{"id":344524,"date":"2025-11-11T09:55:38","date_gmt":"2025-11-11T02:55:38","guid":{"rendered":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/?p=344524"},"modified":"2025-12-03T10:03:58","modified_gmt":"2025-12-03T03:03:58","slug":"perhutani-kph-semarang-dorong-pengurangan-pestisida-kimia-lewat-hasil-evaluasi-esra","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/perhutani-kph-semarang-dorong-pengurangan-pestisida-kimia-lewat-hasil-evaluasi-esra\/","title":{"rendered":"Perhutani KPH Semarang Dorong Pengurangan Pestisida Kimia Lewat Hasil Evaluasi ESRA"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">PIKIRAN-RAKYAT.COM (11\/11\/2025) | Perum Perhutani KPH Semarang menggelar sosialisasi hasil Evaluasi Sosial dan Risiko Akibat (ESRA) penggunaan pestisida kimia di kawasan hutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kegiatan dilaksanakan pada Minggu 9 November 2205 di BKPH Barang dengan melibatkan petugas Perhutani, Kelompok Tani Hutan (KTH), dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sosialisasi menyoroti hasil ESRA yang menemukan 38 jenis pestisida kimia digunakan di kawasan hutan Perhutani dengan tingkat bahaya beragam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebanyak 9 jenis pestisida dikategorikan \u201cSangat Berbahaya \u2013 Sangat Terbatas\u201d (Highly Restricted HHP) berdasarkan klasifikasi Forest Stewardship Council (FSC).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lalu, 11 jenis tergolong \u201cSangat Berbahaya \u2013 Terbatas\u201d (Restricted HHP), sedangkan 12 jenis lain masuk kategori Non HHP atau tidak berbahaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Temuan ini menjadi dasar langkah mitigasi Perhutani KPH Semarang untuk menekan risiko sosial dan lingkungan akibat penggunaan pestisida berbahaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala KPH Semarang melalui Kasubseksi K3L, Agus Sudono, menjelaskan tujuan sosialisasi agar petugas memahami dampak pestisida terhadap ekosistem.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTujuannya meminimalkan risiko lingkungan akibat pestisida, terutama bahan aktif paraquat yang masih digunakan,\u201d kata Agus Sudono.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menegaskan kegiatan tersebut bagian dari komitmen Perhutani terhadap pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perhutani juga menyesuaikan kebijakan internalnya agar sejalan dengan standar FSC dalam menjaga keamanan dan keseimbangan ekosistem hutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain sosialisasi, peserta mendapat pelatihan teknis terkait cara mengidentifikasi bahan pestisida berisiko tinggi di lapangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masyarakat desa hutan turut diedukasi agar lebih sadar terhadap bahaya pestisida kimia dan dampaknya terhadap tanah serta sumber air.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tokoh masyarakat Desa Kawengen, Mujito, menilai kegiatan tersebut membantu masyarakat memahami risiko penggunaan pestisida di kawasan hutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurutnya, pelatihan semacam ini penting untuk menambah wawasan masyarakat dalam menjaga lingkungan dari dampak bahan kimia berbahaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dukungan juga datang dari LMDH Giri Indah Makmur yang menilai sosialisasi memperkuat sinergi antara petani pesanggem dan Perhutani.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cHarapan kami, masyarakat desa hutan lebih bijak memilih dan menggunakan pestisida agar hutan tetap lestari,\u201d ujar Anwar dari LMDH.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kegiatan ini juga menjadi ajang diskusi mengenai alternatif pengendalian hama yang lebih aman dan berkelanjutan bagi ekosistem.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peserta diajak mengenal konsep pengendalian hama terpadu untuk mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia sintetis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Upaya tersebut diharapkan dapat mengubah pola pikir masyarakat menuju sistem pertanian ramah lingkungan di sekitar kawasan hutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perhutani KPH Semarang terus berupaya menekan risiko dari pestisida kimia melalui penerapan hasil evaluasi ESRA secara bertahap.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah ini mempertegas komitmen Perhutani KPH Semarang menjaga kelestarian hutan dan keselamatan masyarakat dari dampak pestisida kimia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sumber : <a href=\"https:\/\/mediapurwodadi.pikiran-rakyat.com\/purwodadi\/pr-1869784084\/perhutani-kph-semarang-dorong-pengurangan-pestisida-kimia-lewat-hasil-evaluasi-esra\">pikiran-rakyat.com<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PIKIRAN-RAKYAT.COM (11\/11\/2025) | Perum Perhutani KPH Semarang menggelar sosialisasi hasil Evaluasi Sosial dan Risiko Akibat (ESRA) penggunaan pestisida kimia di kawasan hutan. Kegiatan dilaksanakan pada Minggu 9 November 2205 di BKPH Barang dengan melibatkan petugas Perhutani, Kelompok Tani Hutan (KTH), dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Sosialisasi menyoroti hasil ESRA yang menemukan 38 jenis pestisida [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":131,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"Perhutani KPH Semarang Dorong Pengurangan Pestisida Kimia Lewat Hasil Evaluasi ESRA","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[13],"tags":[32,19,20,21],"class_list":["post-344524","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-publikasi-media","tag-beritaperhutani","tag-perhutani","tag-perum-perhutani","tag-perumperhutani"],"acf":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/344524","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/131"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=344524"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/344524\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":344528,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/344524\/revisions\/344528"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=344524"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=344524"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=344524"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}