{"id":1321,"date":"2011-06-24T22:06:42","date_gmt":"2011-06-24T15:06:42","guid":{"rendered":"http:\/\/perhutani.co.id\/id\/?p=1321"},"modified":"2022-04-04T12:57:19","modified_gmt":"2022-04-04T12:57:19","slug":"yang-kedua-buat-kosasih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/yang-kedua-buat-kosasih\/","title":{"rendered":"Yang Kedua Buat Kosasih"},"content":{"rendered":"<p>ANS Kosasih,\u00a0<em>Top Ten Indonesia Best CFO 2010<\/em>, tahun ini berhasil menempati peringkat kedua Indonesia Best CFO.\u00a0 Sebagai Direktur Keuangan Perum Perhutani, Sarjana Ekonomi lulusan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta serta S-2 Keuangan dan Investasi IPMI ini mampu membangun sistem keuangan terpadu yang memenuhi standar\u00a0<em>good corporate governance<\/em>\u00a0dari Kelas BBB (kurang sehat) pada 2007 menjadi AA (sangat sehat) pada 2008, 2009 dan 2010.\u00a0 Alhasil, sejak pengelolaan keuangan dipercayakan kepadanya pada 2008, laba bersih perusahaan 2008 dan 2009 naik empat kali lipat dibanding 2007 dan pada 2010 meningkat hampir tujuh kali lipat dibanding 2007.<br \/>\nBergabung dengan Perum Perhutani pada 2008, Kosasih adalah salah satu sosok dibalik keberhasilan Perhutani melakukan\u00a0<em>financial engineering<\/em>.\u00a0 Dari pendapatan Rp 2,16 Triliun pada 2007 dengan laba Rp 51,48 miliar dan laba bersih Rp 39 miliar, tahun 2008 terjadi perubahan signifikan.\u00a0 Dari sudut income kenaikannya tak jauh, yakni dari Rp 2,16 triliun menjadi Rp 2,31 triliun.\u00a0 Namun, pelolehan laba meningkat empat kali lipat, dari Rp 51,48 miliar menjadi Rp 219,29 miliar dengan laba bersih Rp 164,14 miliar.\u00a0 Tahun 2010, pendapatan mencapai Rp 2,79 triliun, laba usaha sebelum padak menembus Rp 325,45 miliar dengan laba bersih Rp 275,76 miliar.\u00a0 \u201cProfitnya yang naik.\u00a0 Kami hanya membetulkan valasnya, transaksi bisnisnya, membuat sistem keuangan bagus,\u201d paparnya.<br \/>\n\u201cPencapaian profit sampai tujuh kali lipat merupakan\u00a0<em>break through<\/em>\u00a0yang dihasilkannya,\u201d ungkap Sughiarto yang juga Menteri BUMN Kabinet Indonesia Bersatu 2004-07.\u00a0 Menurut Hasan, Kosasih mempunyai jurus-jurus yang memang harus orang keuangan yang mengerjakannya.\u00a0 \u201cDia orang luar Perhutani yang mampu mengubah cara berifikir dan mengubah aturan main\u00a0<em>intern<\/em>\u00a0di Perhutani.\u00a0 Dia mampu meciptakan nila\u00a0<em>capital expenditure<\/em>\u00a0yang sebelumnya tidak dimiliki.\u00a0 Dia menciptakan nilai keuangan dari asset yang ada,\u201d demikian komentarnya terhadap Direktur Keuangan Perhutani ini.<br \/>\n\u201cKalau sama sekali tidak mengerti\u00a0<em>finance<\/em>, kita akan menjalankan bisnis dengan<em>ngawur<\/em>.\u00a0 Sebaliknya, mengerti\u00a0<em>finance<\/em>\u00a0tapi tidak jeli ke mana arah bisnis perusahaan, kita tidak bisa\u00a0<em>action<\/em>\u00a0atas\u00a0<em>plan<\/em>, membuat rencana keuangan bisa kacau,\u201d ungkap Kosasih.\u00a0 Perlu waktu lebih dari dua dasawarsa untuk mencapai pada pergulatannya hari ini. Pasalnya, sepanjang kariernya, ia lebih banyak berkutat di bidang penjualan.\u00a0 Jejak karier pria kelahiran Jakarta 12 Juli 1070 ini bisa dilihat di PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia, Citibank NA, PT Nestle Indonesia, Group Orang Tua, serta PT Procter &amp; Gamble Indonesia.\u00a0 \u201cDi tahun pertama, saya seperti juru kampaye mensosialisasikan kodnisi keuangan perusahaan bahwa kalau kami tidak melakukan apa-apa Perhutani bisa tutup,\u201d ungkap Kosasih.<br \/>\nSumber: Majalah SWA No. 13\/XXVII\/23 Juni &#8211; 6 Juli 2011, hal 90<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ANS Kosasih,\u00a0Top Ten Indonesia Best CFO 2010, tahun ini berhasil menempati peringkat kedua Indonesia Best CFO.\u00a0 Sebagai Direktur Keuangan Perum Perhutani, Sarjana Ekonomi lulusan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta serta S-2 Keuangan dan Investasi IPMI ini mampu membangun sistem keuangan terpadu yang memenuhi standar\u00a0good corporate governance\u00a0dari Kelas BBB (kurang sehat) pada 2007 menjadi AA (sangat sehat) [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":1324,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-1321","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-publikasi-media"],"acf":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1321","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1321"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1321\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":203645,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1321\/revisions\/203645"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1321"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1321"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1321"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}