{"id":1504,"date":"2011-03-28T11:57:12","date_gmt":"2011-03-28T04:57:12","guid":{"rendered":"http:\/\/perhutani.co.id\/id\/?p=838"},"modified":"2022-04-04T12:57:30","modified_gmt":"2022-04-04T12:57:30","slug":"walhi-desak-perhutani-keluar-dari-hutan-jabar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/walhi-desak-perhutani-keluar-dari-hutan-jabar\/","title":{"rendered":"Walhi Desak Perhutani Keluar dari Hutan Jabar"},"content":{"rendered":"<p>Lembaga Swadaya Masyarakat, Wahana  Lingkungan Hidup Indonesia  (Walhi) Jawa Barat (Jabar)  mendesak pemerintah untuk  mengeluarkan Perum Perhutani dari manajemen kehutanan  di Jabar, karena dianggap tak  mampu mengembalikan fungsi hutan.<br \/>\nDirektur Walhi Jabar, Dadan Rahmat menuding Perhutani sebagai penyebab makin terbatasnya akses rakyat untuk  mengelola hutan. Padahal, keterlibatan masyarakat menjadi solusi penting mengatasi kerusakan ekologis di Jabar yang dalam kondisi kritis dan genting. &#8220;Ini sikap politik Walhi.  Berdasarkan investigasi yang kami lakukan, Perhutani tidak serius dalam mengelola hutan,&#8221; ujar Dadan di Bandung,  Kamis (24\/3).<br \/>\nWalhi menggambarkan situasi lahan kritis di Jabar lebih  dari separuh luas lahan hutan  yang ada saat ini. Sedikitnya  600.000 hektare dari total 1,1  juta ha lahan hutan terpantau dalam kondisi kritis. &#8220;Sebagian  besar lahan kritis itu ada di lahan  Perhutani,&#8221; tegas Dadan.<br \/>\nInvestigasi yang dilakukan  anggota Walhi Jabar di lapangan, menurut Dadan, antara lain  menemukan praktik lahan-lahan kritis yang justru dibiarkan  ditanami sayuran seperti kol, cabai sehingga fungsi ekologis  lahan hutan berkurang. Selain  itu, di beberapa lokasi juga ditemukan oknum Perhutani,  yang justru memperjualbelikan  air dari mata air di hutan.<br \/>\nBahkan di beberapa lokasi di Garut ditemukan, beberapa  hektare lahan Perhutani digunakan untuk ladang ganja.  &#8220;Bagaimana mereka terus bisa  dipercaya untuk menjaga hutan di Jabar kalau mereka tak  bisa mengelola lahan dengan  baik,&#8221; ujar Dadan.<br \/>\nSecara umum, WaIhi Jabar  melihat tata kelola hutan di Jabar menjadi kunci penting  yang harus diperbaiki. Karena kegagalan Pemerintah Provinsi Jabar dan pemerintah 26 wilayah kota\/kabupaten menegakkan hukum tata ruang dan  lingkungan untuk memulihkan kondisi ekologi Jabar, termasuk ketidakmampuan pemerintah menahan laju konversi lahan sawah menjadi industri dan pemukiman yang  mencapai 0,3%\/ tahun.<br \/>\nSelain wilayah hutan, 65%  daerah aliran sungai di Jabar  dalam kondisi rusak. Kerusakan terbesar di DAS Citarum,  Citanduy, Cimanuk, dan Ciwulan. Kondisi itu terus berdampak pada penurunan debit  sumber air dan ketersediaan  air permukaan.<br \/>\n&#8220;Kami khawatir, kerawanan air di Citarum saja akan  mengancam pasokan energi  Iistrik di pembangkit Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur  Purwakarta,&#8221; papar Dadan.<br \/>\nWalhi mengkhawatirkan  jika situasi ekologis dibiarkan  maka ancaman bencana dan  krisis air secara parah akan terus berlangsung mengancam  keselamatan sekitar 43 juta  warga di Jabar.<br \/>\nMerger<br \/>\nAlih-alih membubarkan  Perum Perhutani, pemerintah  maIah akan meniru tata kelolanya untuk menghijaukan daerah di luar Pulau Jawa. Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan  mengatakan pola penanaman  yang dilakukan Perum Perhutani diajukan kepada Kementerian BUMN untuk ditiru oleh  PT Inhutani di luar Pulau Jawa. &#8220;Karena Inhutani itu di luar Pulau Jawa tidak berhasil  melakukan penanaman,&#8221; kata  dia di Bandung, Rabu (23\/3).<br \/>\nZulkifli mengungkapkan,  dirinya sudah mengusulkan  kepada Kementerian BUMN  untuk melakukan merger antara Perhutani dengan Inhutani  &#8220;Ini agar ilmu menanam itu  bisa dikembangkan ke luar  Pulau Jawa. Lihat saja di Jawa Tengah dan Jawa Tirnur, (penanaman) pohon jatinya besar-besar,&#8221; ujarnya.<br \/>\nSementara saat dimintai.  komentar tentang desakan  Walhi Jabar, Bambang Setiabudi, Kepala Perum Perhutani  Unit III Jabar-Banten menyatakan, pihaknya siap membeberkan seluruh data terkait  upaya penghijauan yang sudah dilakukannya.<br \/>\nMenurut dia, lahan Perhutani itu hanya 20% dari seluruh lahan hutan di Jawa Barat.  &#8220;Yang paling sering diributkan itu lahan di kawasan cekungan Bandung, lahan kami  di sana hanya 15% dan itu tidak ada yang terbuka lahannya,&#8221; kata Bambang.<br \/>\nDia malah mempertanyakan komitmen Walhi Jabar,  yang sebelumnya sudah diundang bersama NGO lainnya  untuk membahas rehabilitasi  di luar kawasan yang dikuasai  oleh Perhutani. &#8220;Mereka sudah kita undang malah kabur.  Kami sengaja mengundang  carena ingin bersama-sama  menghijaukan kerusakan yang  lebih besar di luar lahan Perhutani.&#8221;<br \/>\nNama Media : SUARA PEMBARUAN<br \/>\nTanggal       : Sabtu, 26 Maret 2011 hal 13<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lembaga Swadaya Masyarakat, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat (Jabar) mendesak pemerintah untuk mengeluarkan Perum Perhutani dari manajemen kehutanan di Jabar, karena dianggap tak mampu mengembalikan fungsi hutan. Direktur Walhi Jabar, Dadan Rahmat menuding Perhutani sebagai penyebab makin terbatasnya akses rakyat untuk mengelola hutan. Padahal, keterlibatan masyarakat menjadi solusi penting mengatasi kerusakan ekologis di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-1504","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-publikasi-media"],"acf":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1504","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1504"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1504\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":203783,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1504\/revisions\/203783"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1504"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1504"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1504"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}