{"id":53905,"date":"2018-04-26T11:33:49","date_gmt":"2018-04-26T04:33:49","guid":{"rendered":"http:\/\/www.perhutani.co.id\/?p=53905"},"modified":"2018-04-26T11:33:49","modified_gmt":"2018-04-26T04:33:49","slug":"wisata-religi-patirtan-jolotundo-peninggalan-pada-masa-kerajaan-majapahit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wisata-religi-patirtan-jolotundo-peninggalan-pada-masa-kerajaan-majapahit\/","title":{"rendered":"Berkunjung Ke Wisata Religi Petirtaan Jolotundo"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; font-family: Georgia; color: #333333;\"><a href=\"http:\/\/www.perhutani.co.id\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/jolotundo.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-54666\" src=\"http:\/\/www.perhutani.co.id\/wp-content\/uploads\/2018\/04\/jolotundo-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"225\" \/><\/a><\/span><\/p>\n<p>PASURUAN, PERHUTANI (26\/04\/2018) | Candi Jolotundo atau dikenal dengan Petirtaan Jolotundo merupakan salah satu Cagar Budaya yang terletak di lereng sebelah barat Gunung Penanggungan tepatnya di petak 4D Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Seloliman, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Penanggungan, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pasuruan dan secara administrasi di dukuh Balekambang Desa Seloliman Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto.<br \/>\nJolotundo merupakan peninggalan pada masa Kerajaan Majapahit yang di bangun pada tahun 997 Masehi oleh Raja Udayana dari Bali. Dibangunnya\u00a0tempat ini sebagai\u00a0ungkapan cinta kasih Raja Udayana untuk menyabut kelahiran putranya Prabu Airlangga buah pernikahannya dengan Putri Guna Priya Dharma dari Jawa pada tahun 991 Masehi. Bagunan\u00a0ini\u00a0memiliki panjang 16,85 meter, lebar 13,52 meter dan tinggi 5,2 meter.<br \/>\nDi lokasi\u00a0ini pengunjung dapat menikmati keasrian alam, letaknya yang berada di ketinggian\u00a0<u>+<\/u>\u00a0500 mdpl lereng Gunung Penanggungan, membuat lokasi ini memiliki udara yang sejuk dingin dan jauh dari polusi. Kawasan ini\u00a0juga banyak ditumbuhi pohon- pohon berusia puluhan tahun serta memiliki suasana yang sangat tenang.<br \/>\nHingga saat ini kondisi Jolotundo dapat dikatakan tidak banyak mengalami perubahan dari bentuk aslinya. Pada dinding-dinding terukir relief pahatan tangan yang menggambarkan pesan-pesan sosial pada masa kerajaan Majapahit \u00a0di masa itu.<br \/>\nDalam komplek bangunan Jolotundo terdapat dua sendang yang terbuat dari batu berukuran luas 2 x 2 meter dan dahulu dipergunakan oleh Raja dan putrinya berendam atau mandi. Sendang tersebut dibedakan sesuai dengan jenis kelamin, bagian selatan diperuntukan untuk \u00a0laki-laki dan utara untuk perempuan.<br \/>\nPada malam bulan purnama, Jolotundo banyak dikunjungi\u00a0 untuk mandi pada sendang tersebut. Kegiatan ini dilakukan untuk mensucikan diri sebelum melakukan\u00a0 ritual ngala berkah atau mendekatkan diri pada sang pencipta untuk meminta mengabulkan doa mereka. Ritual mandi atau mensucikan diri di dalam sendang dilakukan tanpa menggunakan sabun mandi, sampo maupun pasta gigi.\u00a0Hal ini bertujuan agar air yang mengalir dari dalam sendang \u00a0tidak tercemar.<br \/>\nKeunikan lainnya, mata air yang mengalir di lokasi Jolotundo\u00a0tidak pernah surut dan debitnya selalu konsisten setiap tahunnya. Menurut mitos, bagi pengunjung yang meminum air dari\u00a0lokasi ini dapat membuat awet muda dan menjauhkan dari penyakit.