Kegiatan pembinaan yang berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan ini difokuskan bagi para penyadap yang beroperasi di kawasan hutan petak 64 dan petak 63, Kepala Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Citepus. Lokasi pertemuan bertempat di kediaman Daryatno, salah satu tokoh penyadap setempat yang juga bertindak sebagai tuan rumah sekaligus perwakilan para pekerja penyadap.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Administratur, KPH Banyumas Barat, yang diwakili oleh Kepala BKPH Bokol, Sugeng Suyatno. Turut mendampingi Kepala RPH Citepus, Aminoto, beserta jajaran petugas lapangan lainnya.
Dalam arahannya, Kepala BKPH Bokol, Sugeng Suyatno, menyampaikan pesan dari Administratur KPH Banyumas Barat, mengenai pentingnya menjaga kualitas getah pinus agar tetap memenuhi standar industri.
Ia, menekankan bahwa penyadap merupakan ujung tombak perusahaan dalam pencapaian target produksi tahunan.
“Pembinaan ini, bukan sekadar rutinitas, melainkan ruang diskusi untuk mengevaluasi teknik penyadapan yang selama ini dilakukan. Kami ingin memastikan para penyadap menggunakan metode yang benar, yakni teknik ‘koakan’ yang sesuai aturan agar kelestarian pohon tetap terjaga, namun produksi getah tetap optimal,” ujarnya.
Selain aspek teknis, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan getah dari kotoran seperti tatal kayu atau air hujan, karena kualitas getah yang bersih akan sangat menentukan nilai jual dan efisiensi pengolahan di pabrik.
Kepala RPH Citepus, Aminoto, menambahkan bahwa selain produktivitas, faktor keselamatan dan kesehatan kerja (K3) menjadi prioritas utama. Mengingat medan di petak 63 dan 64, yang cukup menantang, para penyadap diimbau untuk selalu waspada terhadap cuaca ekstrem dan kondisi lapangan.
“Kami ingin bapak-bapak semua bekerja dengan aman. Selain itu, kami titip pesan agar para penyadap juga turut menjadi mata dan telinga kami dalam menjaga hutan. Jika melihat hal-hal yang mencurigakan seperti gangguan keamanan hutan atau titik api, segera laporkan,” tambahnya.
Sementara itu, perwakilan penyadap sekaligus tuan rumah, Daryatno, menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan oleh manajemen Perhutani. Menurutnya, dialog langsung seperti ini sangat membantu para penyadap dalam memahami regulasi perusahaan sekaligus menyampaikan kendala yang dihadapi di lapangan.
“Kami sangat senang dengan kehadiran pihak Perhutani, di tengah kami. Pembinaan ini, membuat kami lebih paham bagaimana cara menyadap yang efektif tanpa merusak pohon. Kami berkomitmen untuk terus mendukung Perhutani, demi kesejahteraan bersama sebagai masyarakat yang menggantungkan hidup dari hutan,” ungkapnya.
Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi interaktif dan penyerahan simbolis alat kelengkapan kerja. Dengan adanya pembinaan ini, diharapkan target produksi getah di RPH Citepus, khususnya dari petak 63 dan 64, dapat tercapai secara maksimal pada tahun 2026, dengan tetap menjaga keseimbangan ekosistem hutan yang berkelanjutan. (Kom-PHT/Byb/Twn).