{"id":6154,"date":"2013-01-16T08:32:43","date_gmt":"2013-01-16T01:32:43","guid":{"rendered":"http:\/\/perhutani.co.id\/?p=6154"},"modified":"2022-04-04T12:56:35","modified_gmt":"2022-04-04T12:56:35","slug":"melepas-elang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/melepas-elang\/","title":{"rendered":"Melepas Elang"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jatim, Ludvie Achmad, melepas satwa lindung jenis elang jawa (Spizaetus bartelsi) ke alam bebas kemarin (15\/1). Pelepasan itu dilakukan di sekitar Gunung Ijen, Desa Tamansari, Kecamatan Licin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Elang jawa yang dilepas tersebut merupakan sitaan BKSDA Jatim pada 28 September 2012 lalu. Satwa lindung tersebut dipelihara salah satu warga yang tinggal di daerah Larangan, Sidoarjo. \u201cElang jawa ini termasuk satwa yang nyaris punah. Jadi, perlu dilestarikan,\u201d cetus Ludvie Achmad<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ludvie menyebut, elang jawa hanya ada di Pulau Jawa. Satwa ini, melalui Keputusan Presiden No. 4 Tahun 1993, elang jawa telah ditetapkan sebagai spesies kebanggaan nasional. \u201cDianggap sebagai kebanggaan nasional karena mirip burung garuda sebagai lambang negara,\u201d katanya.\u00a0<!--more-->Pelepasan elang jawa tersebut dilakukan sekitar pukul 07.30 di Petak 1D, RPH\/BKPH Licin, KPH Perhutani Banyuwangi Barat. Sebelum dilepas, burung tersebut dibuatkan sangkar berukuran besar di lereng Gunung Rantak itu. \u201cPelepasan elang jawa ini untuk menjaga populasinya,\u201d ungkap Ludvie.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ludvie menyebut, Gunung Ijen dipilih sebagai daerah pelepasan satwa langka tersebut karena sekitar Gunung Ijen termasuk habitat yang baik untuk elang jawa. \u201cMeskipun jumlah populasinya belum diketahui secara pasti, saya berharap masyarakat ikut menjaganya,\u201d cetusnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Elang jawa yang dilepas ini, jelas dia, berkelamin betina dan diberi nama Sylvia. Saat dilepas, diberi tanda biru di sayap kiri. Selain itu, juga dipasangi microchips avid. Di kaki kirinya diberi ring berangka 19. \u201cBKSDA akan mengawasi elang tersebut selama sebulan penuh,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ditanya terkait jumlah populasi elang jawa saat ini, aktivis lingkungan dari Raptor Indonesia, Zaini Rahman, membeberkan populasi satwa lindung tersebut terus menurun sepanjang tahun. \u201cItu karena banyaknya perburuan dan perusakan habitat,\u201d ungkap Zaini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berdasar penelitian yang dia lakukan, pada 2004 populasi elang jawa hanya 425 pasang. Pada 2009 hingga 2010, populasinya turun menjadi 325 pasang. \u201cSelama lima tahun populasinya turun 100 pasang,\u201d cetusnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Zaini menyebut, elang jawa termasuk satwa yang sulit berkembang biak. Biasanya satwa ini bercumbu di udara sambil terbang tinggi. \u201cBurung ini susah bertelur. Dalam dua tahun hanya bertelur satu butir,\u201d ungkapnya. (abi\/c1\/als)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Radar Banyuwangi hal 27 :: Rabu, 16 Januari 2013<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jatim, Ludvie Achmad, melepas satwa lindung jenis elang jawa (Spizaetus bartelsi) ke alam bebas kemarin (15\/1). Pelepasan itu dilakukan di sekitar Gunung Ijen, Desa Tamansari, Kecamatan Licin. Elang jawa yang dilepas tersebut merupakan sitaan BKSDA Jatim pada 28 September 2012 lalu. Satwa lindung tersebut dipelihara salah satu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[13],"tags":[96,87],"class_list":["post-6154","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-publikasi-media","tag-kemenhut","tag-konservasi"],"acf":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6154","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6154"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6154\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":203099,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6154\/revisions\/203099"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6154"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6154"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6154"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}