{"id":15942,"date":"2014-12-03T10:22:29","date_gmt":"2014-12-03T03:22:29","guid":{"rendered":"http:\/\/perhutani.co.id\/?p=15942"},"modified":"2022-04-04T12:55:32","modified_gmt":"2022-04-04T12:55:32","slug":"sukses-bangun-bisnis-mebel-untuk-pasar-internasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/sukses-bangun-bisnis-mebel-untuk-pasar-internasional\/","title":{"rendered":"Sukses Bangun Bisnis Mebel Untuk Pasar Internasional"},"content":{"rendered":"<p>Berkecimpung di dunia mebel sejak sebagai pegawai, membawa Christianto Prabawa sukses menjadi pengusaha. Dia menyasar pasar internasional untuk memasarkan mebelnya. Omzetnya mencapai Rp 3 miliar per bulan.<!--more--><br \/>\nMEMILIKI pengalaman selama lebih dari 16 tahun di bidang industri mebel, Christianto Prabawa sukses menjadi pengusaha mebel yang fokus untuk memenuhi permintaan pasar internasional.<br \/>\nLewat CV Mebel International, lakilaki berusia 40 tahun ini berhasil membawa seluruh produk buatannya ke tokotoko mebel di Amerika Serikat (AS), Inggris, Italia, Jepang, Korea Selatan, Kanada, Australia, dan Abu Dhabi.<br \/>\nChristianto membuat produk mebel klasik khas Indonesia dengan kualitas yang terjaga. Sekitar 80% dari total produksinya dikirim ke Amerika dan sisanya untuk negara lain. Saat ini, dia mampu memproduksi mebel sebanyak 15 kontainer per bulan. Satu kontainer dapat berisi 100 unit hingga 150 unit mebel aneka jenis.<br \/>\nProduksi sebanyak itu masih bisa ditingkatkan lantaran kapasitas produksi pabriknya yang seluas 12.500 m itu mencapai 23 kontainer. Beragam jenis mebel dia produksi mulai dari tempat tidur, lemari, kursi dan banyak lagi. Ada sekitar jenis 500 model mebel yang dia buat.<br \/>\nUntuk memproduksi aneka mebel kayu tersebut, Christianto dibantu oleh 300 karyawan yang bekerja di perusahaannya yang berlokasi di Semarang, Jawa Tengah. Dia juga menjalin kerjasama dengan 29 pemasok yang merupakan para produsen mebel yang berada di daerah Jepara.<br \/>\nUntuk pengadaan bahan baku kayu biasanya selama ini dia mengambil dari Perhutani. Namun ketika musim hujan, pasokan bahan baku kayu seret lantaran panen menurun. Dia menggunakan kayu jenis mahogani untuk setiap mebelnya.<br \/>\nChristianto membanderol harga jual produknya sekitar US$ 25.000 atau sekitar Rp 302 juta per kontainer. Bila dikalkulasi dia bisa mengantongi omzet hingga Rp 3 miliar per bulan dari usahanya ini. Meski total penjualannya terbilang besar, keuntungan bersihnya hanya sekitar 5% hingga 10% per kontainer.<br \/>\n&#8220;Tapi bila nilai tukar dollar AS terhadap rupiah sedang menguat maka keuntungan bisa makin besar,&#8221; ujar dia.<br \/>\nTidak setiap bulan penjualannya mencapai angka sebesar itu. Biasanya pada momen akhir tahun atau pada musim panas, penjualannya sedikit menurun. Sebab, pada momen-momen tersebut, konsumennya yang seluruhnya berada di luar negeri banyak yang berlibur dan untuk sementara tidak mengurusi bisnisnya.<br \/>\nPria yang gemar bermain basket ini mendapatkan pelanggan dari jaringan yang dia bangun lewat pameran-pameran mebel yang kerap dia ikuti. &#8220;Meski jumlah pesanan tidak banyak, namun setiap konsumen atau rekanan harus dilayani dengan baik agar bisnis bisa terus berjalan,&#8221; kata dia.<br \/>\nAlasannya menyasar pasar luar negeri adalah dengan melakukan ekspor, pengusaha lokal bisa mendapatkan subsidi pajak. &#8220;Proses perpajakan jauh lebih sederhana bila seluruh produksinya ditujukan untuk pasar luar negeri,&#8221; kata dia.<br \/>\nAyah tiga anak ini memulai usaha ini pada tahun 2004 silam. Sebelumnya, Christianto adalah Direktur di salah satu perusahaan mebel asing di Semarang. Berbekal pengalamannya tersebut, dia memutuskan menjalankan usaha sendiri.<br \/>\nSumber\u00a0 : Kontan<br \/>\nTanggal\u00a0 : 3 Desember 2014<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berkecimpung di dunia mebel sejak sebagai pegawai, membawa Christianto Prabawa sukses menjadi pengusaha. Dia menyasar pasar internasional untuk memasarkan mebelnya. Omzetnya mencapai Rp 3 miliar per bulan.<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-15942","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-publikasi-media"],"acf":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15942","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15942"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15942\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":202280,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15942\/revisions\/202280"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15942"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15942"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15942"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}