{"id":174551,"date":"2021-07-25T13:14:14","date_gmt":"2021-07-25T06:14:14","guid":{"rendered":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/?p=174551"},"modified":"2022-04-04T12:46:49","modified_gmt":"2022-04-04T12:46:49","slug":"menggali-candi-klotok-mencari-jejak-sejarah-besar-kota-kediri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/menggali-candi-klotok-mencari-jejak-sejarah-besar-kota-kediri\/","title":{"rendered":"\u2018Menggali\u2019 Candi Klotok, Mencari Jejak Sejarah Besar Kota Kediri"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">RADARKEDIRI.JAWAPOS.COM (25\/07\/2021) | Keberadaan Gunung Klotok tidak bisa dipisahkan dari Gunung Wilis. Berbentuk perbukitan lokasinya berada di timur laut yang berdempetan dengan Gunung Wilis. Nama Gunung Klotok diperkirakan muncul pada tahun 1800-an.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Warga yang tinggal di Kelurahan Pojok, Mojoroto, Kota Kediri tidak mengetahui persis kapan anak Gunung Wilis itu dinamakan Gunung Klotok. Bahkan, orang tua yang kini berusia di atas 60 tahun tak pernah mendapat cerita bertuturnya. Warga setempat hanya mendapat cerita jika Gunung Klotok dulunya adalah telapak kaki Gunung Wilis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Penuturan itu disampaikan oleh Karno, 61, pedagang di lereng Gunung Klotok. \u201cSaya tidak pernah dapat cerita, kapan di sini namanya jadi Gunung Klotok,\u201d ujar pria asal Kelurahan Pojok itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kakek empat cucu ini hanya tahu jika nama Klotok muncul karena di sana banyak hewan yang berbahaya. Seperti ular dan binatang beracun lainnya. Warga di sana menyebutnya dengan kata kala-kala.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dari kata itulah kemudian muncul nama Klotok. Namun, tidak diketahui pasti kapan nama itu ditetapkan sebagai nama gunung sehingga menjadi Klotok. Pria yang sudah belasan tahun membuka usaha warung kopi itu mengaku tidak tahu bagaimana cerita asli gunung tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Baginya, keberadaan Gunung Klotok telah memberikan kehidupan. Ia bisa membuka usaha warung kopi di sana sejak 2004 lalu. Awalnya ada 17 orang yang membuka usaha serupa. Gubuk-gubuk di sana kian ramai setelah jalannya diaspal. Dua tahun berikutnya, warung kopi mulai menjamur. Jumlahnya sampai 70 pedagang yang menggantungkan hidup di area Gunung Klotok.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Tempat yang adem dan sepi layak jadi tempat cangkruk anak-anak muda. Saking ramainya, warung dibuka sampai malam hari. Karno bisa menempati lokasi tersebut setelah perhutani mengambil alih hutan. Ia bersama warga yang awalnya menggarap hutan, diberi kelonggaran untuk mendirikan warung kopi di area Klotok. Syaratnya, mereka ikut menjaga hutan di Gunung Klotok. \u201cSekarang sepi, jam buka dibatasi pukul 20.00 karena pandemi,\u201d akunya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sementara itu, Arkeolog Dwi Cahyono mengungkapkan, Gua Selomangleng dan Candi Klotok adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Sama halnya dengan Gunung Klotok dan Gunung Wilis. \u201cSaya menyebut Klotok itu sebagai anak Gunung Wilis yang dari dulu dikenal sebagai gunung suci,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kemunculan Gunung Klotok tidak lepas dari induknya Wilis. Meski sebenarnya Klotok adalah bukit orang dulu tetap mengacu pada induknya. Sehingga, namanya menjadi Gunung Klotok. Dwi juga mengenalkan istilah bukit suci untuk Gunung Klotok. Sebab, nama Klotok terbilang baru muncul sekitar dua abad lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dia mendapatkannya di Serat Chentini. Kata Klotok disebutkan berada di lereng timur Wilis. Ceritanya, perjalanan menuju ke Gua Selomangleng. \u201cDari sinilah saya perkirakan nama Klotok itu muncul pada 1800 awal,\u201d tutur Cahyono.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Adapun arti Klotok, lulusan Arkeologi Universitas Indonesia (UI) ini hanya melihat upaya orang-orang untuk utak-atik istilah. Masyarakat Jawa di Kediri mengenal dengan sebutan Kolotok yang artinya kala atau bahaya banyak binatang buas dan beracun.(rq\/ut\/bersambung)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Sumber : radarkediri.jawapos.com<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Tanggal : 25 Juli 2021<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>RADARKEDIRI.JAWAPOS.COM (25\/07\/2021) | Keberadaan Gunung Klotok tidak bisa dipisahkan dari Gunung Wilis. Berbentuk perbukitan lokasinya berada di timur laut yang berdempetan dengan Gunung Wilis. Nama Gunung Klotok diperkirakan muncul pada tahun 1800-an. Warga yang tinggal di Kelurahan Pojok, Mojoroto, Kota Kediri tidak mengetahui persis kapan anak Gunung Wilis itu dinamakan Gunung Klotok. Bahkan, orang tua [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":113,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[13],"tags":[4522,2300,19,20,21],"class_list":["post-174551","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-publikasi-media","tag-gunung-klotok","tag-kawasan-wisata","tag-perhutani","tag-perum-perhutani","tag-perumperhutani"],"acf":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/174551","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/113"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=174551"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/174551\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":198859,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/174551\/revisions\/198859"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=174551"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=174551"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=174551"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}