{"id":2163,"date":"2011-10-28T12:01:45","date_gmt":"2011-10-28T05:01:45","guid":{"rendered":"http:\/\/perhutani.co.id\/?p=2163"},"modified":"2022-04-04T12:57:11","modified_gmt":"2022-04-04T12:57:11","slug":"inang-kutu-penghasil-lak-cat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/inang-kutu-penghasil-lak-cat\/","title":{"rendered":"Inang Kutu Penghasil Lak Cat"},"content":{"rendered":"<p>Dalam industri kehutanan, pohon kesambi merupakan salah satu pohon inang terpenting bagi kutu lak (Laccifer lacca). Sebagai inang kutu lak kesambi berguna untuk tempat hidup dan menghisap makanan yang diambil pada bagian bawah kulit kayu. Di antara beberapa jenis tanaman yang dapat menjadi inang kutu lak, maka kulit kayu kesambi paling disenangi.<!--more--><br \/>\nLak dan syelak (shellac) yang dihasilkan kutu lak merupakan resin lengket yang sangat bermanfaat bagi manusia, Di antara kegunaan lak adalah, bahan plat gramaphone dan CD, bahan berbagai isolator listrik, isolasi, politur dan dempul mebel air, bahan pelapis anti air berbagai jenis kartu, bahan penyamakan kulit, bahan pengikat roda gerinda, bahan lak segel surat.<br \/>\nLak juga menjadi bahan pembuatan syelak tahan air, bahan industri topi vilt, bahan berbagai jenis semir dan cat rambut, bahan pembuatan barang-barang tembikar, bahan industri karet, bahan additive makanan untuk pelapis dan pengkilat makanan, kertas ampelas, bahan pembuatan kosmetik, bahan industri obat-obatan (wadah kapsul).<br \/>\nNegara utama penghasil lak adalah India. Di Indonesia, lak diproduksi oleh Perhutani KPH Probolinggo. Perusahaan Lak Banyukerto di Kota Probolinggo sudah berdiri sejak 1956 silam.<br \/>\nDengan mengantongi SK Kepala Jawatan Kehutanan nomor 518\/KD\/IV\/4\/7, tanggal 2 Januari 1956, pabrik itu bemama resmi Perusahaan Lak Jawatan Kehutanan. Perusahaan ini menghasilkan lak sekitar 1.300 ton per tahun.<br \/>\nSampai saat ini, di Indonesia hanya Perhutani KPH Probolinggo yang membudidayakan lak. Bahkan lak dari Probolinggo dikenal terbaik di dunia.<br \/>\nKutu lak adalah kutu penghasil lak. Lak berguna antara lain sebagai bahan isolasi listrik, piringan hitam, tinta cetak, ampelas, semir, kapsul obat, pelitur dan cat serta berbagai manfaat lainnya.<br \/>\nYandi Bachli, peneliti pada Balai Diklat Kehutanan Makassar mengatakan, kalau kutu rambut sangat merugikan. Demikian juga kutu loncat terbukti melalap habis daun lamtoro. Berbeda dengan kutu lak (Leccifer lacca, Kerr), yang justru menghasilkan sekresi berupa lak. Kutu lak biasanya berumah pada pohon kesambi.<br \/>\nManfaat utama dari kesambi yang tidak dapat kita peroleh dari tanaman lainnya adalah sebagai tempat memelihara dan mengembangkan\/menularkan (inang) kutu lak yang mempunyai nilai ekonomis tinggi di dalam dan di luar negeri. Pada umur 5-6 tahun, kesambi sudah dapat ditulari kutu lak.<br \/>\nNama Media : SURABAYA POST<br \/>\nTanggal \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 : Jumat, 28 Oktober 2011, Hal. 12<br \/>\nPenulis \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 : Isa<br \/>\nTONE \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0: POSITIVE<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam industri kehutanan, pohon kesambi merupakan salah satu pohon inang terpenting bagi kutu lak (Laccifer lacca). Sebagai inang kutu lak kesambi berguna untuk tempat hidup dan menghisap makanan yang diambil pada bagian bawah kulit kayu. Di antara beberapa jenis tanaman yang dapat menjadi inang kutu lak, maka kulit kayu kesambi paling disenangi.<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-2163","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-publikasi-media"],"acf":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2163","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2163"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2163\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":203538,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2163\/revisions\/203538"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2163"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2163"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2163"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}