KEBONHARJO, PERHUTANI (08/02/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kebonharjo bersama Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Sale melaksanakan pelatihan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) bagi karyawan dan tenaga produksi. Kegiatan tersebut dilaksanakan di ruang rapat Kantor KPH Kebonharjo pada Jumat (06/02/2026).

Pelatihan ini bertujuan memberikan pemahaman dan keterampilan dalam memberikan pertolongan pertama secara cepat dan tepat untuk menyelamatkan nyawa, mencegah kecacatan, serta memberikan rasa nyaman sebelum bantuan medis profesional datang apabila terjadi kecelakaan kerja. Materi yang disampaikan meliputi Bantuan Hidup Dasar (BHD), penanganan luka, teknik evakuasi, serta penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).

Wakil Administratur KPH Kebonharjo, Yudi Susanto, menyampaikan harapannya agar pelatihan tersebut dapat meningkatkan kesadaran dan keterampilan seluruh karyawan, baik yang bertugas di kantor maupun di lapangan, serta tenaga produksi dalam menghadapi situasi darurat.

Ia juga berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin guna memperbarui pengetahuan dan keterampilan peserta.

“Kegiatan pelatihan ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi karyawan dalam melaksanakan pekerjaan sehari-hari, sehingga semakin siap menghadapi risiko kecelakaan di lingkungan kerja dan mampu memberikan pertolongan awal secara cepat dan tepat,” ujar Yudi Susanto.

Pemateri dari Puskesmas Sale, Sri Sugiharti, menekankan pentingnya kemampuan P3K bagi seluruh karyawan, terutama yang bertugas di lapangan maupun tenaga produksi. Menurutnya, dengan keterampilan P3K, karyawan dapat memberikan pertolongan dini yang sangat dibutuhkan sebelum tenaga medis tiba.

“Pelatihan ini menjadi bekal yang sangat berguna karena kita tidak pernah mengetahui kapan kondisi darurat akan terjadi. Semua karyawan, baik yang bertugas di kantor maupun di lapangan, perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan ini agar dapat sigap dalam membantu,” ungkap Sri Sugiharti.

Kegiatan berlangsung dengan serius namun tetap interaktif. Para peserta terlihat antusias mengikuti materi dan aktif dalam sesi tanya jawab. Selain penyampaian materi teoretis, pelatihan juga mencakup simulasi sederhana terkait kondisi darurat, seperti penanganan luka ringan, pendarahan, serta cara menggunakan APD yang benar.

Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta adalah praktik penanganan patah tulang. Peserta diberikan kesempatan mempraktikkan teknik imobilisasi menggunakan alat sederhana yang tersedia. Hal tersebut bertujuan agar peserta siap mengambil tindakan secara tepat dalam kondisi nyata. (Kom-PHT/Kbh/Ari)

Editor: Tri
Copyright © 2026