KEDU UTARA, PERHUTANI (29/12/2025) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Utara, terus berupaya mengoptimalkan produksi getah pinus yang menjadi salah satu hasil hutan andalan Perhutani. Upaya tersebut dilakukan melalui pendampingan dan pembekalan teknis kepada tenaga penyadap, khususnya di wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Jumo, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Candiroto. Langkah ini dilakukan sebagai respons atas kondisi cuaca dalam beberapa bulan terakhir yang berdampak pada penurunan produksi getah, Jumat (26/12).

Cuaca yang tidak menentu, seperti tingginya curah hujan dan perubahan suhu ekstrem, diketahui berpengaruh terhadap aliran getah dari pohon pinus. Kondisi tersebut menuntut adanya penyesuaian teknik penyadapan agar hasil yang diperoleh tetap optimal tanpa mengabaikan aspek kelestarian pohon dan keselamatan kerja tenaga sadap.

Administratur Perhutani KPH Kedu Utara melalui Kepala BKPH Candiroto, Joko Supriyanto, menyampaikan bahwa getah pinus memiliki peran strategis dalam mendukung kinerja produksi Perhutani. Oleh karena itu, meskipun dihadapkan pada tantangan cuaca, upaya optimalisasi produksi tetap harus dilakukan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia di lapangan.

“Getah pinus merupakan hasil hutan andalan Perhutani yang kontribusinya cukup besar. Untuk itu, Perhutani berupaya menjaga stabilitas produksi dengan melakukan pendampingan dan pembekalan kepada tenaga sadap, khususnya terkait teknik penyadapan yang benar agar hasil yang diperoleh bisa maksimal,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pendampingan yang diberikan meliputi cara pembuatan luka sadap yang sesuai standar, pengaturan kedalaman dan arah sadapan, pemilihan alat sadap yang tepat, serta perawatan bidang sadap agar pohon tetap sehat dan produktif. Selain itu, tenaga sadap juga diberikan pemahaman terkait pentingnya menjaga kebersihan bidang sadap dan disiplin waktu penyadapan.

Menurut Joko, faktor cuaca memang tidak dapat dikendalikan, namun penerapan teknik penyadapan yang baik dan benar dapat meminimalkan dampak penurunan produksi. Ia juga menekankan pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja bagi tenaga sadap agar kegiatan produksi dapat berjalan lancar dan berkelanjutan.

Salah satu tenaga sadap di RPH Jumo, Fajar, mengungkapkan bahwa pendampingan dari Perhutani sangat membantu dalam meningkatkan pemahaman teknis di lapangan. Ia mengakui bahwa kondisi cuaca belakangan ini cukup memengaruhi hasil sadapan, namun dengan arahan yang diberikan, tenaga sadap menjadi lebih memahami cara menyiasatinya.

“Dengan adanya pendampingan, kami jadi tahu cara memperbaiki teknik sadap supaya getah bisa keluar lebih optimal. Arahan dari Perhutani juga membuat kami lebih hati-hati agar pohon tetap terjaga dan tidak rusak,” ungkapnya.

Ia berharap kegiatan pendampingan semacam ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan, karena selain meningkatkan hasil produksi, juga memberikan rasa aman dan kepastian bagi tenaga sadap dalam bekerja.

Melalui upaya pendampingan dan pembekalan teknis ini, Perhutani KPH Kedu Utara berharap produksi getah pinus di wilayah RPH Jumo BKPH Candiroto dapat terus terjaga dan meningkat secara bertahap. Sinergi antara Perhutani dan tenaga sadap diharapkan mampu mendukung pengelolaan hutan yang produktif, lestari, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan. (Kom-PHT/Kdu/Nurul).

Editor: Tri

Copyright © 2025