{"id":85340,"date":"2019-05-02T08:22:43","date_gmt":"2019-05-02T01:22:43","guid":{"rendered":"http:\/\/www.perhutani.co.id\/?p=85340"},"modified":"2022-04-04T12:48:16","modified_gmt":"2022-04-04T12:48:16","slug":"baru-wisata-perahu-bendungan-logung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/baru-wisata-perahu-bendungan-logung\/","title":{"rendered":"Baru, Wisata Perahu Bendungan Logung"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">SUARAMERDEKA.COM (02\/05\/2019) | Kendati Bendungan Logung, Kabupaten Kudus, belum diresmikan, namun warga sekitar telah memanfaatkan bendungan itu, antara lain untuk objek wisata air. Warga Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus mulai mengoperasikan perahu wisata untuk para pengunjung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lukman, salah seorang pengelola perahu wisata menuturkan, wisata air di Bendungan Logung mulai dibuka seminggu ini. Setiap hari puluhan pengunjung menjajal berkeliling Bendungan Logung dengan naik perahu wisata yang dikelolanya bersama warga lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u2018\u2019Liburan jumlah pengunjung bisa 200 orang. Saat ini baru ada empat perahu yang kami operasikan. Rencana akan kami tambah hingga 15 perahu,\u2019\u2019 katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perahu wisata itu dibuat warga. Biaya pembuatan mencapai Rp 10 juta- Rp 12 juta. Perahu mampu menampung hingga sepuluh orang. Dengan tarif Rp 10 ribu untuk orang dewasa dan Rp 5 ribu untuk anak-anak. Pengunjung diajak berkeliling sekitar 15 menit-20 menit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u2018\u2019Untuk keamanan pengunjung selain jaket pelampung, kami juga menyiagakan tim SAR untuk berjaga-jaga,\u2019\u2019 ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski masih terbatas, pengunjung antusias menjajal destinasi wisata baru di Kabupaten Kudus itu. Yustina, salah seorang pengunjung mengaku mengetahui adanya perahu wisata di Bendungan Logung dari foto-foto di media sosial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u2018\u2019Saya ajak anak dan istri untuk menjajal wisata baru ini. Apalagi hari ini libur. Lokasinya juga dekat dengan rumah,\u2019\u2019 ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tak hanya warga Kandangmas, warga Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo juga bersiap-siap membuka destinasi wisata Bendungan Logung. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Tanjungrejo Cristian Rahardianto menuturkan, pihaknya bekerja sama dengan Perhutani.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u2018\u2019Kami bersama Perhutani telah membersihkan lahan untuk arena wisata. Selain perahu, nanti juga ada permainan bebek air, hingga arena selfie dan rumah makan apung,\u2019\u2019 katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cristian mengatakan, pengelolaan Bendungan Logung belum dibuka secara resmi. Meski begitu, pengelola tak melarang warga membuka objek wisata dengan memanfaatkan Logung. \u2018\u2019Pengelola wisata di Kandangmas juga berkomunikasi dengan kami. Yang penting kami tekankan untuk mengutamakan keselamatan pengunjung,\u2019\u2019 katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sumber : <a href=\"https:\/\/www.suaramerdeka.com\/news\/baca\/182820\/baru-wisata-perahu-bendungan-logung\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">suaramerdeka.com <\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tanggal : 2 Mei 2019<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SUARAMERDEKA.COM (02\/05\/2019) | Kendati Bendungan Logung, Kabupaten Kudus, belum diresmikan, namun warga sekitar telah memanfaatkan bendungan itu, antara lain untuk objek wisata air. Warga Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus mulai mengoperasikan perahu wisata untuk para pengunjung. Lukman, salah seorang pengelola perahu wisata menuturkan, wisata air di Bendungan Logung mulai dibuka seminggu ini. Setiap hari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[13],"tags":[32,19,20,21],"class_list":["post-85340","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-publikasi-media","tag-beritaperhutani","tag-perhutani","tag-perum-perhutani","tag-perumperhutani"],"acf":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85340","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=85340"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85340\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":199337,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85340\/revisions\/199337"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=85340"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=85340"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.perhutani.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=85340"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}