{"id":49680,"date":"2017-09-16T12:43:22","date_gmt":"2017-09-16T05:43:22","guid":{"rendered":"http:\/\/www.perhutani.co.id\/?p=49680"},"modified":"2022-04-04T12:51:10","modified_gmt":"2022-04-04T12:51:10","slug":"ini-dia-hutan-lord-rings-ala-indonesia-ke-banyuwangi-rugi-gak-mampir-sini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/ini-dia-hutan-lord-rings-ala-indonesia-ke-banyuwangi-rugi-gak-mampir-sini\/","title":{"rendered":"Ini Dia Hutan Lord of The Rings ala Indonesia, ke Banyuwangi Rugi Gak Mampir Sini"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/www.perhutani.co.id\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/2034751914.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-49610 alignleft\" src=\"http:\/\/www.perhutani.co.id\/wp-content\/uploads\/2017\/09\/2034751914-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"200\" \/><\/a>TRIBUNNEWS.COM (15\/9\/2017) | \u00a0Pergi berlibur ke Banyuwangi, Jawa Timur, jangan lupa datang ke obyek wisata Hutan De Djawatan.<br \/>\nObyek wisata yang menawarkan suasana teduh dan panorama hijau ini siap menyambut wisatawan.<br \/>\nDi Hutan De Djawatan, wisatawan bisa sejenak duduk bersantai dan menghirup udara segar.<br \/>\nBerfoto dengan latar belakang pohon-pohon raksasa pun tak boleh dilewatkan.<br \/>\n&#8220;Ini kawasan milik Perhutani. Kalau masyarakat sekitar sebut hutan di dalam kota. Pohon di sini jenis trembesi,&#8221; kata anggota Polisi Hutan Perhutani Kelompok Pemangku Hutan Banyuwangi Selatan Jawa Timur, Puji Widodo.<br \/>\nWisata Hutan De Djawatan Benculuk, menurut Puji, dulu adalah tempat penimbunan kayu jati.<br \/>\nHutan De Djawatan Benculuk membentang seluas enam hektar.<br \/>\n&#8220;Di pinggir sungai itu pohon jati. Ini umur pohon trembesi lebih dari 100 tahun,&#8221; jelasnya.<br \/>\nPuji mengatakan wisata Hutan De Djawatan Benculuk baru dikembangkan sejak tiga bulan lalu.<br \/>\nSaat ini, wana wisata Hutan De Djawatan dikelola bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi.<br \/>\n&#8220;Di pinggir sungai itu pohon jati. Ini umur pohonnya lebih dari 100 tahun,&#8221; ujar Puji.<br \/>\nDi dalam area Hutan De Djawatan Benculuk, ada beberapa titik swafoto yang disediakan pengelola.<br \/>\nAda dua tempat berfoto yang dibangun di atas pohon, juga beberapa truk bekas.<br \/>\nWisatawan bisa berkeliling area Hutan De Djawatan untuk sekedar melihat-lihat suasana.<br \/>\nAda jalan setapak yang bisa dilalui oleh wisatawan.<br \/>\nSejauh ini, Hutan De Djawatan biasa dimanfaatkan untuk foto pra pernikahan dan berswafoto.<br \/>\nSelain itu, ada juga wisawatan yang datang untuk bersantai dan menikmati makanan.<br \/>\nWisatawan asal Jember, Celin (26) mengaku tahu Hutan De Djawatan Benculuk dari media sosial Instagram.<br \/>\nIa datang bersama rekan-rekan kampus.<br \/>\n&#8220;Pertama pikir datang biasa saja. Pas datang lebih bagus dari Instagram. Seperti dalam film Lord of The Ring,&#8221; ucap Celin.<br \/>\nHutan De Djawatan terletak di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, sekitar 45 kilometer dari pusat kota Banyuwangi.<br \/>\nUntuk dapat masuk area Hutan De Djawatan Benculuk, wisatawan akan dikenakan biaya tiket Rp 2.000.<br \/>\nDi area wisata, terdapat fasilitas tiga kamar toilet dan musala.<br \/>\nSumber : <a href=\"http:\/\/travel.tribunnews.com\/2017\/09\/15\/ini-dia-hutan-lord-of-the-rings-ala-indonesia-ke-banyuwangi-rugi-gak-mampir-sini\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">tribunnews.com<\/a><br \/>\nTanggal : 15 September 2017<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TRIBUNNEWS.COM (15\/9\/2017) | \u00a0Pergi berlibur ke Banyuwangi, Jawa Timur, jangan lupa datang ke obyek wisata Hutan De Djawatan. Obyek wisata yang menawarkan suasana teduh dan panorama hijau ini siap menyambut wisatawan. Di Hutan De Djawatan, wisatawan bisa sejenak duduk bersantai dan menghirup udara segar. Berfoto dengan latar belakang pohon-pohon raksasa pun tak boleh dilewatkan. &#8220;Ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[13],"tags":[35,32,61,19,20,21],"class_list":["post-49680","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-publikasi-media","tag-wisataperhutani","tag-beritaperhutani","tag-kph-banyuwangi-selatan","tag-perhutani","tag-perum-perhutani","tag-perumperhutani"],"acf":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49680","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=49680"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49680\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":200232,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49680\/revisions\/200232"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=49680"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=49680"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=49680"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}