PURWODADI, PERHUTANI (18/01/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi, menggelar tradisi bancaan awal mulai tebangan jati di petak 43B seluas 8,8 hektare, wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Karanggetas, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Pojok, pada Sabtu (17/01). Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka melestarikan budaya leluhur sekaligus memohon keselamatan dan kelancaran kegiatan pengelolaan hutan.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh jajaran Perhutani BKPH Pojok, Kepala Kepolisian Sektor (Polsek) Tawangharjo, beserta anggota, serta masyarakat desa sekitar hutan. Tradisi bancaan diawali dengan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan sajian makanan tradisional sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta bentuk penghormatan terhadap alam yang telah memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Bancaan awal tebangan, merupakan salah satu kearifan lokal yang masih dijaga oleh masyarakat sekitar hutan. Tradisi ini mencerminkan harmonisasi hubungan antara manusia dan alam, sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap aktivitas pemanfaatan sumber daya hutan harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan kehati-hatian.
Administratur KPH Purwodadi, melalui Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Pojok, Bambang, menyampaikan bahwa kegiatan bancaan ini merupakan bentuk komitmen Perhutani, dalam menghormati nilai-nilai budaya masyarakat sekitar hutan.
“Tradisi bancaan ini, bukan sekadar seremonial, tetapi memiliki makna mendalam sebagai wujud rasa syukur, permohonan keselamatan, serta upaya menjaga hubungan harmonis antara Perhutani, masyarakat, dan alam. Kami berharap kegiatan tebangan dapat berjalan lancar, aman, serta tetap memperhatikan prinsip kelestarian hutan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kepolisian Sektor Tawangharjo, AKP Sartono, mengapresiasi sinergi yang terjalin antara Perhutani, aparat keamanan, dan masyarakat.
“Kami mendukung penuh kegiatan ini sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus memperkuat kebersamaan. Kehadiran kepolisian juga untuk memastikan kegiatan berjalan aman dan kondusif, serta mempererat komunikasi dengan masyarakat sekitar hutan,” tuturnya.
Perwakilan masyarakat desa sekitar hutan, Darmono, mengungkapkan bahwa tradisi bancaan telah dilakukan secara turun-temurun oleh para leluhur.
“Bancaan ini, merupakan warisan budaya yang selalu kami jaga. Selain sebagai doa agar pekerjaan tebangan berjalan lancar, kegiatan ini juga menjadi simbol kebersamaan antara warga dan Perhutani. Kami berharap hutan tetap lestari dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, Perhutani, menegaskan komitmennya untuk terus mengedepankan pendekatan sosial dan budaya dalam setiap kegiatan pengelolaan hutan guna mewujudkan kelestarian hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. (Komp-PHT/Pwd/Aris).
Editor: Tri
Copyright © 2026