{"id":1506,"date":"2011-03-29T11:58:11","date_gmt":"2011-03-29T04:58:11","guid":{"rendered":"http:\/\/perhutani.co.id\/id\/?p=842"},"modified":"2022-04-04T12:57:30","modified_gmt":"2022-04-04T12:57:30","slug":"dua-hektare-hutan-rusak-setiap-tahun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/dua-hektare-hutan-rusak-setiap-tahun\/","title":{"rendered":"Dua Hektare Hutan Rusak Setiap Tahun"},"content":{"rendered":"<p>Laju perusakan hutan di Indonesia berlangsung amat cepat sehingga sudah mencapai  dua juta hektare per tahun atau  dua kali lebih cepat dari laju reboisasi. Akibatnya, luas hutan  di Indonesia selama 50 tahun  terakhir telah berkurang dari  162 juta hektare menjadi 98 juta hektare.<br \/>\nHal itu dikatakan Direktur  Agroforestry PT BUMN Hijau  Lestari I, Ir. H. Dedi Setiadi Sukarya, dalam keterangannya,  Minggu (27\/3). Sebelumnya, ia  mengikuti kegiatan penanaman  pohon yang dilakukan PT  BUMN Hijau Lestari I bekerja  sarna dengan PT J amsostek  Kanwil IV Jabar dan Banten di  Desa Mekarlaksana, Kec. Ciparay, Kab. Bandung.<br \/>\nSebagai upaya mengatasi lahan-lahan kritis di Kab. Bandung, PT BUMN Hijau Lestari  I berupaya menanami kembali dengan konsep agroforesty.  &#8220;Kami melakukan penghijauan  dengan menanam berbagai  macam tanaman hutan dan  pertanian serta pemberdayaan  masyarakat sekitar,&#8221; ujarnya.<br \/>\nPohon-pohon yang ditanam  adalah jenis tanaman yang bisa dipanen masyarakat untuk  menghasilkan gula cair, gula,  bioetanol, tepung, dan minyak  atsiri. &#8220;Oleh karena itu, kami  menanam pepohonan seperti  aren, jabon, manglid, mindi,  suren, dan sengon di pinggiran Sungai Citarum. Sampai saat ini penanaman pohon di lahan masyarakat sudah dilakukan di 16 desa di 6 kecamatan  di Kab. Bandung dengan total  luas lahan 1.360 hektare,&#8221;  ucapnya.<br \/>\nSuperprioritas<br \/>\nSementara itu, Direktur Pengembangan Bisnis SDM dan  Umum PT BUMN Hijau Lestari I, Ir. Ali Rahman mengatakan, Daerah Aliran Sungai  (DAS) Citarum yang melewati  dua belas sub-DAS menjadi superprioritas nasional, bahkan  dunia. &#8220;Kerusakan lingkungan DAS Citarum sudah sangat  mengkhawatirkan. Padahal, air  dari DAS Citarum menyuplai  tiga waduk besar yaitu Cirata,  Saguling, dan Jatiluhur,&#8221; ucapnya.<br \/>\nNamun, saat ini DAS Citarum memiliki masalah serius,  yaitu meluap dan menggenangi  daerah di sekitarnya di musim  hujan, tetapi kekeringan di musim kemarau. &#8220;Dengan panjang  269 kilometer, DAS Citarum  menjadi DAS terpanjang di Jawa Barat dan menjadi sumber  air bagi delapan kota\/kabupaten, termasuk mengairi 300.000 hektare sawah,&#8221; katanya.<br \/>\nUntuk lebih mengoptimalkan penghijauan di DAS Citarum, PT BUMN Lestari I menjalin kerja sarna dengan PT  Jamsostek Kanwil IV Jabar-Banten melalui program Jamsostek Peduli Penghijauan di  Desa Mekarlaksana, Kec. Ciparay. &#8220;Desa Mekarlaksana merupakan sub-DAS Cisaria, sebagai salah satu daerah kritis. Sebagai langkah awal, PT Jamsostek melakukan penanaman  1.500 bibit pohon di lahan masyarakat seluas 3,7 hektare,&#8221;  kata Kabag Program Khusus  PT Jamsostek Kanwil IV Jabar-Banten, Ronny Irawan. (A-  )***<br \/>\nNama Media : PIKIRAN RAKYAT<br \/>\nTanggal        : Selasa, 29 Maret 2011 hal 3<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Laju perusakan hutan di Indonesia berlangsung amat cepat sehingga sudah mencapai dua juta hektare per tahun atau dua kali lebih cepat dari laju reboisasi. Akibatnya, luas hutan di Indonesia selama 50 tahun terakhir telah berkurang dari 162 juta hektare menjadi 98 juta hektare. Hal itu dikatakan Direktur Agroforestry PT BUMN Hijau Lestari I, Ir. H. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-1506","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-publikasi-media"],"acf":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1506","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1506"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1506\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":203781,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1506\/revisions\/203781"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1506"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1506"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1506"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}