{"id":40828,"date":"2016-10-17T13:03:17","date_gmt":"2016-10-17T06:03:17","guid":{"rendered":"http:\/\/www.perhutani.co.id\/?p=40828"},"modified":"2022-04-04T12:53:34","modified_gmt":"2022-04-04T12:53:34","slug":"hutan-pinus-cipamingkis-indahnya-serasa-planet-lain","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/hutan-pinus-cipamingkis-indahnya-serasa-planet-lain\/","title":{"rendered":"Hutan Pinus Cipamingkis Indahnya Serasa Di Planet Lain"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong><a href=\"http:\/\/www.perhutani.co.id\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/rumah-kayu.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-40846\" src=\"http:\/\/www.perhutani.co.id\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/rumah-kayu-300x225.jpg\" alt=\"rumah kayu\" width=\"300\" height=\"225\" \/><\/a>BOGOR, PERHUTANI (16\/10\/2016)|\u00a0<\/strong>Kemacetan akhir pekan menuju Puncak Cisarua kerapkali mengurungkan niat kita untuk berwisata menikmati keindahan hutan pinus dan udara sejuk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kini tak perlu lagi urungkan niat karena ada Curug Cipamingkis di kawasan hutan Perhutani Bogor, jawaban dan sekaligus jadi obat rindu pengganti wisata di Puncak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terletak diketinggian 1.200 meter DPAL, hutan pinus seluas 16.5 hektar di petak 30C, RPH Cipamingkis, BKPH Bogor, KPH Bogor tersebut mulai bersolek bak perawan destinasi wisata \u00a0yang mulai digandrungi remaja dan keluarga muda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak sulit ke Curug Cipamingkis, desa Wargajaya Kecamatan Sukamakmur, Bogor. Alternatif pertama kita bisa tempuh dari Cibinong-Sentul City-Babakan Madang ke Sukamakmur (40km), atau Bekasi-Jonggol-Sukamakmur (50 km), \u00a0terdekat dari Cianjur-Cipanas-Taman Bunga Nusantara-Sukamakmur (17 km).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain fasilitas <em>camping ground<\/em>, Hutan Cipamingkis menyediakan atraksi &#8220;Jembatan Pohon Kiara&#8221; di ketinggian 30 meter dari muka tanah. Jembatan berwarna oranye ini lokasi favorit pengunjung untuk menikmati keindahan hutan pinus sekaligus mengambil gambar &#8220;<em>selfie atau wefie<\/em>&#8220;. \u00a0Keindahan lain yang ditawarkan hutan wisata ini adalah taman bermain anak, Stone Garden, kolam Bharatayuda, Perahu Aspara, air terjun atau Curug Cipamingkis setinggi tujuh meter.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><!--more-->Menurut Administratur KPH Bogor Asep Dedi Mulyadi, hutan wisata Curug Cipamingkis ini dibuka tahun 2010 bekerjasama dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Puncak Mandiri \u00a0desa Warga Jaya, Kecamatan Sukamakmur, Bogor.<\/p>\n<p>&#8220;Pengunjung umumnya datang untuk <em>camping, outbound<\/em>, menyalurkan hobi fotografi atau sepeda gunung, bahkan hanya ingin makan siang rame-rame sambil selfie di Jembatan Pohon Kiara. Saat libur lebaran bisa mencapai 1500 orang,&#8221; kata Asep dari ujung telpon.<br \/>\nPada hari Sabtu (15\/10) lalu, pengunjung Curug Cipamingkis mencapai limaratusan orang. Mereka datang dari Bogor, Depok, Bandung, Surabaya hingga beberapa turis mancanegara seperti Afrika dan Arab Saudi.<br \/>\n\u201c Saya suka melihat air terjun disini, dingin. Saya juga berfoto di atas pohon, bisa melihat alam, indah betul-betul indah, alami, serasa di planet lain,&#8221; kata salah satu pengunjung warga Arab yang datang bersama rombongan.\u00a0(Kom-PHT\/PR2016)<br \/>\nEditor: Soe<br \/>\nCopyright\u00a92016<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BOGOR, PERHUTANI (16\/10\/2016)|\u00a0Kemacetan akhir pekan menuju Puncak Cisarua kerapkali mengurungkan niat kita untuk berwisata menikmati keindahan hutan pinus dan udara sejuk. Kini tak perlu lagi urungkan niat karena ada Curug Cipamingkis di kawasan hutan Perhutani Bogor, jawaban dan sekaligus jadi obat rindu pengganti wisata di Puncak. Terletak diketinggian 1.200 meter DPAL, hutan pinus seluas 16.5 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[2074,1661,42,45,1387,52,21,49,36],"class_list":["post-40828","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-publikasi-media","tag-hutanpinus","tag-kphbogor","tag-perhutanidivisiregionaljawabaratdanbanten","tag-suararimba","tag-berita","tag-lmdh","tag-perumperhutani","tag-suararimbaperhutani","tag-wisata"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40828","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=40828"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40828\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":201134,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40828\/revisions\/201134"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=40828"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=40828"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=40828"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}