{"id":381477,"date":"2026-06-09T15:31:57","date_gmt":"2026-06-09T08:31:57","guid":{"rendered":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/?p=381477"},"modified":"2026-06-11T15:36:10","modified_gmt":"2026-06-11T08:36:10","slug":"jalur-pendakian-gunung-slamet-dibuka-lagi-mulai-besok-tapi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/jalur-pendakian-gunung-slamet-dibuka-lagi-mulai-besok-tapi\/","title":{"rendered":"Jalur Pendakian Gunung Slamet Dibuka Lagi Mulai Besok, Tapi&#8230;"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">DETIK.COM (09\/06\/2026) | Kabar baik bagi para pendaki yang gemar mendaki Gunung Slamet. Setelah ditutup selama dua bulan akibat peningkatan aktivitas vulkanik, jalur pendakian bakal dibuka lagi besok (10\/6). Namun, tetap ada pembatasan bagi para pendaki.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Diketahui, keputusan membuka lagi jalur pendakian berdasarkan keputusan bersama pengelola jalur lingkar Gunung Slamet, pihak Pos Pengamatan Gunung Api, dan Perhutani.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">&#8220;Hasil keputusan bersama teman-teman lingkar Gunung Slamet, komunikasi sama pos pemantauan akhirnya pendakian dibuka lagi per tanggal 10 Juni,&#8221; kata Supervisor Site Gunung Slamet Perhutani Alam Wisata Wilayah Barat, Sugeng Utomo, saat dihubungi detikJateng, Selasa (9\/6\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Menurut Sugeng, keputusan membuka kembali jalur pendakian diambil setelah radius aman diturunkan dari 3 kilometer menjadi 2 kilometer. Meski status Gunung Slamet masih berada di Level II atau waspada, kondisi gunung dinilai relatif stabil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">&#8220;Ada gambaran bisa dikatakan normal, walaupun statusnya masih di level dua,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sugeng menjelaskan, dasar pertimbangan pembukaan jalur mengacu pada laporan khusus Badan Geologi dan hasil komunikasi intensif dengan petugas pos pengamatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">&#8220;Berdasarkan edaran laporan khusus dari Badan Geologi, lalu kami berkomunikasi dengan pihak pos. Ternyata jalur bisa dibuka dengan penekanan jangan sampai masuk radius aman 2 kilometer,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Selain itu, pemantauan visual selama beberapa waktu terakhir menunjukkan tidak ada lonjakan aktivitas vulkanik yang signifikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">&#8220;Pengamatan secara visual ternyata tidak ada lonjakan yang signifikan, jadi akhirnya dibuka,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Hingga Selasa pagi, menurut dia kondisi Gunung Slamet masih dinyatakan normal dan berada dalam batas aman untuk aktivitas pendakian terbatas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Meski dibuka kembali, pengelola menerapkan pembatasan kuota pendaki, khususnya untuk jalur Pos Bambangan di Kabupaten Purbalingga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">&#8220;Rencana jumlah pendaki dari 700 sampai 900 orang. Itu sudah pembatasan kuotanya,&#8221; kata Sugeng.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Ia menjelaskan sistem kuota akan disesuaikan dengan jumlah pendaki yang naik dan turun setiap hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">&#8220;Contohnya kalau naik 350 orang lalu turun 350 orang, berarti besoknya naiknya juga segitu. Akumulasinya seperti itu,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sugeng mengatakan untuk alasan keselamatan, pendaki hanya diperbolehkan mencapai Pos 9 atau Pelawangan, yang menjadi batas vegetasi terakhir sebelum area puncak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">&#8220;Pendaki hanya dibolehkan sampai Pos 9 atau Pelawangan, batas vegetasi. Pengawasannya nanti lebih diperketat,&#8221; ujar Sugeng.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Tim SAR dan petugas basecamp juga akan disiagakan di kawasan Pelawangan untuk memastikan pendaki tidak melanggar batas aman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">&#8220;Teman-teman basecamp dan tim SAR akan stay di daerah Pelawangan,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Jalur pendakian Gunung Slamet sebelumnya ditutup sejak 4 April 2026 setelah aktivitas vulkanik meningkat dan radius aman diperluas hingga 3 kilometer dari kawah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kini, setelah dua bulan penutupan, jalur dibuka kembali dengan syarat dan prosedur pendakian sama seperti sebelum penutupan, namun dengan pengawasan lebih ketat dan pembatasan area pendakian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">&#8220;Kesepakatannya, mulai tanggal 10 Juni besok jalur sudah dibuka, dan persyaratannya disamakan seperti sebelum ditutup,&#8221; tutup Sugeng.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sumber : <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jateng\/berita\/d-8525095\/jalur-pendakian-gunung-slamet-dibuka-lagi-mulai-besok-tapi#google_vignette\">detik.com<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DETIK.COM (09\/06\/2026) | Kabar baik bagi para pendaki yang gemar mendaki Gunung Slamet. Setelah ditutup selama dua bulan akibat peningkatan aktivitas vulkanik, jalur pendakian bakal dibuka lagi besok (10\/6). Namun, tetap ada pembatasan bagi para pendaki. Diketahui, keputusan membuka lagi jalur pendakian berdasarkan keputusan bersama pengelola jalur lingkar Gunung Slamet, pihak Pos Pengamatan Gunung Api, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[32,19,20,21],"class_list":["post-381477","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-publikasi-media","tag-beritaperhutani","tag-perhutani","tag-perum-perhutani","tag-perumperhutani"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/381477","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=381477"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/381477\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":381480,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/381477\/revisions\/381480"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=381477"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=381477"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=381477"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}