{"id":62788,"date":"2018-07-31T20:13:21","date_gmt":"2018-07-31T13:13:21","guid":{"rendered":"http:\/\/www.perhutani.co.id\/?p=62788"},"modified":"2018-07-31T20:13:21","modified_gmt":"2018-07-31T13:13:21","slug":"mengenal-candi-belahan-peninggalan-kerajaan-majapahit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/mengenal-candi-belahan-peninggalan-kerajaan-majapahit\/","title":{"rendered":"Mengenal Candi Belahan Peninggalan Kerajaan Majapahit"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft size-medium wp-image-62790\" src=\"http:\/\/www.perhutani.co.id\/wp-content\/uploads\/2018\/07\/2-300x300.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"300\" \/>PERHUTANI, PASURUAN (31\/07\/2018) | Candi Belahan atau sering dikenal candi Sumber Tetek merupakan salah satu\u00a0 situs candi sumber mata air yang dibangun pada tahun 1049 Masehi\u00a0 atau pada abad 11 masa\u00a0 Kerajaan Kahuripan. Candi ini terletak di kawasan hutan yang dikelola Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pasuruan yaitu pada \u00a0petak 10 a Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Betro, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Penanggungan atau secara administrasi di desa Wonosunyo kecamatan Gempol kabupaten Pasuruan.<br \/>\nMenurut sejarahnya, Candi Sumber Tetek merupakan salah satu cikal bakal Candi Patirtan Jolotundo yang dibangun oleh Raja Airlangga dan berlokasi di lereng Gunung Bekal desa Seloliman Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto.<br \/>\nKedua situs candi tersebut merupakan peninggalan masa Kerajaan Majapahit, Candi Patirtan Jolotundo berada di Gunung Bekal sebelah selatan Gunung Penanggungan sedangkan Candi Sumber Tetek berada di lereng utara Gunung Penanggungan.<br \/>\nMenurut informasi, Candi Belahan atau Candi Sumber Tetek dibangun oleh Raja Airlangga untuk lokasi mandi permaisurinya. Dalam kompleks candi tersebut terdapat kolam yang memiliki patung Dewi Laksmi dan Dewi Sri yang diukir dengan menggunakan batu andesit. Salah satu daya tarik candi Belahan adalah mengalirnya sumber air melalui payudara kedua patung tersebut sehingga masyarakat menyebutnya dengan Candi Sumber Tetek.<br \/>\nPatung Dewi Laksmi dan patung Dewi Sri terletak menempel pada dinding candi yang terbuat dari batu merah. Pada Candi tersebut terukir relief yang eksotik dan menggambarkan pesan-pesan moral.<br \/>\nMenurut cerita dari masyarakat sekitar, dahulu di Candi Sumber Tetek juga terdapat patung Wisnu menunggangi burung garuda, Wisnu merupakan perwujudan Airlangga karena semasa hidupnya menganut ajaran Dewa Wisnu. Saat ini patung tersebut tersimpan di musium Purbakala Trowulan Mojokerto Jawa Timur.<br \/>\nCandi Sumber Tetek pada hari-hari tertentu dikunjungi banyak wisatawan untuk melaksanakan ritual ngalap berkah yaitu ritual berdoa kepada Yang Maha Pencipta agar harapanya terkabul. Terdapat juga larangan mandi atau bermain air pada kolam Candi Sumber Tetek bagi wanita yang sedang berhalangan karena dipercaya dapat memberikan kesialan.<br \/>\nUntuk menuju lokasi Candi Sumber Tetek pengunjung dapat menempuh perjalanan dengan kendaraan umum dari Gempol menuju Desa Belahan dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. (Kom-pht\/psu\/Dd).<br \/>\n&nbsp;<br \/>\nEditor: Ywn<br \/>\nCopyright\u00a92018<br \/>\n&nbsp;<br \/>\n&nbsp;<br \/>\n&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PERHUTANI, PASURUAN (31\/07\/2018) | Candi Belahan atau sering dikenal candi Sumber Tetek merupakan salah satu\u00a0 situs candi sumber mata air yang dibangun pada tahun 1049 Masehi\u00a0 atau pada abad 11 masa\u00a0 Kerajaan Kahuripan. Candi ini terletak di kawasan hutan yang dikelola Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pasuruan yaitu pada \u00a0petak 10 a Resort Pemangkuan Hutan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":67,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[15],"tags":[2991,198,19,20,791,46,1539,2755],"class_list":["post-62788","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-suara-rimba","tag-candi","tag-kph-pasuruan","tag-perhutani","tag-perum-perhutani","tag-situs-budaya","tag-suara-rimba","tag-wisata-perhutani","tag-wisata-situs-majapahit"],"acf":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62788","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/67"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=62788"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62788\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=62788"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=62788"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=62788"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}