SUKABUMI, PERHUTANI (17/11/2025) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sukabumi menghadiri kegiatan Gernaka Pamungkas Seren Tahun Hajat Balarea ke-9 Tahun Pangauban Cimandiri, yang digelar di Saung Geulis, Kadudampit, pada Minggu (16/11). Acara sakral yang memadukan kearifan lokal dengan komitmen pelestarian lingkungan ini turut dihadiri sejumlah pejabat strategis daerah, di antaranya Kepala Dinas Pertanahan Tata dan Ruang (DPTR) serta Kepala Bidang Sumber Daya Alam (SDA) Kabupaten Sukabumi.
Kehadiran para pejabat tersebut menjadi bentuk pengakuan sekaligus dukungan pemerintah terhadap inisiatif masyarakat yang digagas oleh Bayu Permana, Motor Penggerak Patanjala sekaligus anggota DPRD Kabupaten Sukabumi. Patanjala, sebagai konsep dan metodologi yang melandasi kegiatan ini, menawarkan pendekatan holistik dalam tata kelola lingkungan.
Dalam sambutannya, Administratur KPH Sukabumi Tofik Hidayat menyampaikan apresiasi atas undangan yang diterimanya.
“Atas nama pribadi dan Perum Perhutani KPH Sukabumi, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas undangan menghadiri acara yang sakral ini,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa nilai dan komitmen Patanjala sejalan dengan visi Perhutani. “Patanjala memiliki jejak sejarah yang konsisten dalam pemeliharaan alam. Hal ini sejalan dengan visi kami dalam melestarikan hutan. Sinergi seperti inilah yang kita butuhkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dari hulu hingga hilir,” tambahnya.
Sementara itu, Bayu Permana selaku tuan rumah dan anggota DPRD Kabupaten Sukabumi, menyampaikan apresiasi atas kehadiran seluruh pejabat yang turut mendukung kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa Patanjala merupakan konsep tata kelola lingkungan yang berasal dari kata patan (air) dan jala (sungai), yang dipahami sebagai wilayah yang harus dijaga sebagai kabuyutan atau situs leluhur. Dalam tradisi Sunda, wilayah sungai terbagi ke dalam empat kawasan: walungan (sungai induk), wahangan, solokan, dan susukan (anak-anak sungai).
“Melalui Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga, pengetahuan tradisional Patanjala telah dimasukkan dalam pokok-pokok pikiran kebudayaan daerah dan termuat dalam rumusan raperda pemajuan kebudayaan daerah. Dengan demikian, Patanjala sebagai pengetahuan tradisional telah memperoleh pengakuan dari negara dan Pemerintah Kabupaten Sukabumi,” pungkasnya.
Gelaran Hajat Balarea ini, yang turut dimeriahkan oleh berbagai kesenian tradisional, berhasil menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan akan semakin kuat dan berkelanjutan apabila dilandasi nilai budaya serta diperkuat oleh kolaborasi antara masyarakat, pegiat lingkungan, legislatif, dan instansi pemerintah. (Kom-PHT/SMI/Chen)
Editor:EM
Copyright©2025