{"id":50952,"date":"2017-11-23T12:18:16","date_gmt":"2017-11-23T05:18:16","guid":{"rendered":"http:\/\/www.perhutani.co.id\/?p=50952"},"modified":"2022-04-04T12:50:32","modified_gmt":"2022-04-04T12:50:32","slug":"gubernur-jateng-angankan-optimalisasi-rempah-rempah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/gubernur-jateng-angankan-optimalisasi-rempah-rempah\/","title":{"rendered":"Gubernur Jateng Angankan Optimalisasi Rempah-Rempah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/www.perhutani.co.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/Gubernur-Jawa-Tengah-Ganjar-Pranowo.-M.-Ferri-Setiawan.-300x180.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-50953 alignleft\" src=\"http:\/\/www.perhutani.co.id\/wp-content\/uploads\/2017\/11\/Gubernur-Jawa-Tengah-Ganjar-Pranowo.-M.-Ferri-Setiawan.-300x180-300x180.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"180\" \/><\/a>SOLOPOS.COM (23\/11\/2017) | Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengangankan rempah-rempah Indonesia bermafaat lebih luas bagi dunia. Jateng diharapkan mengawali pemanfaatan beragam jenis rempah-rempah secara lebih optimal demi kepentingan pengobatan masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMeskipun ragam rempah-rempah melimpah, tapi sampai saat ini kita baru memanfaatkan 4% dari 7.000 jenis rempah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 90% pengelolaannya dilakukan petani,\u201d kata Gubernur Ganjar Pranowo di Kota Semarang, Jateng, Senin (20\/11\/2017).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ganjar menyayangkan kondisi itu karena kalau ribuan jenis rempah bisa dimanfaatkan secara benar dan optimal maka hasilnya memuaskan. Apalagi, katanya mengingatkan rempah-rempah Indonesia sangat diperlukan orang di seluruh dunia, baik untuk pengobatan maupun keperluan lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut dia, produksi komoditas rempah-rempah Indonesia, khususnya di Provinsi Jateng yang mulai surut karena tergantikan oleh komoditas lain, seharusnya dapat mengangkat perekonomian bangsa dan menyejahterakan masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cIni menjadi tanggung jawab kita semua, diperlukan sinergitas antara pemerintah, para pemangku kepentingan terkait, serta masyarakat,\u201d ujar politikus PDI Perjuangan itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sri Puryono menambahkan, pihaknya mendukung pengembangan dan peningkatan produktivitas rempah. \u201cHal itu sebagai upaya mengembalikan kejayaan rempah-rempah dari Indonesia,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berbagai upaya kerja sama dengan instansi atau lembaga lain, kata dia, telah dilakukan seperti kesepakatan antara Pemprov Jateng, Perhutani, serta masyarakat dalam pemanfaatan lahan perhutani untuk penanaman hortikultura dan rempah-rempah. \u201cPetani sudah ada kerja sama sehingga semua harus dijaga, khususnya kualitas, kuantitas, serta kontinyuitas karena kekurangan kita, kalau sudah laku lalu kualitas dibaikan sehingga pabrik ada jaminan pasokan bahan baku, sedangkan petani mempunyai jaminan pemasaran,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Sumber : <a href=\"http:\/\/www.solopos.com\/2017\/11\/23\/gubernur-jateng-angankan-optimalisasi-rempah-rempah-871151\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">solopos.com<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tanggal : 23 November 2017<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SOLOPOS.COM (23\/11\/2017) | Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengangankan rempah-rempah Indonesia bermafaat lebih luas bagi dunia. Jateng diharapkan mengawali pemanfaatan beragam jenis rempah-rempah secara lebih optimal demi kepentingan pengobatan masyarakat. \u201cMeskipun ragam rempah-rempah melimpah, tapi sampai saat ini kita baru memanfaatkan 4% dari 7.000 jenis rempah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 90% pengelolaannya dilakukan petani,\u201d kata [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[13],"tags":[32,113,19,20,21],"class_list":["post-50952","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-publikasi-media","tag-beritaperhutani","tag-kerjasama","tag-perhutani","tag-perum-perhutani","tag-perumperhutani"],"acf":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50952","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=50952"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50952\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":200043,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50952\/revisions\/200043"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=50952"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=50952"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=50952"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}