{"id":50052,"date":"2017-10-05T11:16:51","date_gmt":"2017-10-05T04:16:51","guid":{"rendered":"http:\/\/www.perhutani.co.id\/?p=50052"},"modified":"2022-04-04T12:51:02","modified_gmt":"2022-04-04T12:51:02","slug":"baru-ada-rumah-terbalik-di-hutan-coban-talun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/baru-ada-rumah-terbalik-di-hutan-coban-talun\/","title":{"rendered":"Baru, Ada Rumah Terbalik di Hutan Coban Talun"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/www.perhutani.co.id\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/spot-rumah-terbalik-coban-talun-darmono-4-696x464.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-50053 alignleft\" src=\"http:\/\/www.perhutani.co.id\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/spot-rumah-terbalik-coban-talun-darmono-4-696x464-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"200\" \/><\/a>RADARMALANG.ID (4\/10\/2017) | Jujukan wisata baru hasil perpaduan alam terus bermunculan. Terbaru, ada wisata Rumah Terbalik di kawasan Coban Talun. Destinasi yang baru dioperasikan pada awal Oktober ini menawarkan suasana alami.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rumah Terbalik itu berdiri kokoh dengan latar depan kebun bunga dan latar belakang hutan pinus. Pengunjung bisa menikmati kesejukan serta pemandangan alam itu dengan duduk di kursi yang berada di dekat Rumah Terbalik. Sesuai namanya, di kawasan ini disediakan dua rumah terbalik yang terbuat dari anyaman bambu. Lokasinya berdekatan dengan Rumah Apache dan Gua Jepang di kawasan wisata Coban Talun. \u201dWahana ini merupakan spot terusan yang berada di Coban Talun,\u201d kata Koordinator Wisata Coban Talun Samsul Huda kemarin (3\/10).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia menyatakan, pengerjaan spot baru itu dilakukan sejak Agustus lalu. Mulai dari pembuatan rumah hingga taman dan fasilitas penunjang lainnya. Setelah rampung, baru beroperasi pada awal Oktober ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia membeberkan, wahana yang dibangun di atas lahan seluas 2.000 meter persegi itu merupakan ide dari warga sekitar. Termasuk juga investornya dari warga sekitar.<br \/>\nKehadiran spot baru itu diharapkan bisa mendongkrak kunjungan wisatawan ke Coban Talun. Saat ini, rata-rata pengunjung wisata di Coban Talun pada hari biasa sekitar 100-150 pengunjung. Sementara pada akhir pekan, bisa mencapai 1.000 pengunjung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan meningkatknya kunjungan wisatawan, pihaknya bisa meraup pendapatan cukup besar. Bahkan, saat ini telah melampaui target. \u201dSatu tahun targetnya Rp 375 juta, tapi sekarang sudah mencapai Rp 600 juta,\u201d kata dia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Resort Pemangkuan Hutan Punten Bambang Sutrisno mengakui pemanfaatan bisa dilakukan dengan warga maupun investor. Bahkan, bisa pula dikombinasikan antara investor, warga, dan Perhutani. \u201dJika atas nama lembaga dengan Perhutani saja, pembagiannya 50:50. Tapi, jika tiga pihak, maka investor dapatnya 35 persen, sedangkan 65 persen untuk Perhutani dan warga,\u201d bebernya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Sumber : <a href=\"https:\/\/entertainment.radarmalang.id\/baru-ada-rumah-terbalik-di-hutan-coban-talun\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">radarmalang.id<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tanggal : 4 Oktober 2017<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>RADARMALANG.ID (4\/10\/2017) | Jujukan wisata baru hasil perpaduan alam terus bermunculan. Terbaru, ada wisata Rumah Terbalik di kawasan Coban Talun. Destinasi yang baru dioperasikan pada awal Oktober ini menawarkan suasana alami. Rumah Terbalik itu berdiri kokoh dengan latar depan kebun bunga dan latar belakang hutan pinus. Pengunjung bisa menikmati kesejukan serta pemandangan alam itu dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[13],"tags":[35,32,711,19,20,21],"class_list":["post-50052","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-publikasi-media","tag-wisataperhutani","tag-beritaperhutani","tag-kph-malang","tag-perhutani","tag-perum-perhutani","tag-perumperhutani"],"acf":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50052","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=50052"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50052\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":200193,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50052\/revisions\/200193"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=50052"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=50052"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=50052"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}