{"id":159913,"date":"2021-02-17T17:06:17","date_gmt":"2021-02-17T10:06:17","guid":{"rendered":"https:\/\/perhutani.co.id\/?p=159913"},"modified":"2022-04-04T12:47:07","modified_gmt":"2022-04-04T12:47:07","slug":"perhutani-banyuwangi-lepas-ratusan-burung-pemakan-ulat-di-djawatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/perhutani-banyuwangi-lepas-ratusan-burung-pemakan-ulat-di-djawatan\/","title":{"rendered":"Perhutani Banyuwangi Lepas Ratusan Burung Pemakan Ulat di Djawatan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">NUSADAILY.COM (17\/02\/2021) | Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Perhutani Banyuwangi Selatan bersama PT Bumi Suksesindo (BSI) melepas ratusan burung pemakan ulat di destinasi wisata Djawatan, Kecamatan Benculuk. Selain untuk konservasi, pelepasan burung pemakan ulat ini juga untuk memberikan kenyamanan kepada pengunjung Djawatan dari gangguan hama ulat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u201cPelepasan burung pemakan ulat ini sebenarnya bagian dari konservasi yang menjadi tugas kami (Perhutani) selaku pengelola hutan. Ini sekaligus upaya untuk mengendalikan hama atau ulat yang bisa mengganggu wisatawan yang berkunjung ke Djawatan,\u201d kata ADM KPH Perhutani Banyuwangi Selatan, Panca Sihite, Rabu 17 Februari 2021.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Diakui Panca, selama Pandemi Covid-19 ini, kunjungan wisatawan ke Djawatan dan sejumlah destinasi wisata di bawah naungan Perhutani mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan data kunjungan wisatawan di tiga destinasi milik Perhutani yakni Djawatan, Pulau Merah dan Grajagan, penurunannya mencapai 50 persen dibandingkan dengan sebelum masa pandemi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Untuk itulah, dibutuhkan inovasi-inovasi agar kunjungan wisatawan kembali normal, namun di sisi lain masyarakat terlindungi dari penyebaran Covid-19. \u201cTentu yang paling utama ialah pemenuhan sarana prasarana protokol kesehatan. Ini hukumnya wajib, untuk memberikan kepercayaan kepada wisatawan bahwa berwisata ke Banyuwangi aman dari Covid-19,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Selain itu, pihaknya juga berencana akan membuat paket wisata sehat serta menggelar atraksi atau festival di sejumlah destinasi wisata yang berada di bawah naungan Perhutani. \u201cKami akan berkolaborasi dengan stakeholder untuk menggelar atraksi atau festival. Tentunya, atraksi yang sesuai dengan protokol kesehatan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\nUntuk itulah, dibutuhkan inovasi-inovasi agar kunjungan wisatawan kembali normal, namun di sisi lain masyarakat terlindungi dari penyebaran Covid-19. \u201cTentu yang paling utama ialah pemenuhan sarana prasarana protokol kesehatan. Ini hukumnya wajib, untuk memberikan kepercayaan kepada wisatawan bahwa berwisata ke Banyuwangi aman dari Covid-19,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Selain itu, pihaknya juga berencana akan membuat paket wisata sehat serta menggelar atraksi atau festival di sejumlah destinasi wisata yang berada di bawah naungan Perhutani. \u201cKami akan berkolaborasi dengan stakeholder untuk menggelar atraksi atau festival. Tentunya, atraksi yang sesuai dengan protokol kesehatan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n\u201cKita juga akan bersinergi dengan destinasi wisata lain. Baik yang di Malang, jember, yang dikelola perhutani bisa disinergikan satu paket. Atau dengan pihak lain seperti Taman Nasional dan sebagainya,\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Gandeng LMDH<\/strong><br \/>\nUntuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tambah Panca, pihaknya juga menggandeng kelompok petani hutan atau LMDH dalam pengelolaan hutan. Hal ini bertujuan agar masyarakat bersama Perhutani sama-sama menjaga kelestarian hutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u201cDi sisi lain, masyarakat juga memperoleh manfaat untuk meningkatkan kesejahteraannya dari pengelolaan hutan tersebut. Seperti Kelompok Karang Semar di Siliragung. Ini ke depannya bisa kita kembangkan untuk wisata mangrove dan wisata alam lainnya,\u201d tutup Panca.Sementara Senior Manajer External Affairs PT BSI, Sudarmono mengatakan, pelepasan burung pemakan ulat ini merupakan bentuk partisipasi perusahaan tambang emas yang beroperasi di Tumpang Pitu dalam menjaga kelestarian lingkungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u201cFokus utama kita, selain profit oriented PT BSI juga memiliki kewajiban untuk memperhatikan sosial ekonomi masyarakat. Termasuk juga konservasi untuk menjaga kelestarian lingkungan. Salah satunya ialah dengan pelepasan burung pemakan ulat di Djawatan. Ada dua jenis burung yang kita lepas, Trocok dan Prenjak,\u201d imbunya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Sumber : <a href=\"https:\/\/nusadaily.com\/regional\/perhutani-banyuwangi-lepas-ratusan-burung-pemakan-ulat-di-djawatan.html\">nusadaily.com<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Tanggal : 17 Februari 2021<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>NUSADAILY.COM (17\/02\/2021) | Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Perhutani Banyuwangi Selatan bersama PT Bumi Suksesindo (BSI) melepas ratusan burung pemakan ulat di destinasi wisata Djawatan, Kecamatan Benculuk. Selain untuk konservasi, pelepasan burung pemakan ulat ini juga untuk memberikan kenyamanan kepada pengunjung Djawatan dari gangguan hama ulat. \u201cPelepasan burung pemakan ulat ini sebenarnya bagian dari konservasi yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":89,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[13],"tags":[32,89,113,19,20,21],"class_list":["post-159913","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-publikasi-media","tag-beritaperhutani","tag-csr","tag-kerjasama","tag-perhutani","tag-perum-perhutani","tag-perumperhutani"],"acf":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/159913","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/89"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=159913"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/159913\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":198959,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/159913\/revisions\/198959"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=159913"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=159913"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=159913"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}