{"id":39558,"date":"2016-08-24T10:07:02","date_gmt":"2016-08-24T03:07:02","guid":{"rendered":"http:\/\/perhutani.co.id\/?p=39558"},"modified":"2022-04-04T12:53:48","modified_gmt":"2022-04-04T12:53:48","slug":"tradisi-wiwit-kopi-jadi-ajang-promosi-wisata-kudus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/tradisi-wiwit-kopi-jadi-ajang-promosi-wisata-kudus\/","title":{"rendered":"Tradisi &#039;Wiwit&#039; Kopi Jadi Ajang Promosi Wisata Kudus"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>REPUBLIKA.CO.ID, KUDUS (26\/2016) |<\/strong> Tradisi &#8220;wiwit&#8221; kopi atau memulai panen tanaman kopi yang dimiliki masyarakat di Desa Colo Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, akan dimanfaatkan untuk mempromosikan potensi wisata di daerah setempat.<!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Selama ini, kami memang belum mempromosikan sejumlah objek wisata yang layak dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai daerah secara masif. Karena tradisi &#8216;wiwit&#8217; kopi akan menjadi agenda tahunan, tentunya bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan paket wisata yang ada,&#8221; kata Ketua Kelompok Sadar Wisata Padhang Bulan Desa Wisata Colo Moh. Syokib Garno di Kudus, Selasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apalagi, lanjut dia, sejumlah objek wisata yang ada di kawasan Desa Colo cukup menarik dikunjungi. Seperti kebun kopi, kebun parijoto, industri kopi rumahan, serta kerajinan batik khas Colo.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bahkan, kata dia, kelompok sadar wisata juga sudah membuat paket wisata bagi wisatawan yang hendak berkunjung selama sehari maupun dua hari atau lebih.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di antaranya, paket wisata sehari, meliputi jelajah kebun kopi yang ada di lereng Pegunungan Muria, memanen, kemudian diperlihatkan cara mengolah kopi hingga menjadi minuman kopi secara tradisional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk paket wisata dua hari, meliputi mini kafe, jelajah kebun kopi, okulasi dan edukasi soal kopi muria.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Agar pengunjung juga menikmati kunjungannya itu, kata dia, di kawasan pegunungan juga tersedia permainan &#8220;flying fox&#8221; serta &#8220;mini cafe&#8221;.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada awal penyelenggaraan tradisi &#8216;wiwit&#8217; kopi, kata dia, jumlah pengunjungnya cukup banyak, sehingga bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan objek-objek wisata yang dimiliki oleh masyarakat Desa Colo.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, kata dia, kegiatan tradisi wiwit kopi yang awalnya digelar oleh masing-masing petani kopi, bisa dipromosikan pula untuk menarik wisatawan karena lokasi kegiatan berada di pegunungan dengan pemandangan alam yang cukup menarik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Desa Colo, dia berharap, upaya pelestarian alam sekitar juga bisa digelorakan ke semua masyarakat, karena tanpa harus merusak tetap bisa mendapatkan penghasilan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Petani kopi yang selama ini memanfaatkan lahan milik Perum Perhutani juga bisa diberdayakan untuk menarik minat wisatawan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ketika banyak wisatawan yang berminat mengunjungi kebun kopi, kami yakin nantinya akan muncul sumber-sumber penghasilan baru bagi masyarakat setempat,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apalagi, kata dia, setiap menjelang musim panen kopi akan digelar tradisi wiwit kopi yang tahun ini dijadwalkan bulan September 2016.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tanggal : 24 Agustus 2016<br \/>\nSumber : <a href=\"http:\/\/gayahidup.republika.co.id\/berita\/gaya-hidup\/travelling\/16\/08\/23\/ocd9wm280-tradisi-wiwit-kopi-jadi-ajang-promosi-wisata-kudus\">Republika.co.id<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>REPUBLIKA.CO.ID, KUDUS (26\/2016) | Tradisi &#8220;wiwit&#8221; kopi atau memulai panen tanaman kopi yang dimiliki masyarakat di Desa Colo Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, akan dimanfaatkan untuk mempromosikan potensi wisata di daerah setempat.<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[13],"tags":[1580,2112,21,36],"class_list":["post-39558","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-publikasi-media","tag-perhutanidivisiregionaljawatengah","tag-tradisi","tag-perumperhutani","tag-wisata"],"acf":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39558","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=39558"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39558\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":201236,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39558\/revisions\/201236"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=39558"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=39558"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=39558"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}