BANYUMAS TIMUR, PERHUTANI (27/08/2025) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur melaksanakan kegiatan diskusi dan penanaman bersama di sekitar situs Lemah Wangi, petak 56K Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Baturraden, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Gunung Slamet Barat dengan jenis tanaman pangan lokal umbi secara simbolis, pada Senin (25/08).
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Sub Seksi (KSS) Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan Perhutani KPH Banyumas Timur, akademisi Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas, Kepala Desa Ketenger beserta jajaran, Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Gempita, serta Ketua Adat Lemah Wangi.
Ketua Panitia Geografi Membumi 2025 Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Naya Parahita Wibowo, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, terutama kepada Perhutani KPH Banyumas Timur yang telah menyediakan lokasi dan tim pemandu.
“Kegiatan ini berawal dari kepedulian panitia Geografi Membumi 2025 terhadap kelestarian adat budaya Lemah Wangi dan kearifan lokal,” ujarnya.
Administratur KPH Banyumas Timur melalui KSS Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan, Heri Kusnanto, menyampaikan bahwa Perhutani sebagai Badan Usaha Milik Negara yang mengelola kawasan hutan, tidak hanya bergerak di bidang produksi dan jasa lingkungan, tetapi juga mengelola kawasan perlindungan, melaksanakan monitoring dan evaluasi, serta menyusun pelaporan dalam bentuk dokumen High Conservation Value Forest (HCVF) kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
“HCVF atau High Conservation Value Forest merujuk pada kawasan hutan yang memiliki nilai ekologis, sosial, dan budaya yang sangat penting serta harus dijaga keberlanjutannya. Konsep ini diintegrasikan dalam program sertifikasi Sustainable Forest Management (SFM) atau Forest Stewardship Council (FSC) untuk menyeimbangkan antara konservasi dan pembangunan ekonomi,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Ketenger, Wartam, menyampaikan terima kasih kepada Perhutani dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang telah ikut menjaga kelestarian hutan di wilayah pangkuan Desa Ketenger, khususnya dalam melestarikan adat budaya Lemah Wangi dan kearifan lokal.
“Mahasiswa adalah generasi penerus bangsa yang kelak akan menjadi pemimpin. Diharapkan kegiatan ini bukan hanya sekadar seremonial, tetapi terus berlanjut baik dalam pelestarian situs adat Lemah Wangi maupun kelestarian hutan,” pungkasnya. (Kom-PHT/Byt/Str)
Editor: Tri
Copyright © 2025