<br \/>\nDibawah sendang terdapat kolam ikan yang dibangun menggunakan batu andesit seluas 8 x 6 meter, didalamnya terpelihara berbagai macam jenis ikan, antara lain ikan tombro, nila, komet dan mujair yang terpelihara dengan baik. Para pengunjung tidak diperkenankan untuk mengambil ikan-ikan tersebut karena konon akan mendapat musibah bila mengambilnya.<br \/>\nBagi masyarakat desa Seloliman, Jolotundo banyak memberikan berkah dan manfaat terutama mengenai\u00a0 hasil pertanian. Ladang \u00a0dan sawah sekitar\u00a0Jolotundo dapat dipastikan tidak pernah kekurangan air. Selain itu\u00a0 masyarakat sekitar dapat mengais rejeki\u00a0dengan jasa ojek menuju lokasi Petirtaan Jolotundo, mendirikan warung \u2013 warung\u00a0 dengan menjual makanan , sovenir\u00a0 maupun hasil bumi daerah sekitarnya.<br \/>\nKegiatan menarik lainnya pada lokasi ini adalah aktivitas kunjungan ke lokasi pada malam bulan Suro penanggalan Jawa. Masyarakat desa setempat melaksanakan upacara sedekah bumi dan bersih desa yang pelaksanaannya dilakukan di pelataran Jolotundo.<br \/>\nProsesi upacara dipimpin oleh tokoh masyarakat yang telah dipercaya. Kegiatan upacara akan diawali dengan memberikan sesaji berupa hasil bumi yang diletakan diatas Jolotundo sebagai persembahan rasa sukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.<br \/>\nLokasi Jolotundo bisa ditempuh dari tiga arah yaitu Surabaya, Malang dan Mojokerto. Dari Surabaya dapat menggunakan kendaraan umum jurusan Surabaya-Malang \u00a0turun di simpang tiga Japanan dilanjutkan menggunakan kendaraan umum jurusan Mojokerto turun di Ngoro Industri Persada (NIP) dilanjutkan menggunakan jasa \u00a0ojek ke lokasi, perjalanan \u00a0membutuhkan waktu\u00a0sekitar 1,5 jam. Dari Malang dapat menggunakan kendaraan umum jurusan Malang-Surabaya kemudian turun di terminal Pandaan dan dilanjutkan menggunakan jasa ojek\u00a0 ke lokasi, perjalanan \u00a0membutuhkan waktu\u00a0sekitar 2 jam. Dari Mojokerto bisa melalui Pacet\u00a0 menuju Trawas turun di Ngoro Industri Persada \u00a0dilanjutkan ojek ke lokasi. (Komper\/Psu\/Dd)<br \/>\nEditor: Ywn<br \/>\nCopyright\u00a92018<br \/>\n&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;\"><span style=\"font-size: 12.0pt; font-family: Georgia; color: #333333;\">\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PASURUAN, PERHUTANI (26\/04\/2018) | Candi Jolotundo atau dikenal dengan Petirtaan Jolotundo merupakan salah satu Cagar Budaya yang terletak di lereng sebelah barat Gunung Penanggungan tepatnya di petak 4D Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Seloliman, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Penanggungan, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pasuruan dan secara administrasi di dukuh Balekambang Desa Seloliman Kecamatan Trawas Kabupaten [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":67,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[15],"tags":[1597,43,32,19,20,21,46],"class_list":["post-53905","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-suara-rimba","tag-kphpasuruan","tag-perhutanisuararimba","tag-beritaperhutani","tag-perhutani","tag-perum-perhutani","tag-perumperhutani","tag-suara-rimba"],"acf":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53905","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/67"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=53905"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53905\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=53905"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=53905"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=53905"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}