{"id":42506,"date":"2016-11-18T10:14:10","date_gmt":"2016-11-18T03:14:10","guid":{"rendered":"http:\/\/www.perhutani.co.id\/?p=42506"},"modified":"2022-04-04T12:53:02","modified_gmt":"2022-04-04T12:53:02","slug":"rumah-pohon-jadi-daya-tarik-warga-dibangun-lembah-dan-bukit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/rumah-pohon-jadi-daya-tarik-warga-dibangun-lembah-dan-bukit\/","title":{"rendered":"Rumah Pohon Jadi Daya Tarik Warga Dibangun di Antara Lembah dan Bukit"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/www.perhutani.co.id\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/logo.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-42384 alignleft\" src=\"http:\/\/www.perhutani.co.id\/wp-content\/uploads\/2016\/11\/logo-300x168.jpg\" alt=\"logo\" width=\"300\" height=\"168\" \/><\/a>SUARAMERDEKA.COM (18\/11\/2016) | Rumah pohon di Desa Tombo, Kecamatan Bandar saat ini menjadi salah satu daya tarik wisata di Batang. Tempat ini banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai wilayah karena keunikannya. Saat hari libur atau hari minggu, pengunjung yang datang ke rumah pohon bahkan bisa mencapai ratusan orang.<br \/>\nRumah pohon merupakan rumah dari kayu dengan atap yang dibangun di atas dua pohon beringin besar di lahan milik Perhutani. Beringin-beringin tersebut diduga sudah berusia cukup tua, antara 50 sampai 100 tahun. Selain ketinggian dan bentuk bangunannya, yang menarik perhatian dari rumah pohon adalah letaknya yang ada di antara lembah dan perbukitan.<br \/>\nSuasana indah tampak hadir di tempat ini. Kepala Disbudpar Batang Bambang Supriyanto bersama Kabid Pengembangan Kawasan dan Sarana Pariwisata Nursito serta jajaran Disbudpar secara langsung juga pernah meninjau rumah pohon di Desa Tombo tersebut. \u201dSaat ini rumah pohon sudah banyak didatangi masyarakat. Apalagi kalau hari minggu atau hari libur.<br \/>\nBanyak yang ingin datang, termasuk untuk berselfie. Tempat di sekitarnya sangat indah,\u201d kata Nursito, kemarin. Dia menjelaskan, pohon beringin besar tumbuh dari cekungan yang ada di sekitar lembah dan gunung. Masyarakat yang ingin sampai ke rumah pohon bisa melintasi jembatan sepanjang sekitar 10 meter yang sudah dibuat. Bangunan rumah pohon dan jembatan yang ada dibuat oleh Perhutani bekerja sama dengan lembaga masyarakat desa hutan (LMDH).<br \/>\nPotensi Wisata<br \/>\nNursito menjelaskan, dari pihak Perhutani telah menawarkan kerja sama pengelolaan rumah pohon dengan Pemkab Batang. Ini tidak lepas dari potensi wisata yang bisa dikembangkan di tempat ini. \u201dUntuk masuk ke sana ada tiket sebesar Rp 5 ribu. Kami sudah menyarankan kalau ada tiket, maka perlu ada izin pariwisata. Dari Disbudpar saat ini sedang berusaha menjajaki kerja sama terkait pengelolaan rumah pohon.<br \/>\nIni sedang digodok dulu,\u201d ujarnya. Nursito menambahkan, rumah pohon menawarkan wisata alam yang menarik sekaligus unik. Selain terletak di kawasan Perhutani, rumah itu juga berada tidak jauh dari perkebunan teh yang asri. Tempatnya indah dan alami. Namun jika hujan, masyarakat diminta untuk tidak memaksa masuk ke areal rumah pohon.<br \/>\n\u201dRumah pohon sudah menjadi salah satu daya tarik masyarakat dengan datang ke Desa Tombo. Tempatnya memang agak jauh, tapi banyak yang penasaran dan datang ke tempat ini. Selain panorama yang indah, sisi uniknya membuat orang ingin mendatangi,\u201d tandasnya.<br \/>\n&nbsp;<br \/>\nSumber : <a href=\"http:\/\/berita.suaramerdeka.com\/smcetak\/rumah-pohon-jadi-daya-tarik-warga\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">suaramerdeka.com<\/a><br \/>\nTanggal : 18 November 2016<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SUARAMERDEKA.COM (18\/11\/2016) | Rumah pohon di Desa Tombo, Kecamatan Bandar saat ini menjadi salah satu daya tarik wisata di Batang. Tempat ini banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai wilayah karena keunikannya. Saat hari libur atau hari minggu, pengunjung yang datang ke rumah pohon bahkan bisa mencapai ratusan orang. Rumah pohon merupakan rumah dari kayu dengan atap [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":95,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[13],"tags":[35,32,2376,19,21,2377,36],"class_list":["post-42506","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-publikasi-media","tag-wisataperhutani","tag-beritaperhutani","tag-desatombo","tag-perhutani","tag-perumperhutani","tag-rumahpohon","tag-wisata"],"acf":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42506","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/95"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42506"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42506\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":200922,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42506\/revisions\/200922"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42506"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42506"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42506"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}