"modified":"2022-04-04T12:57:20","modified_gmt":"2022-04-04T12:57:20","slug":"perum-perhutani-akan-jadi-induk-bumn-perhutanan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/perum-perhutani-akan-jadi-induk-bumn-perhutanan\/","title":{"rendered":"Perum Perhutani Akan Jadi Induk BUMN Perhutanan"},"content":{"rendered":"<p>Kementerian BUMN tengah mempersiapkan pembentukan holding (induk perusahaan)\u00a0 perhutanan dengan menunjuk Perum Perhutani.<br \/>\n&#8220;Nanti skema holding BUMN\u00a0 perhutanan berbeda dengan holding BUMN perkebunan ataupun BUMN pupuk. Kalau BUMN pupuk dan BUMN perkebunan, induknya\u00a0 non operating, BUMN perhutanan\u00a0 induknya operating, yakni Perum\u00a0 Perhutani,&#8221; ujar Deputi Bidang \u00a0Industri Primer Megananda Daryono di Jakarta, Rabu (22\/6).<br \/>\nMegananda menjelaskan, Perum Perhutani nantinya menjadi induk perusahaan perhutanan, sedangkan\u00a0 Inhutani I, II, III, IV, dan V, akan\u00a0 menjadi anak-anak usahanya. Ditunjuknya Perhutani disebabkan di antara BUMN perhutanan, kinerja Perum Perhutani terbilang paling\u00a0 cemerlang.<br \/>\n&#8220;Kalau PTPN, kondisinya hampir mirip satu sama lain, meskipun ada beberapa PTPN yang kondisinya kurang bagus. Tetapi kalau kehutanan, kondisinya berbeda, BUMN perhutanan, yang bagus hanya Perum Perhutani. Inhutani\u00a0 kondisinya sudah tidak bagus. Kalaupun membukukan laba, labanya hanya Rp 12 miliar. Masa BUMN labanya hanya Rp 12 miliar. Beda dengan Perum Perhutani yang labanya sudah ratusan miliar,&#8221; ungkap dia.<br \/>\nSelain itu, Megananda mengungkapkan, kondisi PT Inhutani IV saat ini pun sudah tidak bankable, berbeda dengan Perum Perhutani.\u00a0 Oleh karena itu, sambil menunggu holding terbentuk, Perum Perhutani sudah melakukan kerja sama\u00a0 dengan PT Inhutani berupa penyaluran pinjaman.<br \/>\n&#8220;Jadi sekarang, Perum Perhutani\u00a0 tarik kredit untuk digunakan di Inhutani. Sudah jalan sekarang,\u00a0 sambil menunggu holding BUMN perhutanan. Jadi sekarang konsepnya sinergi,&#8221; jelas dia.<br \/>\nSaat ini, menurut Meganada, Kementerian BUMN tengah merampungkan konsep dari holding\u00a0 BUMN perhutanan. Setelah rampung, konsep tersebut akan diajukan ke Kementerian Keuangan.<br \/>\n&#8220;Jadi tidak menunggu BUMN perkebunan selesai, nanti kami langsung ajukan ke Kementerian Keuangan kalau konsep holding\u00a0 BUMN perhutanan sudah siap,&#8221;\u00a0 ungkap dia.<br \/>\nTerkait dengan holding BUMN perkebunan, menurut Megananda, nantinya, berupa perusahaan baru. Sedangkan, PT Perkebunan Nusantara I-XIV dan PT Rajawali Nusantara Indonesia akan menjadi anak\u00a0 anak usahanya.<br \/>\n&#8220;Saat ini prosesnya sudah mau selesai di Kementerian Keuangan. Setelah itu dilanjutkan prosesnya di Sekretarlat Negara. Paling lambat akhir tahun BUMN perkebunan sudah terbentuk, tetapi sepertinya bisa terbentuk pada kuartal III 2011,&#8221; tambah dia.<br \/>\nNama Media : INVESTOR DAILY<br \/>\nTanggal \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Kamis, 23 Juni 2011 hal 20<br \/>\nTONE \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : POSITIVE<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kementerian BUMN tengah mempersiapkan pembentukan holding (induk perusahaan)\u00a0 perhutanan dengan menunjuk Perum Perhutani. &#8220;Nanti skema holding BUMN\u00a0 perhutanan berbeda dengan holding BUMN perkebunan ataupun BUMN pupuk. Kalau BUMN pupuk dan BUMN perkebunan, induknya\u00a0 non operating, BUMN perhutanan\u00a0 induknya operating, yakni Perum\u00a0 Perhutani,&#8221; ujar Deputi Bidang \u00a0Industri Primer Megananda Daryono di Jakarta, Rabu (22\/6). Megananda menjelaskan, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-1316","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-publikasi-media"],"acf":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1316","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1316"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1316\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":203647,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1316\/revisions\/203647"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1316"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1316"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1316"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}