MALANG, PERHUTANI (29/11/2025) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Malang bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), tokoh budaya, pemerhati lingkungan, dan komunitas lokal menyelenggarakan peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) bertema “The Magical of the Holy Tree” di kawasan hutan Keraton Gunung Kawi, Kabupaten Malang, Jumat (28/11).
Kegiatan yang dihadiri Kepala Perhutani Divisi Regional Jawa Timur, wawan Triwibowo ini dikemas bukan sebagai seremoni tanam pohon biasa, tetapi sebagai pertunjukan budaya yang memadukan konservasi, spiritualitas, dan kearifan lokal.
Ratusan peserta hadir seperti, pemerhati lingkungan Kristomo dan Jonotoro, pengasuh Ponpes Ekologi Kanzun Najah Fathul Yasin, Ketua LMDH Pesanggrahan Ahmad Syaifudin, serta pegiat ekologi Mukhlis. Suasana hangat tercipta melalui sajian kuliner tradisional dan diskusi reflektif mengenai hubungan manusia dengan alam.
Administratur Perhutani KPH Malang, Kelik Djatmiko, menegaskan bahwa acara ini dirancang untuk memulihkan cara pandang masyarakat terhadap pohon. “Pohon bukan benda mati, ia simbol kehidupan yang suci—ada magic-nya,” ujarnya.
Kelik menambahkan, bahwa konsep sakral tersebut diwujudkan melalui prosesi penanaman pohon beringin dan kemenyan putih, dua jenis yang memiliki nilai spiritual dalam budaya Jawa. Prosesi dilakukan khidmat, diiringi tembang dan teatrikal budaya, sehingga terasa sebagai bentuk penghormatan terhadap alam.
“Ketika masyarakat merasa terhubung secara batiniah, menjaga pohon bukan lagi kewajiban, tetapi kebutuhan jiwa,” ucapnya.
Melalui gelaran The Magical of the Holy Tree, Perhutani mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga hutan sebagai penyangga kehidupan dan sumber kesejahteraan bersama, pungkas kelik.
Dalam kesempatan itu Kepala Perhutani Divisi Regional Jawa Timur, Wawan Triwibowo menekankan pentingnya peran rimbawan dalam memastikan keberlanjutan hutan. Ia menyampaikan bahwa pohon yang ditanam hari ini adalah investasi ekologis bagi generasi mendatang serta mengingatkan pentingnya menjaga fungsi hutan sebagai penyangga air dan ruang kehidupan.
Sementara pemerhati lingkungan Jonotoro dan Kristomo menilai kegiatan ini sarat filosofi dan harus diikuti dengan perawatan rutin. Gus Yasin menegaskan bahwa merawat pohon adalah bagian dari ibadah yang membawa keberkahan.
Ketua LMDH Ahmad Syaifudin juga memastikan pihaknya siap mengawal perawatan bibit, dan Mukhlis menekankan pentingnya pendidikan ekologis bagi generasi muda.
pelestarian lingkungan bisa dimulai dari pendekatan yang manusiawi dan berbudaya. Acara ini bukan akhir, melainkan awal dari sebuah gerakan konservasi baru di Jawa Timur yang lebih intim dan menyentuh relung spiritual. (Kom-PHT/Mlg/Mhrr)
Editor:Lra
Copyright©2025