GUNDIH, PERHUTANI (21/07/2025) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Gundih mendukung pelaksanaan Tradisi Grebeg Suro di Sendang Coyo, Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, pada Jumat (18/07). Ribuan orang memadati objek wisata Sendang Coyo yang terletak di kawasan hutan Perhutani KPH Gundih, tepatnya di petak 21 E Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Panunggalan Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Coyo.

Acara dimulai sejak sore hari hingga tengah malam, diawali dengan iringan gunungan hasil bumi yang diarak menuju Sendang Coyo. Sesampainya di lokasi, yaitu di makam Mbah Gabus, gunungan diletakkan di tempat yang telah disediakan, kemudian dilanjutkan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh Desa Mlowokarangtalun.

Wakil Administratur KPH Gundih, Dwi Anggoro, menyampaikan bahwa Tradisi Grebeg Suro di Sendang Coyo sudah menjadi tradisi masyarakat Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon. Selain untuk nguri-uri tradisi, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong warga desa sekitar sendang untuk terus menjaga sumber mata air agar tetap ada dan lestari.

“Ini adalah tradisi kearifan lokal yang mereka laksanakan setiap tahun pada bulan Muharam. Selain Grebeg Suro ini, kami berharap warga masyarakat juga mau melestarikan sumber mata air agar tetap terjaga sepanjang tahun,” tuturnya.

Iar menambahkan, tradisi ini diharapkan dapat meningkatkan rasa syukur dan penghargaan terhadap alam semesta. Dengan menjalankan adat istiadat, mata air dapat terus menjadi sumber kehidupan manusia. Mari kita jaga sumber mata air ini agar tetap ada dan lestari sebagai warisan budaya untuk anak cucu kita nanti.

Penjabat Kepala Desa Mlowokarangtalun, Wahyu Hudiyono, dalam sambutannya menyampaikan bahwa acara Malam Suro Jumat Legi merupakan kegiatan tahunan yang bertujuan untuk nguri-uri budaya serta menjaga kearifan lokal, yang dikemas menjadi sebuah acara budaya.

“Acara Grebeg ini merupakan acara tahunan. Tujuannya untuk nguri-uri budaya dan menjaga kearifan lokal serta dikemas menjadi sebuah acara budaya. Kami berharap masyarakat bisa menghargai alam semesta dengan menjalankan adat istiadat, sehingga mata air ini menjadi sumber kehidupan manusia. Mari kita jaga sumber mata air ini,” pungkasnya. (Kom-PHT/Gdh/Dwi)

Editor: Tri

Copyright © 2025