KEDU UTARA, PERHUTANI (31/12/2025) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Utara terus mendorong pengembangan wisata pendakian berbasis kelestarian hutan dan pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan. Salah satunya melalui pengelolaan wisata pendakian Gunung Sikendil via Sibajag yang masuk kawasan hutan Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Jumprit, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Temanggung. Jalur pendakian ini dikelola dengan skema kemitraan antara Perhutani dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Rimba Makmur Desa Canggal, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, melalui sistem bagi hasil yang transparan dan berkeadilan. Selasa (30/12)

Pengelolaan wisata pendakian Gunung Sikendil via Sibajag tidak hanya diarahkan sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga sebagai sarana peningkatan kesejahteraan masyarakat desa hutan. Melalui kemitraan tersebut, masyarakat dilibatkan secara aktif dalam pengelolaan basecamp, pelayanan pendaki, hingga upaya pelestarian lingkungan di kawasan hutan.

Administratur Perhutani KPH Kedu Utara, Andrie Syailendra, menyampaikan bahwa pola kemitraan dengan LMDH menjadi strategi penting dalam mengoptimalkan potensi wisata hutan secara berkelanjutan. Menurutnya, pengembangan wisata pendakian harus sejalan dengan prinsip kelestarian, keamanan, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Perhutani mengelola wisata pendakian Sikendil via Sibajag melalui skema kemitraan bersama LMDH dengan sistem bagi hasil. Skema ini diharapkan mampu mendorong partisipasi aktif masyarakat sekaligus menjaga kelestarian kawasan hutan,” ujar Andrie Syailendra.

Dalam pelaksanaannya, Perhutani secara rutin melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap pengelolaan basecamp dan jalur pendakian. Monev dilakukan untuk memastikan seluruh kegiatan pengelolaan berjalan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan.

Kepala BKPH Temanggung, Riry Osmaroza, menegaskan bahwa aspek keamanan, kenyamanan, dan keselamatan pendaki menjadi prioritas utama dalam pengelolaan wisata pendakian. Selain itu, kebersihan kawasan hutan dan lingkungan basecamp juga menjadi perhatian serius.

“Perhutani secara berkala melakukan monev untuk memastikan pengelola basecamp mematuhi ketentuan dan SOP. Keamanan, kenyamanan, serta keselamatan pendaki menjadi hal yang tidak bisa ditawar, termasuk pengelolaan kebersihan baik di jalur pendakian maupun di area basecamp,” kata Riry Osmaroza.

Ia menambahkan, pengelolaan wisata pendakian yang tertib dan berstandar akan memberikan pengalaman positif bagi para pendaki, sekaligus menjaga citra wisata alam di kawasan hutan agar tetap lestari dan berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua LMDH Rimba Makmur, Diyanto, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Perhutani kepada masyarakat desa hutan dalam pengelolaan wisata pendakian Sikendil via Sibajag. Menurutnya, kemitraan tersebut memberikan peluang ekonomi baru bagi warga sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga hutan.

“LMDH dan pengelola basecamp berkomitmen untuk mengelola basecamp dan jalur pendakian sesuai SOP yang telah ditetapkan Perhutani. Kemitraan ini sangat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab untuk menjaga hutan tetap lestari,” ujarnya.

Melalui pengembangan wisata pendakian Sikendil via Sibajag, Perhutani berharap potensi wisata alam di kawasan hutan dapat terus digali dan dikelola secara profesional. Dengan kolaborasi bersama LMDH, Perhutani optimistis wisata pendakian tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan tanpa mengabaikan fungsi utama hutan. (Kom-PHT/Kdu/Nurul)

Editor: Tri
Copyright © 2025