{"id":371003,"date":"2026-04-22T13:59:40","date_gmt":"2026-04-22T06:59:40","guid":{"rendered":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/?p=371003"},"modified":"2026-04-23T14:00:16","modified_gmt":"2026-04-23T07:00:16","slug":"perhutani-petakan-titik-rawan-kebakaran-jelang-kemarau-ekstrem-di-wilayah-hutan-lembang-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/perhutani-petakan-titik-rawan-kebakaran-jelang-kemarau-ekstrem-di-wilayah-hutan-lembang-2\/","title":{"rendered":"Perhutani Petakan Titik Rawan Kebakaran Jelang Kemarau Ekstrem di Wilayah Hutan Lembang"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">REPUBLIKA.CO.ID (22\/04\/2026) | Perum<a href=\"https:\/\/republika.co.id\/tag\/perhutani\">\u00a0Perhutani\u00a0<\/a>Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lembang sudah memetakan titik rawan<a href=\"https:\/\/republika.co.id\/tag\/kebakaran-hutan\">\u00a0kebakaran hutan\u00a0<\/a>dan lahan (karhutla) di wilayahnya jelang kemarau ekstrem akibat fenomena<a href=\"https:\/\/republika.co.id\/tag\/el-nino\">\u00a0El Nino\u00a0<\/a>seperti yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).<\/p>\n<p class=\"b2\" style=\"text-align: justify;\">Asisten Perhutani (Asper) BKPH Lembang, Cucu Supriatna mengatakan, total luas<a href=\"https:\/\/republika.co.id\/tag\/wilayah-lembang\">\u00a0wilayah Lembang\u00a0<\/a>mencapai 4.100 hektare yang terbagi dalam tiga Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Lembang, RPH<a href=\"https:\/\/republika.co.id\/tag\/cisarua\">\u00a0Cisarua\u00a0<\/a>dan RPH Cikole. Hasil identifikasi, titik rawan kebakaran itu berada di perbatasan Cisarua dengan Lembang.<\/p>\n<p class=\"b2\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Wilayah Lembang 4.100 hektare dari Cisarua sampai Cikole. Di wilayah saya kalau pemetaan (titik rawan kebaran) di wilayah Cisarua dan Lembang, tapi posisinya berbatasan,&#8221; kata Asep saat dikonfirmasi, Selasa (21\/4\/2026).<\/p>\n<p class=\"b2\" style=\"text-align: justify;\">Dirinya mengungkapkan, penyebab wilayah perbatasan hutan Cisarua-Lembang masuk rawan kebakaran itu karena terdapat banyak<a href=\"https:\/\/republika.co.id\/tag\/ilalang\">\u00a0ilalang\u00a0<\/a>yang mudah terbakar saat musim kemarau panjang yang kerap memicu angin kencang. Kondisi itu diperbesar perilaku manusia.<\/p>\n<p class=\"b2\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Beberapa tahun ke belakang yang sering terjadi di wilayah perbatasan Cisarua-Lembang. Hasil identifikasi suka ada yang cari burung, bikin api kecil buat manasin air. Dikira sudah mati apinya, padahal belum. Lalu ditinggal karena kemarau panas ditambah angin (memicu kebakaran),&#8221; ungkap dia.<\/p>\n<p class=\"b2\" style=\"text-align: justify;\">Kemudian wilayah tersebut, kata Asep, bukan wilayah garapan agroforestry maupun penyadapan sehingga jarang untuk di singgahi petani. Pasalnya, keberadaan petani sangat membantu pihaknya dalam melakukan pengawasan. Berbeda dengan wilayah lainnya di hutan BKPH Lembang yang banyak ditanami seperti kopi dan sebagainya.<\/p>\n<p class=\"b2\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Memang kalau di perbatasan\u00a0<em>gitu<\/em>\u00a0dominannya ilalang jadi\u00a0<em>kan<\/em>\u00a0kering dan lahan yang seperti itu yang tidak digarap\u00a0<em>emang mantaunya<\/em>\u00a0lebih susah,&#8221; ucap sia.<\/p>\n<p class=\"b2\" style=\"text-align: justify;\">Sementara untuk antisipasi dan penanganan, Perhutani bekerjasama dengan Polhutan, para petani khususnya yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) hingga forum komunikasi pimpinan kecamatan (Forkopimcam). &#8220;Kita juga ada imbauan dengan memasang plang-plang peringatan, itu sudah di pasang. Nanti menjelang kemarau itu diperbanyak. Secara langsung biasanya tertulis sosialisasi ke LMDH ke masyarakat terutama yang menggarap lahan,&#8221; imbuh.<\/p>\n<p class=\"b2\" style=\"text-align: justify;\">Asep melanjutkan, secara keseluruhan tegakan tutupan hutan di wilayah BKPH Lembang masih terjaga dengan baik yang didominasi pinus dan area hijau lainnya. &#8220;Tutupan lahan dari Cisarua ke Lembang memang masih bagus&#8221; kata Asep.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sumber : <a href=\"https:\/\/rejabar.republika.co.id\/berita\/tdvge8282\/perhutani-petakan-titik-rawan-kebakaran-jelang-kemarau-ekstrem-di-wilayah-hutan-lembang\">republika.co.id<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>REPUBLIKA.CO.ID (22\/04\/2026) | Perum\u00a0Perhutani\u00a0Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lembang sudah memetakan titik rawan\u00a0kebakaran hutan\u00a0dan lahan (karhutla) di wilayahnya jelang kemarau ekstrem akibat fenomena\u00a0El Nino\u00a0seperti yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Asisten Perhutani (Asper) BKPH Lembang, Cucu Supriatna mengatakan, total luas\u00a0wilayah Lembang\u00a0mencapai 4.100 hektare yang terbagi dalam tiga Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Lembang, RPH\u00a0Cisarua\u00a0dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":131,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"Perhutani Petakan Titik Rawan Kebakaran Jelang Kemarau Ekstrem di Wilayah Hutan Lembang","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[13],"tags":[32,19,20,21],"class_list":["post-371003","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-publikasi-media","tag-beritaperhutani","tag-perhutani","tag-perum-perhutani","tag-perumperhutani"],"acf":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/371003","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/131"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=371003"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/371003\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":371004,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/371003\/revisions\/371004"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=371003"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=371003"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=371003"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}