BANYUWANGI BARAT, PERHUTANI (21/01/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyuwangi Barat menerima audiensi Panitia Seminar Internasional bersama Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Banyuwangi serta Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian dan Perikanan (BEM-FPP) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag 45) Banyuwangi. Pertemuan berlangsung di ruang kerja Administratur KPH Banyuwangi Barat, pada Kamis (15/01).
Seminar Internasional yang akan digelar pada 26 Januari 2026 di Aula Untag 45 Banyuwangi mengusung tema “Dampak Sosial Ekologis Alih Fungsi Lahan dan Peran Strategis Generasi Muda.” Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Perhutani Banyuwangi Barat, University of Queensland, serta Principal Scientist Center for International Forestry Research (CIFOR) Indonesia, dan terbuka untuk umum khususnya generasi muda.
Panitia kegiatan, Icha Putri Andiani, menyampaikan bahwa Perhutani Banyuwangi Barat dipandang telah menjalankan pengelolaan hutan dengan baik serta berkontribusi pada perbaikan lingkungan, baik di dalam maupun di luar kawasan hutan. Kontribusi tersebut antara lain melalui kegiatan penanaman bersama instansi pemerintah, instansi vertikal, Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) di Banyuwangi. “Seminar ini bertujuan memberikan wawasan komprehensif mengenai fenomena alih fungsi lahan bagi akademisi dan praktisi, sekaligus menumbuhkan pemahaman pelajar dan mahasiswa tentang pentingnya menjaga kelestarian alam,” ujar Icha.
Ia menambahkan bahwa narasumber dalam kegiatan ini meliputi Carissa Klein dari University of Queensland, Prof. Daniel Murdiyarso, dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan CIFOR secara daring, serta Muklisin, Administratur KPH Banyuwangi Barat, dan Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi secara luring.
Administratur KPH Banyuwangi Barat, Muklisin, menyampaikan terima kasih atas undangan sebagai narasumber dan mengapresiasi panitia yang didukung GMNI Banyuwangi serta Forum Komunikasi Kampus (FKK) Untag 45 atas kepeduliannya terhadap isu lingkungan hidup. “Seminar ini selaras dengan Tata Nilai AKHLAK Perhutani Group, khususnya nilai ‘Kolaboratif’ yang mendorong kerja sama sinergis antarinstansi dan membuka ruang kontribusi bagi berbagai pihak,” jelas Muklisin.
Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi wadah edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sumber daya alam secara bijak untuk menjaga fungsi dan keberlanjutan hutan. “Pengelolaan hutan lestari yang dilakukan Perhutani mengedepankan manfaat ekologi (planet), sosial (people), dan ekonomi (profit). Dengan prinsip tersebut, kelestarian hutan dapat berjalan beriringan dengan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (Kom-PHT/Bwb/Eko)
Editor:Lra
Copyright©️2026