{"id":45930,"date":"2017-03-17T10:00:37","date_gmt":"2017-03-17T03:00:37","guid":{"rendered":"http:\/\/www.perhutani.co.id\/?p=45930"},"modified":"2022-04-04T12:52:12","modified_gmt":"2022-04-04T12:52:12","slug":"perhutani-bangun-rest-area-di-druju","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/perhutani-bangun-rest-area-di-druju\/","title":{"rendered":"Perhutani Bangun Rest Area di Druju"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/www.perhutani.co.id\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/170317-rst-area.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-45931\" src=\"http:\/\/www.perhutani.co.id\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/170317-rst-area-300x180.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"180\" \/><\/a>MALANGPOST.NET (16\/3\/2017) | Perhutani Kawasan Pemangku Hutan (KPH) Malang mulai membangun rest area di Desa Druju Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe). Keberadaan rest area tersebut nantinya sebagai tempat peristirahatan sejenak para wisatawan, sebelum melanjutkan perjalanan ke beberapa obyek wisata pantai selatan Sumawe.<br \/>\nPermulaan pembangunan rest area itu ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang, Made Arya Wedanthara SH MSi. Peletakan batu pertama itu disaksikan Administratur Perum Perhutani KPH Malang Ir Arief Herlambang dan beberapa tokoh masyarakat kemarin.<br \/>\nKepala Disparbud Kabupaten Malang Made Arya Wedanthara SH MSi menjelaskan, keberadaan rest area ini sangat bermanfaat bagi wisatawan. \u201cWisatawan bisa istirahat sejenak terlebih dahulu di tempat ini, sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke beberapa pantai wisata yang ada banyak di Sumawe ini,\u201d ujarnya kepada Malang Post kemarin.<br \/>\nDia juga berterimak asih kepada pihak Perhutani, yang turut memberikan kontribusi untuk pengembangan wisata di Kabupaten Malang. \u201cSelama ini, Pemerintah Kabupaten Malang bersinergi dengan Perhutani untuk mengembangkan obyek wisata alam. Baik itu berupa pegunungan, pantai, maupun hutan,\u201d teran pria asal Pulau Dewata tersebut.<br \/>\nSementara itu, Administratur Perum Perhutani KPH Malang Ir Arief Herlambang mengatakan, Rest Area ini akan dibangun di lahan Perhutani petak 23 RPH Gedog, seluas setengah hektar. Rencananya akan dibangun 20 kios untuk menampung produk ciri khas lokal Desa Druju yaitu batik Druju maupun produk pertanian atau lainnya.<br \/>\n\u201cKami berkeinginan mengangkat potensi Batik Druju. Para wisatawan yang menuju pantai, bisa beristirahat sejenak di rest area ini sembari membeli oleh-oleh khas Druju. Salah satunya batik Druju,\u201d ucapnya. Dia berharap, bahwa adanya Rest Area ini bisa lebih mengangkat Batik Druju dan pantai selatan, tidak sekadar di kancah nasional. Tapi gaung namanya hingga ke mancanegara. \u201cApabila batik Druju ini sudah bisa go-international, maka secara langsung bisa meningkatkan taraf kehidupan warga Druju ke arah yang lebih baik. Begitu pula dengan wisata pantainya, bisa terkenal mulai level nasional hingga internasional,\u201d paparnya.<br \/>\nSelain itu, kata dia, rest area ini akan menjadi pilot project pembangunan rest area di tempat lainnya. \u201cPotensi pembangunan rest area bisa dilakukan di beberapa titik lahan yang menjadi kewenangan kami. Sehingga diharapkan bisa mengangkat produk lokal unggulan masyarakat sekitar tempat wisata,\u201d pungkasnya (big\/lim)<br \/>\nSumber: <a href=\"http:\/\/www.malangpost.net\/malang-raya\/perhutani-bangun-rest-area-di-druju\">www.malangpost.net<\/a><br \/>\nTanggal: 16 Maret 2017<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MALANGPOST.NET (16\/3\/2017) | Perhutani Kawasan Pemangku Hutan (KPH) Malang mulai membangun rest area di Desa Druju Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe). Keberadaan rest area tersebut nantinya sebagai tempat peristirahatan sejenak para wisatawan, sebelum melanjutkan perjalanan ke beberapa obyek wisata pantai selatan Sumawe. Permulaan pembangunan rest area itu ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Kepala Dinas Pariwisata [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[13],"tags":[711,19,20,2660,36],"class_list":["post-45930","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-publikasi-media","tag-kph-malang","tag-perhutani","tag-perum-perhutani","tag-rest-area","tag-wisata"],"acf":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45930","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=45930"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45930\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":200593,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45930\/revisions\/200593"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=45930"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=45930"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=45930"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}